batampos- Minimnya penggunaan uang logam sebagai alat transaksi di Kabupaten Kepulauan Anambas menjadi sorotan tajam dari Bank Indonesia (BI).
Fenomena ini terungkap dalam kegiatan sosialisasi Cinta, Bangga, Paham Rupiah yang dilaksanakan di Kantor Camat Siantan, Rabu (23/7).
Ketua Tim Ekspedisi BI Kepulauan Riau, Sofyan Hadi, menyatakan bahwa pihaknya telah berulang kali menyampaikan pentingnya penggunaan uang logam dalam transaksi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa selama uang logam masih layak edar dan belum dicabut dari peredaran, maka koin tersebut sah sebagai alat pembayaran.
“Uang logam tetap merupakan alat transaksi resmi yang harus dihargai. Tapi sayangnya, kami masih menemukan masyarakat dan pedagang di Anambas yang enggan menerimanya,” ujar Sofyan.
Tim BI pun telah melakukan survei lapangan guna menggali penyebab rendahnya pemakaian uang logam.
Salah satu temuan utama adalah kecenderungan pedagang untuk membulatkan harga barang ke atas, guna menghindari penggunaan koin sebagai kembalian.
“Contohnya, barang seharga Rp10.300 sering dibulatkan menjadi Rp11.000. Ini jelas merugikan pembeli dan bertentangan dengan prinsip transaksi yang adil,” jelas Soyfan.
Ironisnya, BI bahkan pernah mendistribusikan uang logam secara gratis kepada pedagang dan masyarakat Anambas sebagai bagian dari upaya edukasi dan pembiasaan. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
“Alih-alih dimanfaatkan, uang logam yang kami bagikan justru dibuang oleh sebagian pedagang. Ini sangat disayangkan dan mencerminkan kurangnya kesadaran terhadap nilai uang logam,” kata Sofyan.
Sofyan mengingatkan bahwa penolakan terhadap uang logam berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang lebih luas.
Ia mengkhawatirkan harga barang-barang akan naik secara drastis apabila kebiasaan pembulatan harga terus berlangsung.
“Jika uang logam terus diabaikan, maka pembulatan harga akan menjadi praktik umum. Ini bisa mendorong kenaikan harga secara tidak wajar dan pada akhirnya merugikan masyarakat sendiri,” tegasnya.
Karena kondisi ini pula, dalam ekspedisi kali ini Bank Indonesia tidak membawa uang logam untuk didistribusikan di Anambas.
“Kami sesuaikan dengan kenyataan di lapangan. Jika uang logam tidak digunakan, maka distribusinya pun kami tunda,” katanya.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, BI kembali menegaskan pentingnya seluruh lapisan masyarakat untuk mulai membiasakan kembali penggunaan uang logam.
Uang logam, kata Sofyan, bukan hanya alat tukar, tapi juga bagian penting dari sistem ekonomi dan kestabilan harga.
“Kami mengajak masyarakat Anambas untuk kembali menghargai seluruh pecahan Rupiah, termasuk uang logam. Ini demi keadilan transaksi dan kestabilan ekonomi daerah,” pungkasnya. (*)
Editor : Tunggul Manurung