batampos – Pemerintah Kota Batam melalui Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam berjanji membenahi tata kelola sampah yang selama ini kerap dikeluhkan warga. Persoalan mulai dari tumpukan sampah di tempat pembuangan sementara (TPS), bau menyengat, hingga jadwal pengangkutan yang tidak menentu menjadi fokus perbaikan.
Kepala DLH Batam, Dohar Mangalondo Hasibuan, mengakui masih banyak kawasan yang pengangkutan sampahnya dilakukan tidak rutin. Di sejumlah wilayah, sampah bahkan hanya diangkut satu hingga dua kali dalam seminggu.
Kondisi tersebut menyebabkan sampah menumpuk di lingkungan permukiman dan kerap meluber hingga ke badan jalan.
“Ke depan kita ubah. Targetnya pengangkutan dilakukan satu kali sehari, paling lambat satu kali dalam dua hari,” ujar Dohar, Rabu (22/4).
Perbaikan pelayanan akan dimulai dengan mempercepat ritme pengangkutan sampah dari TPS ke TPA, termasuk ke TPA Telaga Punggur. Dengan pola baru ini, diharapkan sampah tidak lagi mengendap terlalu lama dan menimbulkan bau.
Namun, persoalan sampah di Batam tidak hanya soal jadwal angkut. Warga juga kerap mengeluhkan kondisi TPS yang semrawut, berlumpur, serta menyisakan sampah berserakan setelah proses pengangkutan.
Tak jarang, bin penampungan yang rusak menyebabkan sampah tercecer ke jalan dan mengganggu lingkungan sekitar.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemko Batam berencana menambah 100 unit bin kontainer baru pada 2026. Kontainer ini akan ditempatkan di titik-titik permukiman yang selama ini menjadi lokasi penumpukan sampah.
“Tahun ini kita akan mengadakan 100 bin kontainer. Kita juga akan merapikan TPS di kawasan permukiman,” jelasnya.
Selain itu, DLH juga akan membangun landasan beton di area TPS agar lebih mudah dibersihkan setelah sampah diangkut.
“Dengan perkerasan ini, setelah pengangkutan sampah, lokasi bisa langsung dibersihkan dan tidak meninggalkan bau,” tambahnya.
Meski demikian, pembenahan tata kelola sampah masih menyisakan sejumlah pekerjaan rumah. Salah satunya kondisi armada pengangkut yang dikeluhkan warga karena banyak yang rusak, bocor, dan kerap meninggalkan ceceran sampah di jalan.
Selain itu, masalah kedisiplinan jadwal pengangkutan juga menjadi perhatian. Ketidaktepatan waktu sering membuat warga memilih membuang sampah sembarangan.
Karena itu, upaya perbaikan dinilai tidak cukup hanya dengan penambahan kontainer dan percepatan jadwal angkut. Diperlukan pula pembenahan armada, peningkatan pengawasan petugas, serta kepastian pelayanan yang benar-benar dirasakan masyarakat. (*)
Editor : Jamil Qasim