Terlalu Lama Main Gadget, Anak Berisiko Alami Computer Vision Syndrome

Rengga Yuliandra • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 19:31 WIB
Ilustrasi Computer Vision Syndrome (CVS). F. chatgpt
Ilustrasi Computer Vision Syndrome (CVS). F. chatgpt

batampos – Penggunaan gawai (gadget) yang semakin masif di kalangan anak-anak menjadi perhatian serius tenaga kesehatan. Dokter Spesialis Mata, dr. Hafizah, mengungkapkan bahwa gangguan penglihatan yang kini paling banyak ditemukan bukan lagi semata dipengaruhi faktor keturunan, melainkan akibat Computer Vision Syndrome (CVS) atau sindrom kelelahan mata karena terlalu lama menatap layar digital.

Menurut dr. Hafizah, perubahan pola belajar dan aktivitas sehari-hari membuat anak-anak semakin akrab dengan telepon seluler, tablet, komputer, maupun laptop. Kondisi tersebut meningkatkan risiko gangguan kesehatan mata sejak usia dini.

"Faktor keturunan memang ada, tetapi yang paling banyak saat ini adalah Computer Vision Syndrome atau monitor syndrome. Anak-anak sekarang hampir selalu berhubungan dengan gadget," ujarnya.

Ia menjelaskan, kebiasaan menggunakan gadget dalam waktu lama sering berawal dari orang tua yang memberikan perangkat digital agar anak tetap tenang di rumah. Di sisi lain, proses pembelajaran yang kini banyak memanfaatkan perangkat elektronik membuat durasi menatap layar semakin panjang.

"Supaya anak tenang di rumah, orang tua memberikan gadget. Lama-kelamaan menjadi kebiasaan. Ditambah lagi tugas sekolah sekarang juga banyak menggunakan gadget. Itu yang menyebabkan gangguan pada mata," katanya.

Computer Vision Syndrome merupakan kumpulan keluhan yang muncul akibat mata bekerja terus-menerus menatap layar dalam waktu lama. Gejalanya meliputi mata cepat lelah, mata kering, pandangan kabur, mata terasa perih, sakit kepala, hingga nyeri pada leher dan bahu akibat posisi tubuh yang kurang ergonomis saat menggunakan perangkat digital.

Apabila kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus tanpa disertai waktu istirahat yang cukup, risiko gangguan penglihatan, termasuk rabun jauh (miopia), dapat meningkat.

Karena itu, dr. Hafizah mengimbau para orang tua untuk mengatur durasi penggunaan gadget pada anak serta menerapkan aturan 20-20-20, yaitu setiap 20 menit menatap layar, mata diistirahatkan selama 20 detik dengan melihat objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau enam meter. Cara sederhana ini dapat membantu mengurangi ketegangan pada mata.

Selain membatasi penggunaan gadget, anak-anak juga dianjurkan lebih banyak beraktivitas di luar ruangan dan menjalani pemeriksaan mata secara berkala agar gangguan penglihatan dapat dideteksi sedini mungkin.

Sebagai langkah pencegahan, pihaknya akan melakukan pemeriksaan mata secara bertahap kepada siswa di sejumlah sekolah. Program tersebut bertujuan mendeteksi gangguan penglihatan yang berpotensi menghambat proses belajar.

Sementara itu, pemeriksaan bagi masyarakat berusia 50 tahun ke atas akan difokuskan pada kondisi saraf mata. Kelompok usia tersebut dinilai memiliki risiko lebih tinggi mengalami kerusakan saraf mata akibat penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes.

"Kami akan melakukan pemeriksaan bertahap untuk anak sekolah. Sedangkan usia 50 tahun ke atas akan diperiksa saraf matanya karena banyak yang memiliki hipertensi dan diabetes yang dapat memengaruhi kesehatan mata," tutup dr. Hafizah. (*)

Editor : Jamil Qasim
Computer Vision Syndrome Main Gadget