Catatan dari Perayaan HAN Bersama KKKS Batam di Pulau Bertam
Sekitar 150 anak berdiri berbaris mengikuti warna baju yang dipakai masing-masing di halaman sekolah lokal jauh, SD Negeri 06, Pulau Bertam, Kecamatan Belakang Padang, Kamis (23/7/2026). Kaus merah, kuning, putih, biru, dan jingga. Di dada bagian kiri ada logo bertuliskan Hari Anak Nasional. Ya, mereka dan seluruh anak Indonesia dirayakan hari ini.
Batampos - Pria kecil bertubuh gempal itu mengenakan kaus putih bersih dan celana pendek, mendatangi koran ini di teras sekolah dan menyapa ramah. Tutur kalimatnya rapi namun dengan artikulasi pelo. “Hi tante, namaku Bule,” ujarnya mengulurkan tangan salaman.
Namanya Aleando. Bocah 9 tahun yang akrab disapa Bule. Masuk akal, karena perawakannya seperti anak bule pada umumnya. Kulit putih bersih, wajah memerah karena sinar matahari, rambut pendek agak kepirangan. “Tapi aku bukan bule. Namaku saja Bule. Mak orang Batam, bapak jantan pulau kat sini (pria asal Pulau Bertam),” ungkapnya polos.
Di antara sekitar 150 anak yang merayakan Hari Anak Nasional (HAN), ia menjadi satu-satunya anak usia sekolah yang tidak mengenakan kaus seragam kegiatan. Meski begitu, ia turut bersukacita menyaksikan keramaian yang jarang ia nikmati itu.
Di balik senyum polosnya, tersimpan kisah tentang perundungan yang membuatnya berhenti sekolah. Harusnya ia duduk di kelas 3 SD saat ini, tapi harus terhenti hanya karena ejekan teman-temannya yang menyebutnya tidak bisa berbicara dan cadel. Hal itu membuat ia memilih tinggal di rumah.
“Mereka ganggu aku, aku tak ada ganggu mereka,” ucapnya lirih sambil memainkan jari tangannya.
Baca Juga: Batam Tuan Rumah FIBA 3x3, Disbudpar Bidik Lonjakan Wisman dan Perputaran Ekonomi
Setiap kali pulang menangis, ia mengadu kepada ibunya, Ena, seorang ibu rumah tangga. “Pernah pulang ke rumah aku nangis. Kata mak ‘kenapa lagi?’ Aku jawab ‘diejek lagi’, lalu mak bilang tak usah sekolah sajalah,” ungkapnya.
Meski demikian, Bule mengaku masih ingin kembali belajar. Dia bercita-cita jadi tentara. “Ikut kata mak aje,” ujarnya.
Kepolosannya yang lain muncul saat bertanya, “Kalau good morning itu selamat pagi ya, Tante? Nanti kalau ketemu bule beneran begitu jawabnya? Aku mau belajar Bahasa Inggris,” ungkapnya.
Bule datang ke acara itu bersama abangnya, Yadi, yang turut merayakan hari anak bersama teman sekelasnya. Dia mengaku hanya punya tiga teman, yakni Yadi sang abang, abangnya yang sudah menikah, dan teman perempuan seusianya, Manda yang ia panggil Bom.
Sementara ayahnya, Amran, adalah seorang nelayan. Tinggal di rumah panggung dekat pelantar. “Bapak nelayan. Tapi pencari cumi juga. Aku suka bantu cari cumi,” ungkapnya.
Inisiatif menghubungi panitia, koran ini memberitahukan singkat kisah Bule, ia pun diikutkan bermain bersama anak-anak lainnya dan mendapat bingkisan.
Pagi itu, kisah Bule seakan larut dalam keceriaan ratusan anak yang berasal dari tiga pulau hinterland dari Pulau Bertam, Pulau Gara, dan Pulau Lingka itu.
Baca Juga: Tak Hanya Meningitis, Vaksin Covid-19 Masih Jadi Syarat Haji dan Umrah
Saat lagu Indonesia Raya berkumandang dari lapangan sederhana sekolah lokal jauh yang berhadapang dengan Masjid Al Muhajirin di undakan bukit di sebah puskemas kecil pulau itu, nada yang mereka lantunkan tak selalu selaras, tetapi semangat tampak dari wajah-wajah kecil polos itu. Ada yang menguap, melambaikan tangan, bercengkerama dengan teman, hingga sesekali menoleh ke arah orang tua yang duduk di tepi lapangan.
Adalah Natasa,7, siswi kelas I SD asal Pulau Lingka. Ia berlari mengejar balon busa yang ditiup relawan PMI Batam bersama teman-temannya. “Senang. Mau main balon,” ujarnya singkat saat ditanya mengenai turut dalam perayaan hari anak ini.
Tawa anak-anak semakin pecah ketika relawan PMI Batam mengajak mereka bernyanyi dan bermain, diselingi penampilan tari dari Sanggar Intan Payong.
Perayaan Hari Anak Nasional ini digelar Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (KKKS) Batam dengan mengundang 150 anak dari jenjang playgroup, SD, hingga SMP, yang dipusatkan di Pulau Bertam untuk mengikuti berbagai permainan edukatif dan upacara sederhana. “Hari ini milik anak-anak bermain bersama PMI Batam. Semua harus bergembira ria,” ujar salah satu panitia dari KKKS, Setyasih Priherlina.
Sekretaris Komisi IV DPRD Batam yang juga ketua panitia HAN 2026 bersama KKKS, Asnawati Atik mengatakan, perhatian pemerintah bagi pendidikan anak-anak hinterland dibutuhkan mengingat mereka adalah para generasi negeri dari pulau penyangga Batam di masa depan.
“Anak-anak di sini berhak mendapat fasilitas layak, perlindungan yang nyaman,” ujar Atik.
Batam kota ramah anak bukan hanya berlaku di kawasan mainland saja melainkan hingga ke pulau-pulau hinterland. Potret Bule yang mendapat perundungan hingga putus sekolah perlu menjadi perhatian bersama. “Lingkungan sekolah yang aman dan bebas perundungan itu wajib hukumnya,” ungkap legislatif dari Partai Nasdem itu.
Sementara itu, Ketua KKKS yang juga Filantropis Batam, Sri Chasanah Soedarsono, mengatakan peringatan Hari Anak Nasional harus menjadi pengingat bahwa anak-anak di wilayah hinterland memiliki hak yang sama untuk tumbuh bahagia dan memperoleh pendidikan yang layak. “Ini Hari Anak Nasional. Anak-anak Indonesia di hinterland juga berhak bersenang-senang. Mereka adalah generasi bangsa di masa depan,” katanya.
Matanya berkaca-kaca saat menyaksikan tawa puluhan anak bermain, belajar, dan bernyanyi di halaman SDN 06 itu. Di usia 87 tahun, perempuan yang akrab disapa Eyang Sri itu mengaku baru pertama kali, ia merayakan peringatan HAN di kawasan yang selama puluhan tahun menjadi tempat pengabdiannya.
Baca Juga: Batam Raup Investasi Rp29,89 Triliun, Singapura Tetap Dominasi
Suasana itu membawanya mengenang para sahabat seperjuangan yang telah lebih dulu meninggal dunia. “Kami pernah tinggal di pulau ini. Membangun pulau ini. Hidup bersama masyarakat pesisir dan suku laut yang dulu eyang masih ingat, mereka tinggal di kapal, kami ajak ke darat. Kami ajari, kami bina dan dampingi setiap hari,” ujarnya.
Kini, sebagian besar perjuangan itu tinggal kenangan. "Saya teringat teman-teman yang sudah mendahului saya. Dulu banyak yang tinggal di sini untuk membina masyarakat. Sekarang sudah tidak ada lagi," tuturnya.
Selama hampir lima dekade mengelola pendidikan di wilayah hinterland, Eyang Sri mengaku lebih sering mengandalkan kemampuan sendiri daripada menunggu bantuan pemerintah. Gedung sekolah diperbaiki semampunya, sementara pembinaan terhadap anak-anak terus dilakukan agar mereka memiliki kesempatan mengubah masa depan.
"Dulu saya tak perlu tunggu Pemda. Ada yang diperbaiki, saya perbaiki semampu saya di sini. Sekarang saya sudah tua. Sudah terbatas gerak,” ujar adik kandung dari Presiden ke-3 RI, BJ Habibie ini.
Menurutnya, tantangan terbesar anak-anak di hinterland bukan sekadar keterbatasan fasilitas, melainkan berkurangnya pendampingan yang berkelanjutan. Ia menilai pembangunan fisik tanpa pembinaan tidak akan menghasilkan perubahan berarti.
“Kalau masyarakat tidak dibina, bagaimana mereka bisa berkembang? Dulu banyak yang datang mendampingi masyarakat setiap hari. Sekarang pembinaan itu sudah jauh berkurang," katanya.
Eyang Sri berharap perhatian terhadap anak-anak hinterland tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Ia menginginkan Pemerintah Provinsi Kepri dan juga Pemko Batam, organisasi sosial, dunia usaha, hingga komunitas dapat berkolaborasi menghadirkan program yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat hinterland.
Menurutnya, pelatihan keterampilan seperti montir, pertanian, maupun kursus singkat lainnya bisa menjadi solusi bagi anak dan remaja hinterland yang tidak melanjutkan pendidikan formal.
Baginya, setiap anak di pulau, termasuk anak suku laut memiliki potensi yang sama besarnya dengan anak-anak mainland di pusat Kota Batam. “Yang mereka butuhkan hanyalah kesempatan dan pendampingan. Ayah mereka nelayan, mereka bisa lebih dari itu,” pintanya.
“Saya berharap mereka punya andil di masyarakat, memiliki keterampilan, bekerja, dan hidup mandiri. Lihatlah tadi, dengan kehadiran kita saja mereka sudah begitu bahagia. Semoga perhatian untuk anak-anak hinterland tidak berhenti hari ini, tetapi terus berlanjut di masa mendatang," pungkasnya.
Perayaan HAN bersama KKKS Batam yang diadakan setiap 23 Juli 2026 setiap tahunnya ini, turut didukung oleh relawan PMI Batam, Dinas Pendidikan Kota Batam, Yayasan Hakka, dan juga Lions Club yang memberikan hadiah dan souvenir perlengkapan sekolah kepada seluruh anak di Pulau Bertam. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak