Batampos - Halaman Mapolres Kepulauan Anambas tidak seperti biasanya siang di Selasa, (31/3/2026). Langkah-langkah kaki personil polisi yang biasanya terdengar tegas mendadak melambat, bahkan seakan berhenti.
Suasana berubah hening ketika seorang wanita paruh baya berdiri di tengah jalan, menghadang sebuah mobil dinas yang baru saja bergerak.
Wanita itu bernama Helin. Wajahnya lelah, matanya sembab, dan napasnya tersengal seperti menahan beban yang terlalu lama dipikul sendirian. Dengan keberanian yang tersisa, ia menghentikan mobil Suzuki Grand Vitara yang ditumpangi Kapolres Anambas, AKBP I Gusti Ngurah Agung Budianaloka.
Tak ada teriakan marah. Tak ada amarah yang meledak. Yang ada hanya suara lirih yang patah-patah, penuh harap sekaligus putus asa.
Helin datang bukan tanpa alasan. Ia membawa keresahan yang telah menggerogoti hatinya selama lebih dari sebulan. Anak laki-lakinya, Deni Saputra, hilang tanpa kabar sejak penggerebekan narkoba oleh polisi di sebuah kos-kosan di Desa Tarempa Barat pada 22 Februari lalu.
Sejak hari itu, hidup Helin seperti terhenti. Hari-harinya diisi dengan menunggu, menebak, dan berharap—tanpa kepastian sedikit pun.
“Tolong lah pak, sudah lebih sebulan anak saya tidak tahu keberadaannya. Apa sudah mati atau masih hidup,” ucap Helin dengan suara bergetar di hadapan Kapolres. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung.
Baca Juga: 190 Kali Kebakaran Dalam Tiga Bulan, 85 Hektare Lahan Terbakar di Karimun
Bagi Helin, apapun kondisi anaknya, ia hanya ingin satu hal yakni kepastian. Ia tidak menolak jika anaknya harus berhadapan dengan hukum. Bahkan, dengan tegas ia mengatakan siap menerima kenyataan itu.
“Kalau saya tahu wujud anak saya baru tenang. Kalau dipenjara, senang saya hantarkan makanannya. Kalau dia meninggal, bisa dibuat acara duka,” katanya lirih, seolah setiap kata adalah luka yang kembali terbuka.
Di balik semua itu, Helin tetap seorang ibu. Sosok yang tak pernah berhenti mencintai anaknya, bahkan ketika dunia mungkin telah memberi cap buruk.
Deni Saputra sendiri diketahui sebagai pemasok narkoba jenis sabu di wilayah Tarempa. Namanya mencuat setelah empat orang tersangka, Yan, Tik, Saf, dan Dik, diamankan polisi dan mengaku mendapatkan barang haram tersebut darinya.
Namun saat polisi mendatangi rumahnya untuk melakukan penangkapan, Deni sudah lebih dulu menghilang. Sejak saat itu, jejaknya seakan lenyap tanpa bekas.
Bagi aparat penegak hukum, Deni adalah buronan. Tapi bagi Helin, ia tetap anak yang dulu pernah digendong, dibesarkan, dan dipanggil dengan penuh kasih.
Di sela tangisnya, Helin menceritakan hal yang semakin membuat hatinya teriris. Anak bungsunya, Cia, mengaku pernah didatangi Deni dalam mimpi. Dalam mimpi itu, Deni datang sambil menangis. Ia ingin pulang, tetapi takut—takut dimarahi ibunya, dan takut ditangkap polisi.
“Ko Den bilang dia salah, mau pulang, mau ketemu emak,” cerita Helin, mengulang ucapan anaknya. Suaranya semakin pelan, seakan tak sanggup menahan perasaan.
Mimpi itu mungkin hanya bunga tidur. Tapi bagi seorang ibu yang kehilangan kabar anaknya, hal sekecil apa pun bisa menjadi harapan.
Helin juga menaruh kecurigaan pada menantunya, Claudia, istri Deni. Ia merasa ada hal yang tidak biasa sejak Deni menghilang.
Menurutnya, Claudia terlihat menjalani hari-hari seperti biasa, tanpa menunjukkan kesedihan yang mendalam. Hal itu membuat Helin semakin resah.
Baca Juga: Penduduk Batam Tembus 1,39 Juta Jiwa, Disdukcapil Genjot KIA dan IKD
“Coba gali informasi dari Claudia pak. Mungkin dia tahu keberadaan anak saya. Saya sudah resah, namanya anak dan ibu pasti tak terpisahkan,” pintanya penuh harap.
Menanggapi hal itu, Kapolres AKBP I Gusti Ngurah Agung Budianaloka mencoba menenangkan Helin. Ia memastikan bahwa pihaknya tidak tinggal diam.
“Ibu tenang dulu, saya sudah minta Kasat Narkoba untuk terus lakukan pengejaran. Nanti Claudia kita panggil untuk ditanya,” ujar Kapolres dengan nada tegas namun menenangkan.
Komitmen itu menjadi satu-satunya pegangan bagi Helin saat ini. Di tengah ketidakpastian yang menghimpit, ia hanya bisa berharap ada kabar, sekecil apa pun.
Kapolres juga mengimbau masyarakat untuk turut membantu. Siapa pun yang mengetahui keberadaan Deni Saputra diminta segera melapor kepada pihak kepolisian.
Bagi masyarakat, ini mungkin hanya satu dari sekian banyak kasus. Namun bagi Helin, ini adalah tentang darah dagingnya sendiri, tentang anak yang keberadaannya kini hanya menjadi tanda tanya.
Di bawah langit Anambas yang terik, seorang ibu berdiri dengan hati yang remuk, menunggu jawaban yang tak kunjung datang. Ia tidak meminta banyak, hanya ingin tahu, apakah anaknya masih bernapas di dunia ini, atau telah pergi tanpa sempat mengucap perpisahan. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak