Dari sebuah pos kecil dengan personel terbatas, Lanud Hang Nadim bertransformasi menjadi garda terdepan di wilayah perbatasan—sekaligus ruang yang semakin terbuka bagi masyarakat.
Di bawah komando Hendro Sukamdani, wajah TNI Angkatan Udara di Batam tak lagi sekadar soal pertahanan. Ia juga tentang kedekatan, tentang bagaimana institusi negara hadir dan menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat.
Sore itu, langit Batam membentang cerah. Di sudut kawasan yang dulu terasa jauh dan tertutup, tawa anak-anak kini pecah di antara hembusan angin. Kamera ponsel merekam momen, sementara orang tua duduk santai menikmati suasana yang hangat dan terbuka.
Di sinilah perubahan itu terasa nyata.
Di Lanud Hang Nadim.
Dulu, kawasan ini identik dengan batas dan disiplin militer. Kini, perlahan ia membuka diri—menjadi ruang yang tak hanya menjaga langit, tetapi juga merangkul bumi tempat masyarakat berpijak.
Perubahan itu bukan kebetulan. Di tangan Hendro, lahir konsep “AMPUH”: Adaptif, Modern, Profesional, Unggul, dan Humanis. Dari kelima nilai itu, satu yang paling terasa bagi masyarakat adalah humanis.
“Lanud ini kami buka untuk masyarakat. Ini bagian dari pengabdian,” ujar Hendro di Markas Komando Lanud Hang Nadim, Batubesar, Nongsa.
Ia ingin TNI AU tak hanya hadir sebagai penjaga wilayah udara, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat—hangat dan nyata.
Perjalanan menuju titik ini tidak singkat. Lanud Hang Nadim baru resmi berdiri pada Juni 2019. Sebelumnya, Batam hanya menjadi pos kecil di bawah Lanud Raja Haji Fisabilillah dengan sekitar 10 personel.
“Dulu hanya pos kecil. Sekarang sudah berkembang jauh,” kenangnya.
Kini, jumlah personel mencapai sekitar 125 orang. Fasilitas terus bertambah, meski statusnya masih Lanud tipe C. Namun kesiapan operasional tetap diperkuat, terutama untuk menjaga wilayah udara yang sangat strategis.
Batam bukan wilayah biasa. Kota ini berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia. Di depannya mengalir Selat Malaka—salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia. Di langitnya, lalu lintas penerbangan tak pernah benar-benar sepi.
Di titik inilah peran Lanud Hang Nadim menjadi krusial.
“Kami menjaga kedaulatan wilayah udara NKRI,” tegas Hendro.
Namun, di balik fungsi strategis itu, wajah lain juga dibangun—lebih ramah, lebih membumi.
Salah satunya tampak pada berdirinya Monumen Hang Nadim. Bukan sekadar simbol, monumen ini menjadi penanda bahwa TNI AU juga menjunjung tinggi akar budaya Melayu yang melekat di Batam.
Tak jauh dari sana, Taman Raja Melayu tumbuh menjadi ruang publik yang hidup. Pepohonan yang ditanam para pejabat menghadirkan jejak sejarah sekaligus keteduhan. Setiap sore, taman ini dipenuhi warga—tanpa sekat.
“Silakan masyarakat datang dan bersantai,” kata Hendro.
Namun magnet terkuat ada pada satu bangunan yang berdiri anggun: Masjid Bintang Amin Angkasa.
Masjid dua lantai seluas lebih dari 1.000 meter persegi ini bukan sekadar tempat ibadah. Ia menjelma menjadi ruang pertemuan—antara militer dan masyarakat, antara tugas dan pengabdian.
Diresmikan pada Maret 2026 oleh Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, masjid ini terbuka untuk siapa saja. Tak hanya warga lokal, wisatawan mancanegara pun mulai berdatangan.
“Masjid ini milik bersama. Kami bangga melihat masyarakat datang,” ujar Hendro.
Pembangunannya pun penuh cerita. Dimulai sejak 2020, sempat terhenti karena keterbatasan anggaran, hingga akhirnya rampung berkat dukungan berbagai pihak.
Dari sini, pesan itu menjadi jelas: kehadiran TNI AU bukan hanya menjaga, tetapi juga membangun.
Sinergi dengan pemerintah daerah dan berbagai instansi terus diperkuat. Dalam berbagai momentum, termasuk hari jadi Batam, Lanud Hang Nadim menjadi bagian dari denyut kota.
Di sisi lain, tugas utama tetap berjalan tanpa kompromi.
Pengamanan Bandara Internasional Hang Nadim, pengawasan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP), hingga patroli udara dilakukan setiap hari.
Ke depan, tantangan semakin kompleks. Batam berpotensi menjadi titik penting dalam penindakan pesawat asing yang melanggar wilayah udara Indonesia.
“Kalau ada pelanggaran, bisa didaratkan di sini,” tegas Hendro.
Dengan posisi strategis tersebut, peluang peningkatan status menjadi Lanud tipe B pun terbuka.
Namun di tengah rencana besar itu, satu hal tetap menjadi fondasi: kedekatan dengan masyarakat.
Kawasan Teluk Mata Ikan di Sambau, Nongsa, bahkan mulai ditata ulang menjadi Pantai Camar—ruang publik baru yang lebih hidup dan beridentitas.
“Semua ini untuk masyarakat,” kata Hendro.
Di usia ke-80 TNI Angkatan Udara, semangat pengabdian itu terasa semakin kuat. Dengan slogan “Pengabdian Tanpa Batas, TNI AU Ampuh, Indonesia Maju”, Lanud Hang Nadim menegaskan satu hal:
Kekuatan tidak selalu harus berjarak.
Di Batam, langit dijaga dengan disiplin.
Namun di bawahnya, masyarakat dirangkul dengan ketulusan.
Dan dari sanalah, kepercayaan tumbuh—pelan, tapi pasti. (*)
Editor : Jamil Qasim