Dewan Pendidikan Dukung Penamaan Jalan Berbasis Sejarah Melayu

Rengga Yuliandra • Dipublikasikan Selasa, 14 April 2026 | 12:01 WIB
LAM Batam mendorong Pemko Batam untuk merapikan nama-nama jalan dan sejenisnya dengan nama yang mencerminkan sejarah maupun tokoh Melayu. (inzet) YM Dato’ Wira Setia Utama Raja Haji Muhammad Amin / Foto: Cecep Mulyana / Batam Pos
LAM Batam mendorong Pemko Batam untuk merapikan nama-nama jalan dan sejenisnya dengan nama yang mencerminkan sejarah maupun tokoh Melayu. (inzet) YM Dato’ Wira Setia Utama Raja Haji Muhammad Amin / Foto: Cecep Mulyana / Batam Pos

batampos – Dewan Pendidikan Kota Batam mengapresiasi langkah Lembaga Adat Melayu Kota Batam yang mendorong penamaan ruang publik berbasis sejarah dan budaya Melayu. Inisiatif ini dinilai strategis untuk memperkuat pendidikan karakter sekaligus meningkatkan literasi budaya di kalangan pelajar.

Ketua Dewan Pendidikan Kota Batam, Fendi Hidayat, mengatakan ruang publik memiliki peran penting sebagai bagian dari ekosistem pendidikan nonformal yang berdampak langsung pada pembentukan kesadaran historis generasi muda.

“Pelajar tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari lingkungan sekitar. Ketika ruang publik menggunakan nama tokoh seperti Raja Ali Kelana, hal itu akan memicu rasa ingin tahu siswa terhadap sejarah dan identitas daerahnya. Ini bentuk pembelajaran kontekstual yang efektif,” ujarnya, Senin (13/4).

Ia menegaskan, penamaan ruang publik bukan sekadar identitas, melainkan sarana edukasi yang mampu membangun memori kolektif masyarakat, khususnya generasi muda.

Menurutnya, penataan ulang nama-nama ruang publik yang belum memiliki relevansi historis perlu dilakukan secara terukur dan berbasis kajian akademik agar memiliki nilai edukatif yang kuat.

“Penamaan ini harus menjadi bagian dari strategi pendidikan kultural. Kita ingin simbol-simbol yang dilihat setiap hari oleh pelajar mampu menanamkan pemahaman sejarah dan kebanggaan terhadap budaya sendiri,” tambahnya.

Selain itu, Dewan Pendidikan juga menilai rencana penggunaan aksara Arab Melayu di fasilitas publik sebagai inovasi dengan nilai edukatif tinggi. Upaya ini dinilai dapat diintegrasikan dalam pembelajaran lintas disiplin, mulai dari bahasa, sejarah, hingga seni budaya.

Untuk memaksimalkan dampaknya, Dewan Pendidikan mendorong kolaborasi antara LAM, pemerintah daerah, dan satuan pendidikan. Program tersebut dapat diwujudkan melalui penyusunan modul pembelajaran kontekstual, kunjungan edukatif, hingga integrasi penamaan ruang publik ke dalam materi ajar di sekolah.

“Pendekatan ini sejalan dengan pembelajaran berbasis lingkungan dan pengalaman nyata. Pelajar tidak hanya memahami sejarah secara teori, tetapi juga melihat langsung penerapannya dalam kehidupan sehari-hari,” tutup Fendi.

Melalui sinergi lintas sektor ini, Batam diharapkan mampu menghadirkan sistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam membentuk karakter pelajar yang memahami dan melestarikan budaya Melayu sebagai identitas daerah.

Sebelumnya, Ketua Umum Lembaga Adat Melayu Provinsi Kepri, Raja Haji Muhammad Amin, menegaskan komitmen untuk memperkuat identitas Melayu melalui penataan ulang nama jalan, simpang, bundaran, hingga ruang publik.

“Sudah saatnya kite memelayukan semue nama tempat. Ini bukan sekadar nama, tetapi tentang marwah dan identitas negeri,” tegasnya.

Ia juga menyoroti sejumlah nama lokasi di Batam yang dinilai tidak memiliki akar historis, seperti Simpang Frengky. Menurutnya, penamaan tersebut perlu diganti dengan nama tokoh Melayu yang memiliki kontribusi nyata dalam sejarah. (*)

Editor : Jamil Qasim
Dewan Pendidikan literasi budaya Sejarah Melayu nama Jalan