batampos – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sony Sonjaya, mengungkapkan hasil laboratorium terkait dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar di Kabupaten Anambas telah keluar. Namun, ia menegaskan tidak memiliki kewenangan untuk menyampaikan hasil pemeriksaan tersebut kepada publik.
“Sudah ada hasil laboratoriumnya, tapi bukan kapasitas saya menjelaskan hasilnya,” ujar Sony, Sabtu (23/5).
Meski hasil laboratorium telah diterima, BGN masih melakukan investigasi mendalam terkait insiden tersebut. Salah satu fokus evaluasi yakni operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan kepada para pelajar.
Sebagai langkah awal, dapur SPPG yang terlibat kini disuspensi sementara hingga proses investigasi selesai dilakukan.
“Suspensi itu artinya dihentikan sementara operasionalnya. Kami investigasi dulu penyebabnya, apakah karena fasilitas atau pelaksanaan SOP,” katanya.
Baca Juga: CitraLand Megah Luncurkan Pre-Launching Emerald Hills Tahap 2 Lewat Fun Run 5K di Batam
Sony menjelaskan, penghentian operasional dapur tidak selalu berlangsung lama. Jika permasalahan dinilai ringan dan dapat segera diperbaiki, dapur bisa kembali beroperasi dalam waktu cepat. Namun jika berkaitan dengan fasilitas, proses perbaikan bisa memakan waktu lebih panjang.
“Kalau masalahnya bisa cepat diperbaiki, langsung bisa operasional kembali. Tapi kalau fasilitas yang harus diperbaiki, bisa dua minggu atau tiga minggu,” jelasnya.
Ia juga memaparkan, saat ini terdapat 238 dapur SPPG secara nasional dan sebanyak 232 di antaranya telah beroperasi. Dari jumlah tersebut, operasional terbanyak berada di Kota Batam.
Kasus dugaan keracunan ini sebelumnya menimpa sedikitnya 155 pelajar dari berbagai jenjang pendidikan, mulai PAUD hingga SMP di Kabupaten Anambas. Seluruh korban diketahui mengonsumsi makanan yang berasal dari satu dapur SPPG milik Yayasan Pangan Intan Permata.
Tak hanya pelajar, beberapa orang dewasa juga dilaporkan mengalami gejala serupa, meski kondisi mereka tidak separah para siswa.
Kasus pertama kali terdeteksi di SMP Negeri 1 Air Nangak, Desa Teluk Sunting. Tak lama kemudian, laporan serupa bermunculan dari sejumlah sekolah lain di wilayah Air Sena dan Air Asuk.
Para pelajar diketahui menyantap makanan sekitar pukul 10.00 WIB. Namun sekitar tiga jam setelahnya, mereka mulai mengalami gejala mual dan muntah.
Dinas Kesehatan sebelumnya telah mengambil sejumlah sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium. Sampel yang diuji meliputi sayur tumis, telur, tempe, nasi, hingga buah kelengkeng. Pemeriksaan dilakukan di BPOM dan laboratorium kesehatan di Batam. (*)
Editor : Putut Ariyo