Perang Iran–AS Bayangi Inflasi Batam, BPS Minta Waspada

Rengga Yuliandra • Dipublikasikan Minggu, 12 April 2026 | 14:20 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Eko Aprianto. F. Istimewa
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Eko Aprianto. F. Istimewa

batampos – Tekanan ekonomi global akibat konflik antara Iran dan Amerika Serikat mulai memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi di daerah, termasuk di Batam.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Eko Aprianto, mengatakan dampak langsung konflik global terhadap inflasi daerah belum dapat disimpulkan dalam waktu singkat.

“Untuk pengaruh inflasi setelah kurang lebih satu bulan perang, kita lihat nanti pergerakannya di April,” ujarnya, Minggu (12/4).

Baca Juga: Diplomasi Panas di Islamabad: Amerika Serikat–Iran Bertemu, Pakistan Dorong Perdamaian

Menurutnya, gejolak geopolitik biasanya memengaruhi inflasi melalui komponen pembentuk harga, terutama sektor transportasi.

“Pergerakan pada komponen seperti angkutan udara akan ikut memengaruhi inflasi,” jelasnya.

Inflasi Maret Masih Terkendali

Berdasarkan data BPS, inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Batam pada Maret 2026 tercatat sebesar 3,13 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 112,20.

Secara bulanan (month to month/m-to-m), inflasi berada di angka 0,11 persen, sementara inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) sebesar 0,47 persen.

Kenaikan harga terjadi di hampir seluruh kelompok pengeluaran, di antaranya:

- Makanan, minuman, dan tembakau: 3,16 persen
- Pakaian dan alas kaki: 1,96 persen
- Restoran: 3,70 persen
- Transportasi: 1,79 persen
- Perawatan pribadi dan jasa lainnya: 18,11 persen (tertinggi)

Baca Juga: Imbas Perang Iran, Harga Minyak Dunia Melonjak

Sejumlah komoditas penyumbang inflasi antara lain emas perhiasan, daging ayam ras, angkutan udara, beras, nasi dengan lauk, serta rokok kretek mesin.

Komoditas lain seperti daging sapi, telur ayam ras, ikan kembung, mie, dan sewa rumah juga turut memberi andil.

Tekanan Global Perlu Diwaspadai

Di sisi lain, beberapa komoditas menahan laju inflasi, seperti cabai merah, bawang merah, bensin, bawang putih, serta angkutan laut.

Secara bulanan, inflasi Maret dipicu kenaikan harga bensin, udang basah, daging ayam ras, hingga sayuran seperti kacang panjang dan bayam.

Meski demikian, Eko mengingatkan bahwa tekanan global tetap menjadi faktor risiko utama, terutama jika berdampak pada harga energi dan transportasi.

Baca Juga: 281 PMI Dipulangkan dari Malaysia, Dua Balita dan Satu Pasien Sakit Parah Dapat Penanganan Khusus

“Semua akan sangat tergantung pada bagaimana perkembangan ekonomi global ke depan,” ujarnya.

Dengan kondisi global yang masih dinamis, arah inflasi Batam dalam beberapa bulan mendatang sangat bergantung pada perkembangan konflik internasional serta pergerakan harga energi dunia. (*)

Editor : M Tahang
Inflasi Batam bps batam konflik iran-as