Batampos - Jarak Kabupaten Kepulauan Anambas yang cukup jauh dari daerah penghasil telur ayam menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat.
Ketergantungan pada pasokan dari luar daerah kerap memicu kelangkaan dan kenaikan harga, terutama saat cuaca buruk menghambat pengiriman.
Kondisi tersebut mendorong sejumlah desa mulai mengembangkan peternakan ayam petelur secara mandiri. Salah satunya dilakukan oleh Desa Pesisir Timur, Kecamatan Siantan.
Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Desa Pesisir Timur memulai usaha peternakan ayam petelur sebagai langkah awal mewujudkan swasembada telur. Program ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan di tingkat desa.
Pada tahap awal, BUMDes setempat mendatangkan 400 bibit ayam petelur. Ayam-ayam tersebut dipelihara sejak usia dini, bukan dalam kondisi siap bertelur.
Namun dalam perjalanannya, tidak semua bibit ayam mampu bertahan hidup. Dari 400 ekor yang didatangkan, saat ini tersisa 333 ekor ayam.
Pengelola Ayam Petelur Desa Pesisir Timur, Yoga Syahputra, mengatakan kematian ayam terjadi akibat beberapa faktor teknis. Terutama karena perubahan suhu dan seringnya terjadi pemadaman listrik.
“Yang lain mati karena faktor suhu dan sering mati lampu. Matinya banyak di bawah umur satu bulan. Kita beternak dari bibitnya, bukan langsung indukan, jadi perawatannya memang lebih ekstra,” ujar Yoga, Kamis (19/2/2026).
Menurut Yoga, listrik sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit ayam, terutama untuk menjaga suhu kandang tetap stabil. Saat listrik padam, suhu kandang menurun dan membuat anak ayam rentan sakit hingga mati.
Meski sempat mengalami kendala, peternakan ayam petelur tersebut kini telah berjalan selama empat bulan. Sejumlah ayam bahkan sudah mulai memasuki masa produksi dan menghasilkan telur.
“Sekarang sudah masuk bulan keempat. Sudah ada beberapa ayam yang mulai bertelur. Memang belum maksimal, tapi ini jadi tanda awal yang baik untuk ke depan,” kata Yoga.
Ia menjelaskan, produksi telur saat ini masih dalam tahap awal sehingga jumlahnya belum banyak. Namun ke depan, saat seluruh ayam memasuki masa produktif, hasil telur diperkirakan akan meningkat secara bertahap.
Sementara itu, Kepala Desa Pesisir Timur, Sabli, mengatakan program peternakan ayam petelur ini merupakan langkah awal desa untuk mandiri dalam pemenuhan kebutuhan telur.
Menurutnya, selama ini pasokan telur di wilayahnya sering mengalami keterlambatan karena faktor cuaca. Telur yang didatangkan dari Bintan kerap terhambat pengirimannya saat gelombang tinggi.
“Telur di tempat kita sering putus karena faktor cuaca. Pengiriman dari Bintan terhambat, sehingga kita buat terobosan dengan beternak sendiri,” ujar Sabli.
Sabli menambahkan, anggaran program peternakan ayam petelur ini bersumber dari Dana Desa. Hal tersebut sesuai dengan instruksi pemerintah pusat yang mengarahkan 20 persen Dana Desa untuk mendukung program ketahanan pangan.
“Ini bagian dari kebijakan pusat, di mana 20 persen Dana Desa dialokasikan untuk ketahanan pangan. Kami manfaatkan untuk usaha ayam petelur agar desa bisa lebih mandiri dan tidak terlalu bergantung pada pasokan luar,” tegas Sabli. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak