batampos – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi mulai memicu kekhawatiran inflasi di Batam. Sektor transportasi dan logistik menjadi yang paling cepat terdampak, dengan efek berantai yang berpotensi mendorong kenaikan harga barang, termasuk kebutuhan pokok.
Kepala Badan Pusat Statistik Kota Batam, Eko Aprianto, mengatakan dampak riil kenaikan BBM masih dalam tahap pencatatan.
“Pengaruhnya masih kami catat. Belum bisa disimpulkan karena menunggu data yang masuk,” ujarnya, Selasa (21/4).
Ia menegaskan, BPS tidak membuat proyeksi, melainkan menghitung berdasarkan data faktual di lapangan. Dampak kenaikan energi baru akan terlihat setelah data inflasi terkumpul secara menyeluruh.
“BPS hanya mencatat sesuai kondisi di lapangan, bukan membuat proyeksi,” tambahnya.
Meski belum ada angka pasti, sektor transportasi dinilai paling rentan karena bergantung langsung pada BBM. Dampak tersebut kemudian merembet ke biaya logistik dan distribusi.
“Transportasi paling cepat terdampak, lalu berlanjut ke distribusi barang,” jelasnya.
Dampak lanjutan berpotensi mendorong penyesuaian harga di tingkat pedagang. Namun, efek tersebut diperkirakan baru terlihat pada rilis data inflasi April yang akan diumumkan awal Mei.
Dunia Usaha Tertekan
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Kota Batam, Rafki Rasyid, menilai kenaikan BBM non subsidi langsung menekan biaya logistik yang menjadi komponen utama industri.
“Kalau biaya logistik naik, harga produk ekspor ikut naik. Kalau harga naik, permintaan bisa turun dan produksi ikut tertekan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut berpotensi menurunkan daya saing produk Batam di pasar internasional. Pelaku usaha pun berharap lonjakan biaya tidak terlalu tinggi.
Rafki juga mengingatkan dampak yang lebih luas jika kenaikan harga energi berlanjut hingga menyentuh BBM subsidi.
“Kalau sampai ke BBM subsidi, dampaknya akan jauh lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi,” tegasnya.
Tarif Logistik Mulai Naik
Lonjakan harga BBM non subsidi, terutama Dexlite dan Pertamina Dex, mulai memicu tekanan di sektor logistik.
Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mengatakan pemerintah akan membuka dialog dengan berbagai pihak untuk mencari solusi.
“Kita akan buka dialog bersama Disperindag dan Pertamina terkait kenaikan BBM,” ujarnya.
Dialog tersebut juga akan melibatkan pelaku usaha logistik, termasuk Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia.
Ketua DPC ALFI Batam, Yasser Hadeka Daniel, mengakui pihaknya sempat menahan kenaikan tarif, namun kondisi kini semakin berat.
“Kami sudah berusaha tidak menaikkan tarif, tapi beban operasional semakin tinggi,” ujarnya.
Ia mencontohkan ongkos angkut rute Batu Ampar–Mukakuning yang sebelumnya sekitar Rp900 ribu kini melonjak menjadi Rp1,8 juta per perjalanan.
Ketergantungan Batam terhadap pasokan dari luar daerah dan impor membuat biaya logistik sangat sensitif terhadap kenaikan BBM.
Ancaman ke Harga Sembako
Dalam jangka pendek, dampak kenaikan BBM akan terasa pada biaya distribusi. Namun dalam jangka panjang, masyarakat berpotensi menghadapi kenaikan harga bahan pokok akibat meningkatnya ongkos angkut.
Tekanan biaya juga datang dari sektor pelayaran, seiring kenaikan tarif kapal pandu tunda yang diperkirakan akan menambah beban logistik.
Pemerintah dan pelaku usaha kini sama-sama mencermati situasi, sembari mencari langkah agar dampak kenaikan harga energi tidak meluas ke sektor lain. (*)
Editor : Jamil Qasim