Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Hipertensi di Batam Masih Tinggi

Rengga Yuliandra • Jumat, 22 Mei 2026 | 22:22 WIB
ILUSTRASI masyarakat saat melakukan pemeriksaan rutin Hipertensi dan Diabetes Melitus di Puskesmas Dabo Lama. F. Vatawari/BATAM POS
ILUSTRASI masyarakat saat melakukan pemeriksaan rutin Hipertensi dan Diabetes Melitus di Puskesmas. F. Vatawari/BATAM POS

batampos – Kasus hipertensi atau tekanan darah tinggi di Kota Batam masih menjadi perhatian serius. Meski jumlah kasus dalam tiga tahun terakhir menunjukkan tren menurun, angka penderita hipertensi tetap tergolong tinggi dan didominasi kelompok usia produktif.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan kondisi tersebut sejalan dengan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang mencatat prevalensi hipertensi nasional mencapai 34,5 persen pada penduduk usia di atas 18 tahun.

Menurutnya, karakter Batam sebagai kota industri dengan urbanisasi yang sangat cepat ikut memengaruhi tingginya kasus hipertensi di masyarakat.

“Tren hipertensi di Batam meningkat seiring gaya hidup kota industri, tingginya aktivitas kerja, dan populasi usia produktif,” ujar dr. Didi, Jumat (22/5).

Data Dinas Kesehatan Kota Batam menunjukkan jumlah kasus hipertensi masih berada di level tinggi dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023 tercatat sebanyak 243.226 kasus. Angka itu turun menjadi 185.001 kasus pada 2024 dan kembali menurun menjadi 183.259 kasus pada 2025.

Penurunan terbesar terjadi pada periode 2023 ke 2024 dengan selisih sekitar 58.225 kasus atau turun 23,9 persen. Namun pada 2025, penurunan mulai melambat dan cenderung stagnan dengan penurunan hanya sekitar 1.742 kasus atau 0,9 persen.

Baca Juga: Zara x Bad Bunny Koleksi Summer 2026 Tampil Penuh Warna dan Gaya Santai

Artinya, meski tren menurun, beban penyakit hipertensi di Batam masih tinggi karena jumlah kasus tetap berada di atas 180 ribu penderita.

Bahkan, sepanjang Februari 2026 saja tercatat sebanyak 5.854 kasus hipertensi primer atau essential primary hypertension. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.912 kasus dialami laki-laki dan 3.492 kasus perempuan.

dr. Didi menjelaskan, pola konsumsi masyarakat menjadi salah satu faktor utama penyebab tingginya hipertensi di Batam. Makanan tinggi garam seperti makanan olahan, mie instan, seafood asin, hingga jajanan kaki lima dinilai membuat asupan natrium masyarakat sulit dikendalikan.

“Batas aman konsumsi garam itu kurang dari lima gram per hari. Sementara rata-rata konsumsi masyarakat Indonesia bisa mencapai delapan sampai 12 gram per hari,” katanya.

Selain pola makan, minimnya aktivitas fisik juga memperbesar risiko hipertensi. Banyak pekerja di Batam menjalani sistem kerja shift, lebih banyak duduk, dan minim waktu untuk berolahraga.

Mengacu data WHO, aktivitas fisik kurang dari 150 menit per minggu dapat meningkatkan risiko hipertensi hingga 20 sampai 30 persen.

Kebiasaan merokok serta tingginya tekanan kerja di kawasan industri juga menjadi faktor lain yang memperburuk kondisi kesehatan masyarakat. Nikotin dalam rokok menyebabkan penyempitan pembuluh darah sehingga tekanan darah meningkat.

Baca Juga:  Diskum Batam Terbitkan 100 NIB UMKM di Pulau Pesisir

“Batam sebagai kota industri memiliki tekanan kerja yang tinggi. Kebiasaan merokok juga masih umum, baik perokok aktif maupun pasif,” jelasnya.

Tak hanya itu, obesitas dan pola makan tinggi lemak jenuh serta rendah konsumsi buah dan sayur turut memicu hipertensi. Akibatnya, penyakit yang dulu identik dengan usia lanjut kini mulai banyak ditemukan pada kelompok usia 30 hingga 40 tahun.

Hipertensi sendiri dikenal sebagai silent killer karena sering kali tidak menimbulkan gejala hingga penderita mengalami komplikasi serius.

“Gejalanya sering tidak dirasakan sampai sudah terjadi komplikasi,” ujarnya.

Di Batam, komplikasi hipertensi yang paling banyak ditemukan antara lain stroke, serangan jantung, gagal ginjal, hingga penyakit jantung koroner. Kondisi itu banyak menyerang kelompok pekerja usia 40 hingga 55 tahun.

Untuk menekan angka kasus, Dinas Kesehatan Kota Batam terus mengintensifkan program pencegahan melalui Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) dan seluruh puskesmas.

Program tersebut meliputi pemeriksaan tekanan darah gratis secara rutin, edukasi pola hidup sehat, pembinaan layanan penyakit tidak menular di klinik pratama, hingga peningkatan kepatuhan minum obat bagi pasien hipertensi.

“Deteksi dini menjadi kunci untuk menemukan faktor risiko hipertensi sehingga bisa segera dilakukan intervensi dan perubahan gaya hidup,” tegas dr. Didi.

Dalam momentum Hari Hipertensi Sedunia, masyarakat juga diimbau rutin memeriksa tekanan darah minimal satu kali setiap bulan, khususnya bagi warga usia di atas 40 tahun.

Warga diminta mengurangi konsumsi garam, memperbanyak buah dan sayur, aktif bergerak sedikitnya 30 menit setiap hari, berhenti merokok, serta rutin mengonsumsi obat bagi penderita hipertensi. (*)

Editor : Putut Ariyo
#kesehatan Batam #hipertensi Batam #Didi Kusmarjadi #tekanan darah tinggi #dinkes batam