batampos – Pembangunan jalan lintas yang menghubungkan Desa Putik dan Desa Langir, Kecamatan Palmatak, Kabupaten Kepulauan Anambas, akhirnya terealisasi. Akses yang selama ini dinantikan warga kini resmi terbuka dan sudah dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Sebelumnya, warga kedua desa harus memutar jauh untuk saling terhubung karena melewati jalur alternatif dengan jarak cukup jauh dan kondisi kurang memadai. Dampaknya dirasakan pada berbagai aktivitas, mulai dari mengantar anak sekolah, membawa hasil kebun, hingga mengakses layanan kesehatan.
“Dulu jalan susah, harus mutar jauh, kadang mau antar anak sekolah susah payah,” ujar Herman, warga Desa Langir, Jumat (13/2).
Menurutnya, usulan pembangunan jalan ini sudah disampaikan sejak 2015, namun baru terealisasi tahun ini.
Pembangunan jalan tersebut dilaksanakan oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) setelah adanya arahan dari Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono.
Warga menyambut baik rampungnya proyek tersebut karena dinilai meningkatkan konektivitas antar desa di Kecamatan Palmatak. Dengan akses yang lebih baik, mobilitas masyarakat menjadi lebih cepat dan efisien. Distribusi hasil pertanian, perkebunan, serta kebutuhan pokok pun semakin lancar.
Proyek jalan lintas ini dikerjakan oleh CV Bintang Laut Mandiri dengan anggaran sekitar Rp14 miliar yang bersumber dari APBN 2025. Masa pengerjaan proyek tercatat selama 29 hari.
Kontraktor pelaksana, Celly, mengungkapkan proses pembangunan tidak sepenuhnya berjalan mulus. Sehari setelah penandatanganan kontrak, pihaknya langsung membeli material sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB) awal untuk mengejar waktu dan mengantisipasi cuaca ekstrem yang dapat menghambat pengiriman dari Batam.
Material yang dibeli antara lain besi dipar, besi sambungan tengah, kerikil, FC ukuran 10, FC ukuran 30, serta wermes (wiremesh) sebagai penguat struktur beton.
Namun di tengah pengerjaan, BPJN melakukan revisi konstruksi. Perubahan tersebut membuat sebagian material, seperti wermes, tidak lagi digunakan karena struktur jalan dinilai sudah cukup kuat dengan lapisan FC ukuran 10 dan FC ukuran 30.
“Kalau tidak gunakan wermes, kami yang dirugikan, bukan masyarakat. Kita beli pakai uang pribadi,” ujar Celly.
Meski menghadapi kendala tersebut, proyek akhirnya rampung tepat waktu dan kini manfaatnya telah dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. (*)
Editor : Jamil Qasim