Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Pakar: Batam dan Bintan Harus Dikembangkan Sebagai Satu Destinasi Wisata Terpadu Kepri

Rengga Yuliandra • Rabu, 27 Mei 2026 | 22:09 WIB
WISATAWAN menikmati keindahan di Gurun Pasir Telaga Biru di Desa Busung, Kecamatan Seri Kuala Lobam. F.Aprizal untuk Batam Pos
WISATAWAN menikmati keindahan di Gurun Pasir Telaga Biru di Desa Busung, Kecamatan Seri Kuala Lobam. F.Aprizal untuk Batam Pos

batampos - Pemerhati pariwisata Buralimar menilai pengembangan sektor pariwisata di Kepulauan Riau (Kepri) seharusnya tidak lagi memisahkan Batam dan Bintan sebagai dua wilayah yang berdiri sendiri. Menurutnya, wisatawan mancanegara justru memandang kedua daerah tersebut sebagai satu kesatuan destinasi wisata.

Dalam tulisannya berjudul “Tiada Batas Administrasi bagi Pariwisata Batam dan Bintan”, Buralimar menegaskan bahwa batas administratif hanya berfungsi dalam urusan pemerintahan, tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap pola perjalanan wisatawan.

“Paket wisata yang dijual travel agent tidak pernah hanya Batam atau hanya Bintan. Yang dijual selalu Batam-Bintan atau Bintan-Batam,” tulisnya, Rabu (27/5).

Secara geografis, Batam dan Bintan juga memiliki posisi strategis yang saling terhubung dengan negara tetangga. Dari Batam, perjalanan ke Singapura hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit hingga satu jam menggunakan ferry, sementara ke Johor, Malaysia berkisar 90 menit hingga dua jam.

Kondisi ini membuat mobilitas wisatawan menjadi sangat fleksibel. Wisatawan dari Singapura, misalnya, dapat menikmati wisata kuliner, belanja, dan hiburan di Batam, kemudian melanjutkan perjalanan ke Bintan untuk menikmati resort dan wisata pantai.

Menurut Buralimar, kedua daerah ini memiliki karakteristik pariwisata yang saling melengkapi. Batam dikenal sebagai pusat aktivitas perkotaan dengan pusat perbelanjaan, hiburan malam, serta ragam kuliner dari berbagai etnis seperti Melayu, Tionghoa, dan India. Sementara itu, Bintan menawarkan suasana lebih tenang dengan resort tepi pantai, wisata bahari, hingga ekowisata mangrove.

Baca Juga: J&T Super Seller Competition Buka Peluang Pebisnis Muda, Raih Hadiah Rp500 Juta

“Batam menjadi tempat mencari keramaian, sedangkan Bintan tempat mencari ketenangan,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa segmentasi wisatawan di kedua wilayah tersebut berbeda. Wisatawan dari Singapura cenderung memilih Batam untuk wisata kuliner, spa, dan hiburan, sedangkan wisatawan asal Tiongkok lebih banyak mengunjungi Bintan untuk menikmati resort dan wisata alam.

Berdasarkan kondisi tersebut, ia menekankan pentingnya pengembangan pariwisata Kepri secara terintegrasi tanpa membandingkan satu daerah dengan daerah lainnya.

“Tidak ada yang rugi kalau wisatawan menginap semalam di Batam lalu dua malam di Bintan. Semua mendapat manfaat, mulai hotel, ferry, travel agent, UMKM hingga masyarakat,” katanya.

Buralimar juga menyoroti rencana pembangunan Jembatan Batam–Bintan yang dinilai berpotensi menjadi penghubung strategis bagi pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di Kepri.

Ia menyebutkan bahwa studi kelayakan proyek tersebut telah selesai dilakukan pada akhir 2024, dengan hasil yang menunjukkan bahwa wilayah perairan antara Batam dan Bintan dinilai layak untuk pembangunan jembatan.

“Anak cucu kita nanti mungkin tidak akan bertanya Batam atau Bintan yang lebih hebat. Mereka akan bertanya kenapa dulu tidak disambungkan lebih cepat,” ujarnya.

Selain Batam dan Bintan, Buralimar juga menilai wilayah lain di Kepulauan Riau seperti Karimun, Lingga, Anambas, dan Natuna memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata unggulan di masa mendatang. (*)

Editor : Putut Ariyo
#wisata Kepulauan Riau #bintan #batam #destinasi wisata #pariwisata kepri