batampos — Musik jazz kembali jadi “bumbu utama” suasana Batam. International Jazz Day 2026 resmi dibuka di Park Avenue Mall, Orchard Park, Kamis (30/4/2026), dan bakal berlangsung sampai Minggu (3/5/2026). Bukan sekadar festival musik, event ini berubah jadi ruang temu: musisi, komunitas kreatif, hingga penggerak ekonomi daerah.
Wakil Gubernur Kepri, Nyanyang Haris Pratamura, membuka langsung acara ini. Ia menegaskan pemerintah tidak ingin sekadar jadi penonton dalam geliat industri kreatif.
“Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau akan terus memberikan dukungan terhadap kegiatan-kegiatan kreatif seperti ini, yang tidak hanya memperkaya kehidupan seni dan budaya masyarakat, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” ujarnya.
Bagi pemerintah, jazz bukan hanya musik—tapi juga “alat dorong” pariwisata.
Musik, kolaborasi, dan energi panggung
Pembukaan festival berlangsung hangat sejak sore. Penampilan Tanaka Manaloe yang berkolaborasi dengan Jozsua, Ryan, dan Bobby Hutajulu langsung menciptakan atmosfer santai khas festival: ringan, cair, dan penuh improvisasi.
Memasuki malam, suasana makin serius saat pembina Batam Jazz Society, Buralimar, menyampaikan sambutan. Ia menekankan bahwa jazz bukan sekadar hiburan, tetapi jembatan kolaborasi lintas sektor.
“Melalui jazz, kami berupaya membangun sinergi yang berkelanjutan antara komunitas, sektor swasta, dan pemerintah. Kami percaya musik memiliki kekuatan menjadi jembatan kolaborasi sekaligus memperkuat positioning Batam sebagai destinasi wisata kreatif dan budaya,” katanya.
Panggung kolaborasi lintas sektor
Sejumlah tokoh hadir dalam pembukaan ini, mulai dari Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Batam Ardiwinata, anggota DPRD Kepri Asmin Patros, perwakilan perbankan, hingga mitra internasional seperti Bob Wardhana dari Erasmus Huis Kedutaan Besar Belanda di Indonesia.
Kehadiran mereka menegaskan satu hal: jazz di Batam sudah naik kelas—dari sekadar konser menjadi platform kolaborasi ekonomi kreatif.
Festival ini juga diramaikan bazaar kuliner dan produk kreatif, yang membuat suasana tidak hanya terdengar, tetapi juga terasa—dari musik sampai rasa.
Mengusung tema “Jazz Beyond Borders”, Batam kembali menegaskan identitasnya: bukan hanya kota industri, tetapi juga ruang hidup bagi seni, kreativitas, dan kolaborasi lintas batas.
Di tengah persaingan destinasi wisata di kawasan regional, jazz menjadi cara Batam berkata sederhana: kota ini ingin didengar, bukan hanya dilihat. (*)
Editor : Putut Ariyotejo