Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

14 Tahun Jadi Staf, Ariastuty Sirait Kini Duduki Jabatan Strategis di BP Batam

Muhammad Syahban • Kamis, 23 April 2026 | 10:01 WIB
‎Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuy Sirait
‎Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuy Sirait

batampos – Semangat Hari Kartini tak selalu hadir lewat pidato atau seremoni. Ia kerap hidup dalam sosok perempuan yang bertahan, bekerja dalam diam, dan tak pernah menyerah.

Salah satunya adalah Ariastuty Sirait. Di tengah lingkungan birokrasi yang identik dengan dominasi laki-laki, ia kini dipercaya menjabat sebagai Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam—sebuah posisi strategis yang diraihnya melalui perjalanan panjang.

Namun, pencapaian itu tidak datang secara instan.

Perempuan yang akrab disapa Tuty ini mengawali kariernya di Otorita Batam sejak 2001. Selama 14 tahun, ia tetap berada di posisi staf pemasaran tanpa kenaikan jabatan.

“Karier saya tidak naik-naik selama 14 tahun. Saya masih staf pemasaran saja,” ujarnya saat berbagi kisah dalam momentum Hari Kartini.

Meski sempat berada di titik lelah, Tuty memilih bertahan. Ia terus bekerja, belajar, dan menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya dari satu pimpinan ke pimpinan lainnya.

Latar belakang pendidikannya sebenarnya cukup kuat. Ia menempuh studi Bachelor of Marketing and Hospitality Management di Edith Cowan University, Australia, serta menyelesaikan S1 Manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ibnu Sina dan S2 Manajemen di Universitas Batam. Namun, hal itu tidak serta-merta membuat kariernya melesat.

Titik balik baru terjadi pada 2014, saat ia mendapat promosi menjadi Kasi Penyiapan Media Promosi. Sejak itu, kariernya bergerak cepat.

Dalam kurun waktu beberapa tahun, Tuty dipercaya menduduki berbagai posisi penting, mulai dari Plt Kasubdit Promosi, Kepala Bagian Promosi, hingga Kepala Biro Humas, Promosi, dan Protokol BP Batam pada 2021.

Tak lama berselang, ia kembali mendapat kepercayaan lebih besar sebagai Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam.

“Ini percepatan karier saya. Setelah 14 tahun tidak ke mana-mana, tiga tahun kemudian saya jadi eselon III, lalu tiga tahun berikutnya eselon II,” katanya.

Bagi Tuty, perjalanan tersebut mengajarkannya satu hal penting: kesabaran dan konsistensi.

“Jangan menyerah. Jalani hidup dengan legowo, bersyukur, dan selalu memberikan yang terbaik,” pesannya.

Sebagai perempuan di lingkungan kerja yang didominasi laki-laki, ia mengaku tidak pernah merasa terintimidasi. Justru sebaliknya, ia merasa nyaman dan mampu menjadi dirinya sendiri.

Namun, ia juga tidak menampik pernah diremehkan.

“Pernah, pasti semua pernah,” katanya.

Ia memilih menghadapi hal itu dengan kerja keras dan doa. Baginya, doa menjadi kekuatan utama untuk membuktikan diri.

“Itulah senjata paling ampuh ketika kita diremehkan,” ujarnya.

Dalam menjalani hidup, Tuty memegang prinsip sederhana: one step at a time.

“Satu langkah dijalani, satu langkah lagi dihadapi,” katanya.

Prinsip itu pula yang membantunya menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga. Di tengah kesibukan, ia tetap menyempatkan diri memasak untuk anak-anak dan meluangkan waktu bersama keluarga.

“Setiap pagi saya memasak. Itu cara saya mengurangi rasa bersalah karena sering tidak di rumah,” ujarnya.

Bagi Tuty, keluarga adalah sumber kekuatan utama. Dukungan suami, anak, dan ibunya membuatnya mampu menjalani peran sebagai perempuan karier.

Di momentum Hari Kartini, ia menilai semangat Kartini masih sangat relevan hingga kini—bukan hanya soal emansipasi, tetapi tentang ketahanan dan keberanian.

“Perempuan hari ini bukan lagi soal bisa atau tidak, tapi bagaimana bertahan saat keadaan sulit,” ujarnya.

Sebagai perempuan yang kini berada di posisi strategis, ia juga menitipkan pesan kepada generasi muda agar tidak mudah menyerah dan berani mengambil peran.

Namun, ia mengingatkan satu hal penting: memilih pasangan hidup.

“Jangan salah pilih pasangan. Kalau salah, bisa berantakan semuanya,” katanya.

Menurutnya, pasangan yang tepat akan menjadi pendukung utama dalam perjalanan hidup dan karier seorang perempuan.

Di balik jabatannya, Tuty tetap dikenal sebagai sosok yang hangat dan membumi. Ia mudah bergaul, tidak menjaga jarak, dan tetap sederhana.

Ketika ditanya sosok yang menginspirasinya, ia tak menyebut tokoh besar. Ia justru menunjuk ibunya sebagai panutan utama—perempuan sederhana yang mengajarkannya tentang keteguhan.

Ia juga mengaku banyak belajar dari Li Claudia Chandra yang dinilainya sebagai sosok pekerja keras dan tidak mudah menyerah.

Pada akhirnya, perjalanan panjang selama 14 tahun itu menjadi bukti bahwa kesabaran sering bekerja dalam diam.

Bahwa tidak semua hal datang cepat. Namun ketika datang di waktu yang tepat, semuanya terasa layak diperjuangkan.

Di akhir ceritanya, Tuty hanya meninggalkan satu pesan sederhana:

“Jangan mudah menyerah.” (*)

Editor : Jamil Qasim
#Ariastuty Sirait #bp batam