Wave of Wall 2026, Batam Siap Jadi Panggung Seni Graffiti Dunia

Yashinta • Dipublikasikan Senin, 6 April 2026 | 11:01 WIB
Puluhan seniman graffiti dari berbagai negara dijadwalkan ambil bagian di International Graffiti Festival 2026: Wave of Wall.
Puluhan seniman graffiti dari berbagai negara dijadwalkan ambil bagian di International Graffiti Festival 2026: Wave of Wall.

 

batampos – Kota Batam bersiap menjadi sorotan dunia melalui gelaran International Graffiti Festival 2026: Wave of Wall. Puluhan seniman graffiti dari berbagai negara dijadwalkan ambil bagian, mengubah ruang-ruang urban menjadi kanvas raksasa penuh warna dan pesan visual.

Penanggung jawab acara, Agung, mengatakan Wave of Wall merupakan kolektif seni visual berbasis di Batam yang bertujuan mentransformasi wajah kota industri menjadi galeri terbuka.

“Kami ingin menghadirkan energi baru di ruang publik, mengubah dinding-dinding monoton menjadi medium ekspresi yang hidup,” ujarnya, Minggu (5/4).

Menurutnya, festival ini tidak sekadar perayaan seni, tetapi juga upaya membangun identitas baru Batam. Selama ini dikenal sebagai kota industri, Batam diharapkan mulai menegaskan diri sebagai kota dengan denyut seni urban yang kuat.

Festival akan digelar selama dua hari, 11–12 April 2026, di Nagoya City Walk, mengusung konsep Wall Invasion. Konsep ini dimaknai sebagai “serangan kreatif” yang melibatkan seniman lokal dan internasional untuk menghadirkan karya seni skala besar di berbagai titik kota.

“Istilah ‘invasion’ bukan dalam arti negatif, tetapi simbol bagaimana kami merebut kembali ruang visual kota dari kesan abu-abu menjadi lebih hidup dan penuh cerita,” jelas Agung.

Koordinator acara, Etek, menambahkan hari pertama akan dipusatkan di basement Nagoya City Walk dengan agenda graffiti jamming, uji coba spray painting, pameran seni, hingga penampilan musik dan DJ. Hari kedua akan diisi graffiti games, lomba skateboard, talkshow, serta pertunjukan musik lanjutan.

“Kami ingin ada ruang diskusi, bukan hanya pertunjukan. Karena graffiti adalah bagian dari budaya, bukan sekadar visual,” kata Etek.

Festival ini menghadirkan seniman internasional dari Prancis, Turki, India, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Di antaranya Potinword (Prancis), Kadirmersoy (Turki), Bongster (India), serta Kart dan Stranger (Singapura), juga 3top dan Khun (Thailand).

Agung menilai kehadiran seniman mancanegara menjadi ruang pertukaran ide dan teknik yang penting bagi perkembangan komunitas lokal.

“Ini momentum bagi seniman Batam untuk belajar langsung dan memperluas jaringan di tingkat internasional,” ujarnya.

Dari dalam negeri, sejumlah seniman juga turut ambil bagian, seperti Reaz (Yogyakarta), Mine (Kebumen), Lambok (Medan), serta seniman tuan rumah Stepone, Froston, dan Wepz.

Selain pameran dan pertunjukan seni, festival ini juga diramaikan berbagai aktivitas komunitas, mulai dari area uji coba spray painting, permainan skateboard dan fingerboard, live painting pada mobil, hingga pertemuan komunitas sepeda, Vespa, dan motor kustom. Kegiatan thrifting turut melengkapi rangkaian acara yang memadukan seni, gaya hidup, dan ekonomi kreatif.

Etek berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan yang memperkuat posisi Batam dalam peta seni urban global.

“Harapannya, ini bukan sekadar acara satu kali, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan yang menghidupkan ruang kota secara kreatif,” tutupnya. (*)

Editor : Jamil Qasim
Wave of Wall Graffiti Festival