batampos – Kota Batam belum mampu menembus daftar 10 besar kota dengan daya saing tertinggi di Pulau Sumatra berdasarkan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025. Kondisi ini menjadi perhatian karena Batam selama ini dikenal sebagai salah satu pusat industri, investasi, dan pertumbuhan ekonomi terbesar di kawasan barat Indonesia.
Dalam pemeringkatan IDSD 2025, sejumlah kota di Sumatra mencatat capaian lebih tinggi dibanding Batam. Kota Medan berada di posisi pertama dengan indeks 4,32, disusul Padang dengan indeks 4,25, Pekanbaru dan Palembang masing-masing 4,23, Metro 4,19, serta Tanjungpinang dengan indeks 4,17.
Sementara itu, nama Batam tidak tercantum dalam daftar 10 besar kota dengan daya saing daerah terbaik di Sumatra.
Baca Juga: Tak Sempat Hari Kerja? Imigrasi Batam Hadirkan Layanan Paspor di Akhir Pekan
Menanggapi hasil tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam Firmansyah mengatakan Pemerintah Kota Batam masih melakukan kajian untuk mengetahui faktor yang membuat Batam belum masuk dalam daftar tersebut.
"Saya cek dulu ke Bappeda. Karena penilaian ini menggunakan banyak faktor dan indikator, bukan hanya satu faktor saja," ujar Firmansyah kepada Batam Pos, Minggu (26/7).
Menurutnya, daya saing daerah tidak bisa hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi atau besarnya investasi yang masuk. Ada sejumlah indikator lain yang menjadi ukuran dalam menentukan tingkat kemajuan sebuah daerah.
Investasi Tinggi, Tantangan Pembangunan Masih Ada
Selama ini Batam menjadi salah satu daerah dengan geliat ekonomi terbesar di Kepulauan Riau. Status kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (FTZ), pertumbuhan sektor industri, serta masuknya investasi asing dan domestik menjadi kekuatan utama Batam.
Namun, capaian tersebut belum cukup untuk membawa Batam masuk dalam jajaran kota dengan daya saing tertinggi.
IDSD yang disusun Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengukur berbagai aspek pembangunan daerah. Penilaian tidak hanya melihat kondisi ekonomi, tetapi juga mencakup kelembagaan, infrastruktur, teknologi informasi dan komunikasi, stabilitas ekonomi, kesehatan, kualitas tenaga kerja, pasar tenaga kerja, sistem keuangan, dinamika bisnis, hingga kemampuan inovasi daerah.
Baca Juga: Archipelago Batam Gelar Fun Run 7K, Salurkan Beasiswa Pendidikan untuk Anak-Anak
Artinya, sebuah kota tidak hanya dinilai dari seberapa besar investasi yang masuk, tetapi juga bagaimana pemerintah mampu menciptakan lingkungan yang mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Persoalan Dasar Jadi Pekerjaan Rumah
Di balik statusnya sebagai mesin ekonomi Kepri, Batam masih menghadapi sejumlah persoalan pembangunan yang menjadi tantangan pemerintah daerah.
Beberapa persoalan yang masih menjadi perhatian masyarakat antara lain banjir, pengelolaan sampah, keterbatasan layanan air bersih di sejumlah wilayah, kemacetan, hingga berbagai persoalan sosial perkotaan.
Dari sisi ketenagakerjaan, tingginya pertumbuhan industri juga masih diiringi tantangan penyediaan lapangan kerja yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tingkat pengangguran menjadi salah satu aspek yang terus menjadi perhatian pemerintah.
Selain itu, indikator kota maju juga berkaitan dengan kualitas pelayanan publik, pemerataan pembangunan, kondisi lingkungan, inovasi daerah, serta kemampuan pemerintah menghadirkan ruang hidup yang nyaman bagi masyarakat.
Hasil IDSD 2025 pun menjadi bahan evaluasi bagi Pemko Batam untuk melihat sektor mana saja yang masih perlu diperkuat agar daya saing daerah meningkat.
Firmansyah mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil kajian dari Bappeda Batam terkait indikator yang perlu menjadi perhatian.
"Lagi dipelajari Bappeda," katanya. (*)
Editor : M Tahang