batampos- SMP Negeri 3 Putik merayakan hari jadinya yang ke-19 dengan cara yang berbeda dan bermakna, Sabtu (11/10).
Tidak ada pesta, panggung hiburan, atau perlombaan siswa. Tahun ini, sekolah tersebut memilih merayakan ulang tahunnya melalui aksi nyata untuk bumi.
Sekolah yang berdiri sejak 10 Oktober 2006 ini mengusung tema “Cinta Lingkungan, Cinta Bumi” sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan hidup alam.
Bagi mereka, bumi bukan sekadar tempat berpijak, tetapi rumah besar yang harus dijaga bersama.
Kegiatan peringatan hari jadi ini disejalankan dengan World Clean Up Day 2025, gerakan global yang melibatkan jutaan orang di seluruh dunia dalam aksi bersih-bersih lingkungan.
Di SMP Negeri 3 Putik, kegiatan tersebut diikuti oleh siswa, guru, dan masyarakat sekitar Desa Putik.
Ketua Tim Adiwiyata SMP Negeri 3 Putik, Sariana, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran berbasis lingkungan yang menjadi ciri khas sekolah tersebut.
Sebagai sekolah Adiwiyata, seluruh kegiatan belajar mengajar diarahkan agar siswa memiliki karakter peduli lingkungan.
“Sebagai sekolah Adiwiyata, kami ingin anak-anak tidak hanya belajar teori di kelas, tapi juga memahami bagaimana menjaga alam dengan tindakan nyata. Pendidikan lingkungan harus hidup di keseharian mereka,” ujar Sariana.
Dalam aksi tersebut, siswa tidak hanya membersihkan lingkungan sekolah dan sekitar permukiman, tetapi juga memberikan edukasi dan pelatihan pengolahan sampah organik menjadi eco-enzym.
Kegiatan ini dikemas secara interaktif agar masyarakat dapat langsung memahami prosesnya.
Pelatihan ini menyasar ibu-ibu PKK Desa Putik, yang selama ini menjadi motor penggerak kegiatan rumah tangga dan kebersihan lingkungan.
Melalui pelatihan tersebut, para ibu diajak memanfaatkan limbah dapur seperti kulit buah dan sayur menjadi cairan serbaguna yang ramah lingkungan.
Sariana menjelaskan bahwa eco-enzym memiliki banyak manfaat, mulai dari pembersih alami, pupuk tanaman, hingga pengusir serangga.
“Dengan cara ini, sampah organik tidak lagi dianggap kotor, tetapi menjadi sumber manfaat. Ini langkah kecil yang bisa memberi dampak besar,” katanya.
Warga Desa Putik menyambut baik kegiatan ini. Banyak yang mengaku baru mengetahui bahwa sampah rumah tangga dapat diolah kembali menjadi produk berguna tanpa perlu biaya besar.
Semangat gotong royong terlihat dari antusiasme warga mengikuti setiap tahap pelatihan.
Selain edukasi dan pelatihan, kegiatan juga diisi dengan penanaman pohon di halaman sekolah dan beberapa titik strategis di sekitar desa.
Penanaman pohon ini menjadi simbol harapan agar bumi tetap hijau dan generasi muda tumbuh dengan kesadaran menjaga alam.
Momentum ulang tahun ke-19 ini bukan hanya menjadi perayaan perjalanan panjang SMP Negeri 3 Putik, tetapi juga menjadi tonggak baru bagi dunia pendidikan di Anambas dalam menanamkan nilai-nilai cinta lingkungan sejak dini.
Sekolah ini ingin membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil.
Dari ujung perbatasan nusantara, semangat hijau itu berkobar. SMP Negeri 3 Putik menegaskan bahwa menjaga bumi adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab bersama.
Dengan kolaborasi sekolah, masyarakat, dan pemerintah, Kepulauan Anambas siap menjadi paru-paru dunia — penjaga napas kehidupan dari timur negeri ini. (*)
Editor : Tunggul Manurung