Dolar AS Tembus Rp17.922, Industri Batam Hadapi Peluang dan Tantangan

Jamaluddin Lobang • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 14:31 WIB
Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Batu Ampar. Foto. Cecep Mulyana/ Batam Pos
Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Batu Ampar. Foto. Cecep Mulyana/ Batam Pos

batampos – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang bertahan di kisaran Rp17.922 per dolar AS membawa dampak ganda bagi perekonomian Batam. Pelemahan rupiah memberi keuntungan bagi sektor ekspor, namun di saat yang sama meningkatkan beban biaya bagi industri yang masih bergantung pada impor bahan baku dan mesin.

Sebagai kawasan perdagangan bebas dan pusat industri manufaktur nasional, Batam menjadi salah satu daerah yang paling terdampak oleh fluktuasi nilai tukar. Stabilitas kurs dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing industri, iklim investasi, serta daya beli masyarakat.

Pakar ekonomi sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau Kepulauan (Unrika), Tibrani, mengatakan penguatan dolar AS terhadap rupiah memberikan dampak yang berbeda bagi setiap sektor usaha.

"Perusahaan yang berorientasi ekspor memperoleh keuntungan karena pendapatan dalam dolar meningkat ketika dikonversi ke rupiah. Sebaliknya, biaya impor bahan baku, mesin, dan barang modal menjadi lebih mahal sehingga dapat meningkatkan biaya produksi dan memicu inflasi," ujarnya.

Menurut Tibrani, kondisi tersebut lebih terasa di Batam karena sebagian besar industri manufaktur masih mengandalkan pasokan bahan baku dari luar negeri.

"Khusus di Batam sebagai kawasan industri dan perdagangan internasional, dampaknya cukup signifikan. Banyak industri manufaktur masih bergantung pada bahan baku impor sehingga kenaikan dolar berpotensi meningkatkan biaya operasional. Namun perusahaan yang berorientasi ekspor justru dapat memperoleh tambahan keuntungan dari pelemahan rupiah," katanya.

Ia menegaskan, stabilitas nilai tukar menjadi kunci agar dunia usaha di Batam tetap kompetitif. Gejolak kurs yang tinggi dapat memengaruhi biaya produksi, keputusan investasi, hingga daya beli masyarakat.

"Ke depan, stabilitas nilai tukar menjadi kunci agar dunia usaha di Batam tetap kompetitif, investasi terjaga, dan daya beli masyarakat tidak tergerus oleh kenaikan harga barang impor," jelasnya.

UMKM Berpeluang Tembus Pasar Regional

Di balik tantangan tersebut, pelemahan rupiah juga membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Batam.

Kedekatan geografis Batam dengan Singapura dan Malaysia dinilai menjadi keunggulan tersendiri. Produk makanan, kerajinan, fesyen, hingga jasa pariwisata berpotensi lebih kompetitif karena harganya menjadi relatif lebih murah bagi konsumen yang menggunakan mata uang asing.

"Bagi UMKM Batam, melemahnya rupiah membuka peluang yang cukup besar, terutama bagi pelaku usaha yang produknya dapat dipasarkan ke Singapura dan Malaysia," ujar Tibrani.

Perlu Penguatan Produksi Nasional

Meski demikian, Tibrani menilai penguatan rupiah tidak dapat dicapai hanya melalui intervensi di pasar valuta asing. Menurutnya, solusi jangka panjang terletak pada peningkatan kapasitas produksi nasional dan pengurangan ketergantungan terhadap impor.

"Indonesia harus mampu memproduksi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Selama nilai ekspor lebih kecil daripada impor, tidak mungkin rupiah akan menguat secara signifikan," tegasnya.

Ia mendorong pemerintah dan Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dalam menjaga stabilitas rupiah. Bank Indonesia diharapkan menjaga stabilitas pasar keuangan melalui kebijakan suku bunga, intervensi valuta asing secara terukur, serta penguatan cadangan devisa.

Di sisi lain, pemerintah perlu memperkuat sektor produksi nasional, meningkatkan ekspor, menarik investasi berkualitas, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku dan energi.

"Khusus bagi daerah industri seperti Batam, pemerintah juga perlu memperkuat daya saing kawasan, memberikan insentif bagi industri berorientasi ekspor, serta mendorong UMKM agar mampu menembus pasar internasional," katanya.

Menurut Tibrani, peningkatan kapasitas produksi nasional dan pertumbuhan ekspor akan memperkuat cadangan devisa sehingga stabilitas rupiah lebih terjaga. Kondisi tersebut diyakini mampu memberikan kepastian bagi dunia usaha, investasi, dan pertumbuhan ekonomi Batam dalam jangka panjang.

Editor : Jamil Qasim
dolar AS industri Batam