batampos – Industri perawatan pesawat terbang Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan daya saing di tingkat regional. Meski memiliki pasar penerbangan terbesar di Asia Tenggara, sebagian besar perawatan mesin pesawat nasional masih dilakukan di luar negeri.
Ketua Indonesia Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA), Andi Fahrurrozi, mengungkapkan sekitar 70 persen pekerjaan perawatan mesin pesawat Indonesia hingga kini masih bergantung pada fasilitas di luar negeri. Kondisi tersebut menyebabkan peluang bisnis bernilai tinggi dan potensi devisa belum sepenuhnya dapat dinikmati industri dalam negeri.
Pernyataan tersebut disampaikan Andi dalam Indonesia MRO Summit (IMROS) 2026 yang berlangsung di Batam, Senin (9/6).
Menurut Andi, industri Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) nasional sebenarnya telah menunjukkan kemajuan signifikan pada sektor perawatan struktur pesawat atau airframe. Saat ini sekitar 90 persen pekerjaan di segmen tersebut sudah mampu ditangani oleh perusahaan dalam negeri.
Namun, kemampuan serupa belum terjadi pada sektor perawatan komponen dan mesin pesawat yang membutuhkan investasi besar serta teknologi yang lebih kompleks.
“Kendala kita ada di komponen dan engine. Investasinya sangat besar. Banyak Original Equipment Manufacturer (OEM) sekarang membangun fasilitas MRO sendiri sehingga semakin eksklusif,” ujar Andi.
Data industri menunjukkan sekitar 46 persen pasar perawatan pesawat nasional masih dinikmati perusahaan luar negeri. Angka tersebut menunjukkan bahwa kapasitas industri domestik belum mampu menangkap seluruh kebutuhan pasar yang tersedia di Indonesia.
Padahal, menurut Andi, Indonesia memiliki modal kuat untuk berkembang menjadi pusat layanan MRO regional. Pertumbuhan armada pesawat yang tinggi, pasar domestik yang besar, tenaga kerja yang kompeten, serta posisi geografis yang strategis menjadi keunggulan yang sulit dimiliki negara lain.
Meski demikian, ia menilai pertumbuhan pasar saja tidak cukup untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain utama industri MRO Asia.
“Pertumbuhan saja tidak cukup. Untuk tetap kompetitif, kita harus membangun industri yang tangguh, inovatif, dan kolaboratif,” katanya.
Karena itu, IAMSA mendorong pengembangan fasilitas perawatan komponen dan mesin pesawat sebagai prioritas utama dalam penguatan industri MRO nasional.
Selain investasi, pelaku industri juga berharap adanya dukungan regulasi yang mampu meningkatkan efisiensi usaha dan memperkuat daya saing perusahaan MRO Indonesia di tengah persaingan regional yang semakin ketat. (*)
Editor : Putut Ariyo