Batampos - Lomba pawai takbir yang digelar Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kabupaten Kepulauan Anambas menjadi sorotan masyarakat, khususnya dari Pulau Jemaja dan Matak.
Kegiatan ini dinilai belum mengakomodir seluruh wilayah di Anambas, meski menawarkan hadiah terbesar sepanjang pelaksanaan pawai takbir di daerah tersebut.
Total hadiah yang disiapkan panitia mencapai Rp24 juta, dengan rincian Rp12 juta untuk juara I, Rp7 juta juara II, dan Rp5 juta juara III.
Besarnya hadiah ini menarik perhatian masyarakat, namun pelaksanaan lomba hanya dipusatkan di Lapangan Sulaiman Abdullah, Kelurahan Tarempa, Kecamatan Siantan.
Kondisi tersebut membuat warga di luar Pulau Siantan, seperti Jemaja dan Matak, tidak dapat berpartisipasi secara langsung dalam perlombaan tersebut.
Warga Jemaja, Ibrahim, menilai kegiatan tersebut seharusnya dapat diikuti oleh seluruh masyarakat Anambas tanpa terkecuali.
“Seharusnya pawai takbir ini terbuka untuk seluruh masyarakat Anambas. Karena Jemaja dan Matak ini masih bagian dari Anambas, bukan hanya Siantan,” kata Ibrahim, Selasa (17/3/2026).
Ia menyarankan agar panitia dapat menyesuaikan konsep kegiatan jika terkendala jarak antarwilayah.
“Kalau alasan jarak, seharusnya lokasi lomba bisa dibuat di tiga tempat, yakni Siantan, Jemaja, dan Matak, sehingga semua masyarakat bisa ikut serta,” ujar Ibrahim.
Menurutnya, sistem penilaian juga dapat diserahkan kepada tokoh agama atau pihak kecamatan di masing-masing wilayah, kemudian dirangking untuk menentukan pemenang.
Ibrahim berharap panitia, khususnya Bagian Kesra, dapat mempertimbangkan perubahan tersebut mengingat waktu pelaksanaan masih tersisa beberapa hari.
Menanggapi hal itu, Kepala Bagian Kesra Kepulauan Anambas, Yandri Yanto, menegaskan bahwa ketentuan lomba tidak dapat diubah karena persiapan sudah hampir rampung.
Baca Juga: Antisipasi Lonjakan Pemudik, Gubernur Ansar Minta Tambah Kapal KPLP
“Kalau dirubah ketentuannya sudah tidak bisa, mungkin usulan ini kita terima namun pelaksanaannya di tahun depan,” ujar Yandri.
Ia menjelaskan, pelaksanaan lomba di beberapa lokasi berpotensi menimbulkan kendala dalam hal transparansi penilaian.
“Kalau di tiga lokasi, peserta tidak bisa melihat langsung kualitas lawannya, dan penilaian juri bisa berbeda-beda meskipun sudah diberikan arahan sebelumnya,” jelasnya.
Yandri menambahkan, pihaknya sempat mempertimbangkan pengurangan total hadiah menjadi Rp19 juta untuk efisiensi anggaran, namun rencana tersebut dibatalkan.
“Sebenarnya kami mau pangkas total hadiah jadi Rp19 juta karena efisiensi, tapi tidak jadi, tetap kita paksakan Rp24 juta,” pungkasnya. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak