Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Data Center Dinilai Belum Mampu Jadi Solusi Pengangguran di Batam

Muhammad Syahban • Jumat, 10 Juli 2026 | 09:31 WIB
Foto udara pembangunan data center di KEK Nongsa Digital Park, Selasa (16/6). BP Batam terus memberi kemudahan pada para investor yang datang berinvestasi di Batam. Foto: Teguh Prihatna/Antara
Foto udara pembangunan data center di KEK Nongsa Digital Park, Selasa (16/6). BP Batam terus memberi kemudahan pada para investor yang datang berinvestasi di Batam. Foto: Teguh Prihatna/Antara

batampos – Masuknya investasi pusat data (data center) ke Batam dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat posisi daerah sebagai pusat ekonomi digital. Namun, investasi tersebut belum dapat menjadi solusi utama untuk menekan angka pengangguran karena karakteristiknya yang lebih padat modal dibanding padat karya.

Akademisi sekaligus Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Batam, Suyono Saputra, mengatakan investasi data center tetap memberikan efek berganda (multiplier effect), tetapi dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja jauh lebih kecil dibanding industri manufaktur.

"Data center merupakan industri padat modal dan padat energi, tetapi tidak padat tenaga kerja. Dampaknya kuat terhadap penerimaan fiskal dan sektor properti, namun relatif kecil terhadap penyerapan tenaga kerja langsung," kata Suyono kepada Batam Pos, Kamis (9/7).

Menurutnya, manfaat ekonomi data center paling terasa pada tiga sektor utama, yakni penerimaan negara, konstruksi, dan utilitas.

Satu fasilitas data center berkapasitas 100 megawatt, misalnya, membutuhkan investasi sekitar USD 1 miliar hingga USD 1,5 miliar. Nilai investasi tersebut berpotensi meningkatkan penerimaan pemerintah melalui PPN, PPh, bea masuk, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sewa lahan dan utilitas.

"BP Batam berpotensi mengoptimalkan PNBP dari sewa lahan dan utilitas data center yang diperkirakan mencapai Rp2 triliun hingga Rp3 triliun per tahun," ujarnya.

Selain itu, pembangunan data center selama sekitar dua tahun juga mampu menyerap ribuan tenaga kerja konstruksi.

"Satu data center berkapasitas 50 megawatt dapat mempekerjakan sekitar 1.500 hingga 2.000 pekerja konstruksi. Namun setelah beroperasi, kebutuhan tenaga kerjanya tinggal sekitar 50 sampai 150 orang," jelasnya.

Operasional pusat data juga meningkatkan permintaan listrik, air bersih, dan jaringan telekomunikasi.

"Untuk listrik saja, satu data center berkapasitas 50 megawatt dapat membayar sekitar Rp80 miliar hingga Rp120 miliar per tahun kepada PLN," katanya.

Tak Sebanding dengan Manufaktur

Meski memberikan kontribusi ekonomi yang besar, Suyono menilai manfaat tersebut tidak sepenuhnya dirasakan masyarakat karena jumlah tenaga kerja yang terserap relatif sedikit.

"Peredaran pendapatan hanya dinikmati sekitar seratus engineer, bukan ribuan buruh seperti di sektor manufaktur. Dampaknya terhadap konsumsi masyarakat, warung makan, pasar, hingga transportasi tentu berbeda," ujarnya.

Ia membandingkan investasi data center senilai USD 1 miliar yang hanya menyerap sekitar 80–150 tenaga kerja langsung dan 300–500 tenaga kerja tidak langsung.

Sebaliknya, investasi manufaktur dengan nilai yang sama mampu membuka lapangan kerja bagi sekitar 8.000–12.000 pekerja langsung dan 15.000–20.000 pekerja tidak langsung melalui rantai pasok dan sektor logistik.

"Kalau target pemerintah adalah menurunkan angka pengangguran dalam satu hingga tiga tahun, industri manufaktur masih menjadi pilihan paling efektif," tegasnya.

Antisipasi Kesenjangan SDM

Suyono juga mengingatkan potensi terjadinya skill gap apabila Batam terlalu bergantung pada investasi data center.

Menurutnya, mayoritas pencari kerja di Batam masih berasal dari lulusan SMA dan SMK, sementara industri pusat data membutuhkan tenaga ahli di bidang teknik, jaringan komputer, cloud computing, dan teknologi informasi.

Karena itu, ia mendorong pemerintah dan BP Batam menjadikan investasi data center sebagai momentum peningkatan kualitas SDM lokal.

Ia mengusulkan agar setiap investor diwajibkan menjalankan program magang dan pelatihan bagi sedikitnya 1.000 orang setiap tahun, memprioritaskan penggunaan tenaga kerja lokal hingga 80 persen, serta membangun ekosistem industri pendukung seperti penyedia layanan internet, vendor kabel, hingga kontraktor sistem pendingin.

"Kalau tidak, data center hanya akan mengimpor engineer dari Jakarta atau Singapura," katanya.

Keseimbangan Investasi

Dalam jangka panjang, Suyono menilai data center tetap menjadi bagian penting dalam transformasi Batam menuju pusat ekonomi digital. Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tidak mengabaikan industri manufaktur yang selama ini menjadi penyerap tenaga kerja terbesar.

Menurutnya, komposisi investasi yang ideal adalah sekitar 70 persen industri padat karya dan 30 persen industri padat modal serta digital.

"Kalau tujuannya meningkatkan pendapatan negara sekaligus membangun branding Batam sebagai digital hub dalam 10 tahun ke depan, data center memang tepat. Tetapi Batam tidak boleh hanya memilih satu sektor. Harus ada keseimbangan antara industri padat karya dan industri digital," ujarnya.

Ia mengingatkan, apabila seluruh investasi hanya diarahkan ke sektor data center, Batam berpotensi kehilangan identitasnya sebagai kota industri.

"Kalau seratus persen ke data center, Batam bisa berubah menjadi kota kantor yang sepi pada malam hari," pungkasnya. (*)

Editor : Jamil Qasim
#Solusi Pengangguran di Batam #data center