Batampos - Musim kemarau yang melanda Kabupaten Kepulauan Anambas mulai berdampak pada ketersediaan air bersih di Pulau Siantan. Dalam sebulan terakhir, dua sumber air utama mengalami penyusutan debit yang cukup signifikan.
Kondisi ini dipicu oleh minimnya curah hujan yang turun di wilayah tersebut. Akibatnya, pasokan air bersih untuk kebutuhan masyarakat mulai terbatas.
Kepala Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Kepulauan Anambas, Arif Gunawan, mengatakan dua sumber air yang terdampak berada di Gunung Samak dan Embung Gunung Lintang.
Menurut Arif, saat ini volume air di penampungan Gunung Samak hanya tersisa sekitar 30 ribu ton. Jumlah tersebut menurun drastis dibandingkan kondisi normal yang bisa mencapai 60 ribu ton.
Baca Juga: Atasi Krisis Air di Seri Kuala Lobam,Pemerintah Targetkan 2 Pekan Sumur Bor Beroperasi
Sementara itu, sumber air di Embung Gunung Lintang juga mengalami penurunan yang lebih tajam. Dari kapasitas normal 20 ribu ton, kini hanya tersisa sekitar 6 ribu ton.
“Untuk sumber air di Gunung Samak saat ini hanya tersisa sekitar 30 ribu ton dari kondisi normal 60 ribu ton. Sementara di Embung Gunung Lintang tinggal 6 ribu ton dari biasanya 20 ribu ton,” ujar Arif Gunawan, Selasa (31/3/2026).
Meski demikian, pihak SPAM masih terus berupaya mendistribusikan air kepada masyarakat. Distribusi dilakukan melalui jaringan pipa paralel dari waduk menuju rumah-rumah warga.
Namun, keterbatasan debit air membuat jam distribusi harus dikurangi. Hal ini dilakukan agar pasokan tetap bisa menjangkau seluruh pelanggan meski dalam kondisi terbatas.
Arif menjelaskan, sebelumnya distribusi air dilakukan pada pagi dan sore hari dengan durasi yang lebih panjang. Kini, waktu pengaliran air harus dipersingkat.
“Biasanya kita alirkan air pagi dan sore dengan durasi lebih lama. Sekarang terpaksa kita kurangi, seperti di wilayah Tarempa Selatan Rintis dari 2 jam menjadi sekitar 1,5 jam,” jelasnya.
Selain melalui jaringan pipa, SPAM juga menyiapkan alternatif distribusi menggunakan mobil tangki. Cara ini dilakukan jika kondisi air di waduk semakin menurun.
Petugas akan turun langsung ke pemukiman warga untuk menyalurkan air bersih. Masyarakat juga diarahkan untuk mengambil air di titik-titik tertentu yang telah disiapkan.
“Kalau kondisi semakin kering, kami akan turunkan mobil tangki ke pemukiman warga dan siapkan titik-titik pengambilan air untuk masyarakat,” kata Arif.
Arif menambahkan, kondisi debit air sebenarnya masih bisa kembali meningkat apabila terjadi hujan dengan intensitas yang cukup tinggi dan berlangsung lebih lama.
Namun hingga saat ini, hujan yang turun di wilayah tersebut masih sangat singkat dan belum mampu menambah cadangan air secara signifikan.
“Selama ini hujan hanya sebentar, paling lama sekitar 10 menit, jadi belum cukup untuk menambah debit air di waduk,” tambahnya.
Pemerintah daerah melalui SPAM pun mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan air bersih selama musim kemarau berlangsung, guna menjaga ketersediaan air tetap mencukupi hingga kondisi kembali normal. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak