batampos – Setelah menjadi perhatian serius dalam beberapa tahun terakhir, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Batam menunjukkan tren penurunan. Hingga 21 Juni 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat 205 kasus DBD tanpa adanya laporan kematian.
Penurunan tersebut menjadi perkembangan positif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2024, penyakit yang disebabkan oleh virus dengue melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti itu tercatat menyebabkan 14 warga Batam meninggal dunia. Sementara pada 2025, jumlah kematian akibat DBD mencapai tiga kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, dr Didi Kusmarjadi, mengatakan penurunan kasus ini menunjukkan upaya pengendalian DBD yang dilakukan pemerintah bersama masyarakat mulai memberikan hasil.
“Alhamdulillah hingga pertengahan tahun ini belum ada laporan kematian akibat DBD. Namun masyarakat tetap harus waspada karena potensi penularan masih ada, terutama saat perubahan cuaca dan musim hujan,” ujar Didi, Senin (22/6).
Berdasarkan data Dinkes Batam, jumlah kasus DBD tahun 2026 jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Pada 2025 tercatat 809 kasus, tahun 2024 sebanyak 871 kasus, sedangkan pada 2022 mencapai 902 kasus.
Baca Juga: Heboh Pengadaan Gembok Ditjenpas Rp92,5 Miliar, Harga Satuan Capai Rp945 Ribu
Selain jumlah kasus yang menurun, angka Incident Rate (IR) atau tingkat kejadian DBD juga mengalami perbaikan. Hingga saat ini, IR DBD Batam berada pada angka 15,28 per 100 ribu penduduk.
Angka tersebut turun signifikan dibandingkan 2025 yang mencapai 60,28 per 100 ribu penduduk dan tahun 2024 sebesar 68,21 per 100 ribu penduduk.
Dari sisi persebaran wilayah, wilayah kerja Puskesmas Sei Langkai menjadi penyumbang kasus tertinggi dengan 44 kasus. Kemudian Puskesmas Batu Aji mencatat 27 kasus dan Tanjung Uncang sebanyak 20 kasus.
Sementara berdasarkan kelompok usia, penderita DBD masih didominasi masyarakat usia produktif di atas 15 tahun. Dari total 205 kasus, sebanyak 122 penderita merupakan laki-laki dan 83 perempuan.
Menurut Didi, keberhasilan menekan angka kasus DBD tidak terlepas dari penguatan sistem surveilans, penyelidikan epidemiologi, gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), serta partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Kunci pengendalian DBD ada di lingkungan rumah masing-masing. Kami terus mengajak masyarakat menjalankan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, serta memanfaatkan atau mendaur ulang barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk,” jelasnya.
Ia menegaskan, fogging bukan langkah utama dalam pemberantasan DBD. Upaya paling efektif adalah memutus rantai perkembangbiakan nyamuk dengan menghilangkan tempat-tempat yang menjadi sarang jentik.
Dinkes Batam juga terus melakukan pemantauan melalui puskesmas dan rumah sakit. Apabila ditemukan peningkatan kasus di suatu wilayah, petugas kesehatan akan segera melakukan penyelidikan epidemiologi dan intervensi lapangan.
“Kami berharap tren penurunan ini bisa terus dipertahankan hingga akhir tahun. Namun keberhasilan pengendalian DBD sangat bergantung pada kepedulian masyarakat menjaga kebersihan lingkungan,” tutup Didi. (*)
Editor : Putut Ariyo