Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

BPTD Kepri Gandeng Pengusaha Angkutan Wujudkan Transportasi Aman Tanpa ODOL

Yashinta • Selasa, 9 Juni 2026 | 07:01 WIB
Zero
Kepala BPTD Kelas II Kepri, Dini Kusumahati Damarintan.

batampos – Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Kepulauan Riau terus mendorong terwujudnya program nasional Zero Over Dimension dan Over Load (ODOL) di wilayah Kepri. Upaya tersebut dilakukan secara bertahap melalui pendekatan persuasif kepada para pengusaha angkutan barang, sekaligus memperkuat berbagai program keselamatan transportasi darat.

Kepala BPTD Kelas II Kepri, Dini Kusumahati Damarintan, mengatakan keberhasilan program Zero ODOL membutuhkan dukungan seluruh pihak, termasuk pelaku usaha angkutan barang yang selama ini menjadi pengguna utama jalan.

“Kami mengajak seluruh pemilik kendaraan barang dan pengusaha angkutan untuk bersama-sama menyukseskan program Zero ODOL. Ini dilakukan demi keselamatan kita bersama,” ujar Dini, Senin (8/6).

Baca Juga: MV Golden Star 1 Tenggelam, Ancaman Pencemaran Laut di Perairan Batam Jadi Sorotan

Menurutnya, persoalan ODOL tidak hanya berkaitan dengan kendaraan yang membawa muatan berlebih (overload), tetapi juga kendaraan yang dimensinya telah dimodifikasi melebihi ketentuan (over dimension). Kendaraan dengan dimensi yang tidak sesuai standar dinilai memiliki risiko keselamatan lebih tinggi karena menciptakan titik buta (blind spot) yang lebih luas.

“Jika kendaraan terlalu panjang atau melebihi spesifikasi, pengemudi tidak dapat melihat seluruh area di sekeliling kendaraan melalui kaca spion. Kondisi ini sangat berpotensi menimbulkan kecelakaan, terutama bagi pengendara sepeda motor yang berada di sisi maupun belakang kendaraan,” jelasnya.

Sebagai langkah awal, BPTD Kepri akan menggelar pertemuan dengan para pemilik perusahaan angkutan barang pada 10–11 Juni 2026. Dalam forum tersebut, pemerintah akan menyosialisasikan kebijakan penerapan Zero ODOL sekaligus memberikan pemahaman mengenai risiko dan dampak yang ditimbulkan kendaraan over dimension maupun overload.

Dini menegaskan, pendekatan yang dilakukan saat ini masih bersifat edukatif dan persuasif. Pemerintah ingin membangun kesadaran bersama sebelum penerapan aturan dilakukan secara menyeluruh.

Selain mendorong program Zero ODOL, BPTD Kepri juga terus meningkatkan fasilitas keselamatan jalan. Salah satunya melalui pemasangan Alat Pemantul Cahaya (APC) pada kendaraan barang agar lebih mudah terlihat saat malam hari.

Baca Juga: Krisis Air Bersih Tanjung Sengkuang Masuk Hari ke-100, Distribusi Tangki Tersendat Akibat Solar Langka

“Kami sudah mulai membagikan sekaligus memasang alat pemantul cahaya pada kendaraan. Tujuannya agar kendaraan lebih terlihat pada malam hari sehingga risiko kecelakaan dapat diminimalkan,” katanya.

Tak hanya itu, BPTD juga secara bertahap melengkapi berbagai fasilitas keselamatan di jalan nasional, seperti rambu lalu lintas, marka jalan, hingga penerangan jalan umum (PJU).

Dini menambahkan, peningkatan keselamatan transportasi darat menjadi fokus utama BPTD di seluruh wilayah kerja Kepulauan Riau yang meliputi Batam, Tanjungpinang, Bintan, Karimun, Lingga, Natuna, dan Anambas.

Sebagai bagian dari upaya membangun budaya keselamatan sejak dini, BPTD Kepri baru-baru ini juga menggelar program edukasi keselamatan transportasi yang melibatkan sekitar 500 guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dari berbagai daerah di Kepri.

Melalui kegiatan tersebut, para guru dibekali materi dan metode pembelajaran untuk mengenalkan budaya tertib berlalu lintas kepada anak-anak sejak usia dini.

“Kami ingin keselamatan menjadi budaya yang ditanamkan sejak kecil. Karena itu, kami berkolaborasi dengan para guru agar pesan-pesan keselamatan dapat disampaikan secara menarik kepada anak-anak,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Lalu Lintas Polda Kepri, Kombes Taufiq Lukman Nurhidayat, menyatakan dukungan penuh terhadap program Zero ODOL sebagai bagian dari upaya mewujudkan keselamatan lalu lintas yang berkelanjutan.

Menurut Taufiq, program tersebut merupakan bagian dari lima pilar keselamatan jalan yang melibatkan berbagai instansi, mulai dari penyedia sistem transportasi, pengelola kendaraan, kepolisian, penyelenggara jalan, hingga sektor kesehatan dalam penanganan korban kecelakaan.

“Kami terus melakukan edukasi kepada masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan. Harapannya, kendaraan yang beroperasi di jalan sesuai dengan dimensi dan kapasitas muatan yang telah ditetapkan,” ujarnya.

Ia menegaskan, terwujudnya Zero ODOL menjadi langkah penting dalam mendukung target keselamatan jalan nasional sekaligus mewujudkan sistem transportasi yang aman menuju Indonesia Emas 2045.

“Harapan kami, tidak ada lagi kendaraan yang melebihi dimensi maupun kapasitas muatan. Dengan demikian, keselamatan seluruh pengguna jalan dapat lebih terjamin,” tutup Taufiq. (*)

Editor : Jamil Qasim
#ODOL #BPTD Kelas II Kepri