Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Dinkes Batam Deteksi Dini Kesehatan Jiwa 9.255 Anak

Antara • Rabu, 13 Mei 2026 | 16:32 WIB
Tenaga medis bersama anak-anak di sebuah sekolah di pulau penyangga Batam, Kepri. F. Amandine Nadja / ANTARA
Tenaga medis bersama anak-anak di sebuah sekolah di pulau penyangga Batam, Kepri. F. Amandine Nadja / ANTARA

batampos – Dinas Kesehatan Kota Batam melakukan deteksi dini kesehatan jiwa bagi anak dan remaja melalui pemeriksaan di sekolah-sekolah di Kota Batam, Kepulauan Riau.

Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan program tersebut menyasar anak usia 7 hingga 18 tahun dengan metode skrining kesehatan jiwa di lingkungan sekolah.

“Program yang ada di Dinkes adalah pemeriksaan anak usia 7 sampai 18 tahun dan kami memeriksa menggunakan instrumen Mini Mindhear Youth Scale (MMYS),” ujarnya di Batam, Rabu.

Dari hasil pemeriksaan periode Januari hingga Maret 2026, sebanyak 9.255 anak telah disaring, dan 254 anak atau sekitar 2,7 persen terindikasi memiliki masalah kejiwaan.

Meski demikian, Didi menegaskan temuan tersebut masih bersifat deteksi dini dan belum dapat disimpulkan sebagai gangguan jiwa tanpa pemeriksaan lanjutan oleh psikolog atau psikiater.

Baca Juga: AS-China Satu Sikap Soal Selat Hormuz, Jalur Internasional Tak Boleh Dipungut Tol

Menurutnya, tren gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja memang menunjukkan peningkatan secara global, termasuk di Batam.

Dinkes Batam terus memperkuat layanan kesehatan jiwa melalui puskesmas, rumah sakit, serta sistem surveilans kesehatan, guna memastikan kasus dapat terdeteksi lebih cepat.

“Memang banyak ditemukan masalah kejiwaan, tapi belum bisa dirinci jenisnya karena harus dikonsultasikan ke dokter ahli jiwa,” ujarnya.

Didi menilai meningkatnya angka deteksi juga mencerminkan sistem skrining yang semakin baik, bukan semata-mata lonjakan kasus.

Untuk menekan risiko gangguan mental, Pemerintah Kota Batam memperkuat layanan kesehatan jiwa melalui integrasi layanan primer (ILP), skrining dini di sekolah, serta edukasi kepada orang tua melalui posyandu remaja dan komunitas.

Pemerintah Kota Batam juga menggandeng sektor pendidikan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih ramah anak dan mendukung kesehatan mental.

Selain itu, layanan konseling dan kampanye kesehatan mental terus digencarkan guna mengurangi stigma di masyarakat.

Didi menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak boleh hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari kesehatan mental dan kemampuan anak dalam menghadapi tekanan hidup.

Baca Juga: Batam Masih Bergantung Pasokan Luar, Pemko Akui Rentan Krisis Pangan

“Kalau indikator keberhasilan pendidikan hanya nilai akademik, kita berisiko menciptakan generasi yang cerdas secara kognitif tetapi rapuh secara mental,” katanya.

Ia menambahkan, peran orang tua menjadi kunci dalam membangun kesehatan mental anak melalui pola asuh yang hangat dan komunikasi terbuka dalam keluarga. (*)

Editor : Putut Ariyotejo
#kesehatan mental anak #skrining sekolah #batam #dinkes batam #kepri