batampos – Pelayanan haji tahun 2026 di Kepulauan Riau difokuskan pada jemaah lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas yang jumlahnya mencapai sekitar 50 persen dari total jemaah.
Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kepulauan Riau, Muhammad Syafii, mengatakan berbagai skema khusus telah disiapkan, mulai dari asrama haji hingga pelaksanaan ibadah di Tanah Suci.
“Perhatian utama kami tahun ini adalah lansia dan disabilitas. Mulai dari layanan kesehatan, fasilitas, hingga skema ibadah, semuanya disesuaikan dengan kondisi mereka,” ujarnya, Selasa (21/4).
Sejak tiba di asrama haji, jemaah lansia dan disabilitas akan mendapatkan prioritas layanan, termasuk pemeriksaan kesehatan yang dipercepat agar tidak kelelahan dan memiliki waktu istirahat cukup sebelum keberangkatan.
Untuk mendukung mobilitas, Kemenhaj menyiapkan sedikitnya 25 kursi roda hibah dari gubernur, ditambah bantuan dari BBPKK. Jumlah tenaga kesehatan juga ditingkatkan agar pelayanan lebih responsif.
“Lansia kami dahulukan dalam pemeriksaan kesehatan agar kondisi mereka tetap terjaga sebelum berangkat,” jelas Syafii.
Selain itu, pendampingan dilakukan oleh petugas kloter dan tenaga kesehatan yang akan membantu jemaah lansia dan disabilitas selama menjalani rangkaian ibadah.
Skema Khusus di Tanah Suci
Pada pelaksanaan ibadah di Tanah Suci, terutama pada fase yang membutuhkan kondisi fisik seperti wukuf, tawaf, dan sa’i, diterapkan pendekatan ramah lansia dan disabilitas.
Salah satu skema utama adalah murur, yakni pergerakan jemaah dari Arafah langsung menuju Mina tanpa bermalam di Muzdalifah.
“Murur ini sangat membantu lansia dan disabilitas karena kondisi di Muzdalifah padat dan cukup berat,” katanya.
Penggunaan kursi roda serta bantuan petugas juga dimaksimalkan untuk membantu jemaah menjalankan tawaf dan sa’i secara aman.
Konsumsi dan Kesiapan
Perhatian juga diberikan pada konsumsi jemaah. Dalam kegiatan uji makanan yang melibatkan pemerintah daerah dan instansi terkait, tekstur makanan menjadi fokus utama.
“Makanan dengan tekstur keras kami evaluasi. Untuk lansia, kami arahkan ke makanan yang lebih lembut agar mudah dicerna,” ujar Syafii.
Ia menambahkan, kesiapan layanan tahun ini didukung oleh persiapan yang lebih awal. Dokumen dan visa jemaah telah rampung sejak Ramadan, sementara penyusunan kloter dilakukan lebih cepat.
Kloter pertama dijadwalkan masuk asrama haji pada 22 April, dengan proses persiapan dimulai pukul 05.00 WIB dan keberangkatan pukul 11.35 WIB.
“Dengan berbagai kesiapan ini, kami ingin memastikan jemaah lansia dan disabilitas dapat menjalankan ibadah dengan nyaman, aman, dan tetap khusyuk,” pungkasnya. (*)
Editor : Jamil Qasim