Batampos - Harapan warga Desa Bayat, Kecamatan Siantan Utara, untuk lepas dari keterisolasian yang selama ini membelenggu, kini mulai menemukan titik terang.
Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) yang dijalankan Kodim 0318/Natuna membuka akses darat yang menghubungkan Bayat dengan Desa Piasan hingga Mubur, sesuatu yang selama ini hanya menjadi angan-angan.
Selama bertahun-tahun, Desa Bayat hidup dalam keterbatasan akses. Letaknya di Pulau Mubur membuat warga hanya bergantung pada jalur laut untuk beraktivitas. Tidak ada pilihan lain, selain menantang gelombang setiap kali ingin keluar desa.
Tokoh masyarakat setempat, Agus, menyebut kondisi ini sudah lama dirasakan warga sebagai ketimpangan dibanding desa lain di Kepulauan Anambas yang lebih dulu terhubung akses darat.
"Bayat ini berada di Pulau Mubur. Seluruh desa yang ada sudah terhubung akses daratnya. Cuma kita yang belum," ujar Agus kepada Batam Pos, Rabu, (22/4/2026).
Baca Juga: TMMD 2026 Libatkan 150 Personel TNI di Anambas Sasar Air Bersih dan Ketahanan Pangan
Ketergantungan terhadap laut bukan perkara mudah. Untuk mengurus dokumen penting seperti KTP, KK, atau keperluan administrasi lainnya, warga harus menuju kantor kecamatan di Pian Pasir dengan menggunakan perahu kecil atau pompong.
Perjalanan tersebut bisa memakan waktu cukup lama, tergantung kondisi cuaca.
Saat laut tenang, perjalanan mungkin terasa biasa. Namun ketika angin kencang datang dan ombak meninggi, perjalanan berubah menjadi pertaruhan keselamatan.
Tak jarang warga harus menunda urusan penting karena cuaca tidak memungkinkan. Bahkan ada yang memilih mengurungkan niat karena khawatir dengan risiko di tengah laut.
Situasi paling menyentuh terlihat pada anak-anak sekolah. Demi mendapatkan pendidikan, mereka harus menyeberang ke Piasan menggunakan transportasi laut setiap hari.
"Yang kasian anak-anak, mau sekolah harus gunakan transportasi laut ke Piasan. Kalau cuaca buruk, anak kami harus melawan ombak," jelas Agus.
Kekhawatiran orang tua pun tak pernah hilang. Setiap anak berangkat sekolah, ada rasa cemas yang menyertai. Ombak dan angin menjadi ancaman yang tak bisa diprediksi.
Harapan untuk memiliki akses darat sebenarnya sudah lama diperjuangkan. Warga berulang kali mengusulkan pembangunan jalan kepada pemerintah daerah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.
Namun, usulan itu kerap kandas karena keterbatasan anggaran. Warga hanya bisa menunggu, tanpa kepastian kapan perubahan akan datang.
Hingga akhirnya, program TMMD dari TNI AD hadir membawa jawaban. Pembukaan jalan darat menjadi awal dari perubahan besar yang selama ini dinantikan masyarakat Bayat.
Baca Juga: TMMD Buka Akses Jalan Desa Terisolir Desa Bayat di Siantan Utara
"Alhamdulillah sekarang bisa terwujud akses daratnya melalui TNI AD. Kami warga mendukung, saking mendukungnya, kami ikut gotong royong untuk bantu buka jalan," ungkap Agus.
Warga tidak tinggal diam. Mereka ikut terlibat langsung dalam proses pembukaan jalan, bekerja bersama prajurit TNI dengan semangat gotong royong yang kuat.
Kebersamaan itu menjadi pemandangan yang menghangatkan. Jalan yang dibuka bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang harapan dan masa depan yang perlahan dibangun bersama.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Agus bahkan menghibahkan lahan miliknya seluas tiga hektare kepada TNI AD. Lahan tersebut akan dimanfaatkan untuk pembangunan Koperasi Merah Putih (KMP) yang diharapkan menjadi pusat kegiatan ekonomi warga.
Menurut Agus, koperasi ini nantinya akan membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok sekaligus menjadi wadah untuk mengembangkan usaha kecil warga, seperti hasil laut dan produk lokal lainnya.
"Saya ikhlas menghibahkan lahan itu untuk kepentingan masyarakat. Harapan saya, koperasi ini bisa membantu perekonomian warga agar lebih sejahtera," ujar Agus.
Kini, perubahan itu mulai terasa. Jalan yang tengah dibuka menjadi simbol bahwa Desa Bayat tidak lagi sendiri. Akses yang dulu tertutup perlahan terbuka, membawa harapan baru bagi seluruh warga.
“Kalau jalan ini sudah selesai, kami tidak lagi terisolir. Anak-anak kami bisa sekolah dengan aman, dan hidup kami pasti akan lebih baik,” tutup Agus penuh harap. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak