batampos – Warga Batam mungkin pernah menemukan harga kebutuhan pokok yang berbeda meski membeli komoditas yang sama di hari yang sama. Ayam, beras, cabai, hingga bawang bisa memiliki selisih harga cukup jauh antara satu pasar dengan pasar lainnya.
Perbedaan harga tersebut bukan hanya terjadi antarwilayah, tetapi juga ditemukan di pasar tradisional dalam satu kawasan. Kondisi itu dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari sumber pasokan, biaya distribusi, kualitas barang, hingga biaya operasional pedagang.
Pantauan Batam Pos di sejumlah pasar tradisional menunjukkan variasi harga pada sejumlah kebutuhan utama masyarakat.
Baca Juga: Batam Lirik Pendidikan Vokasi Korea Selatan demi Penuhi Kebutuhan Industri
Di Pasar Fanindo, Batuaji, misalnya, ayam beku dijual dengan harga Rp38 ribu hingga Rp43 ribu per kilogram. Harga tersebut meningkat dibanding sebelumnya yang berada di kisaran Rp35 ribu per kilogram. Sementara ayam segar dijual Rp43 ribu hingga Rp46 ribu per kilogram.
Komoditas beras juga mengalami kenaikan. Beras merek Ayam Pelung ukuran 25 kilogram kini berada di kisaran Rp335 ribu per karung, dari sebelumnya sekitar Rp270 ribu. Beras merek Horas ukuran yang sama dijual sekitar Rp320 ribu per karung atau setara Rp16 ribu per kilogram.
Sementara cabai merah di pasar tersebut dijual sekitar Rp52 ribu per kilogram.
Berbeda dengan kondisi di Pasar Perumnas Sagulung. Harga ayam beku justru turun menjadi Rp38 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp40 ribu. Begitu juga daging beku yang turun dari Rp100 ribu menjadi Rp90 ribu per kilogram, serta ayam segar dari Rp43 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram.
Namun sejumlah komoditas lain mengalami kenaikan. Beras merek Padang naik menjadi Rp15 ribu per kilogram dari Rp13 ribu. Cabai hijau mencapai Rp62 ribu per kilogram, bawang merah Rp38 ribu per kilogram, dan bawang putih Rp36 ribu per kilogram.
Pedagang Khawatir Biaya Produksi Naik
Perubahan harga bahan pokok turut dirasakan pelaku usaha kuliner yang setiap hari bergantung pada pasokan pasar.
Rosita, pedagang ayam penyet di Batuaji, mengatakan kenaikan harga bahan baku membuat biaya operasional usaha ikut meningkat. Namun, ia belum bisa menaikkan harga jual makanan karena khawatir kehilangan pelanggan.
Baca Juga: Nelayan Bintan Utara Tolak Pelabuhan Sei Gentong Jadi Pelra, Khawatir Rusak Ekosistem
"Harga beras naik, tapi kami tidak bisa menaikkan harga makanan. Kalau naik, konsumen bisa kabur, sementara kami tidak dapat untung," ujarnya.
Ia berharap pemerintah terus menjaga kestabilan harga bahan pokok agar usaha kecil tetap bisa bertahan di tengah perubahan harga pasar.
Harga Tidak Bisa Disamakan
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam, Wahyu Daryatin, mengatakan perbedaan harga antar pasar merupakan kondisi yang sulit dihindari.
Menurutnya, harga jual suatu komoditas dipengaruhi banyak aspek, seperti kualitas produk, lokasi penjualan, waktu transaksi, hingga biaya operasional masing-masing pedagang.
"Itu hal yang tak bisa kita kendalikan. Harga juga tak bisa sama," kata Wahyu kepada Batam Pos, Selasa (28/7).
Ia menjelaskan, pemerintah menggunakan Pasar Induk Jodoh atau Tos 3000 sebagai salah satu acuan pemantauan harga. Selain itu, Disperindag memiliki petugas yang melakukan pengecekan harga secara rutin di sejumlah pasar.
"Mungkin lagi fluktuatif. Yang jelas tempat jualan beda, jam berbeda, itu bisa jadi faktor harganya berbeda," ujarnya.
Baca Juga: BGN Siapkan Sistem Pengawasan SPPG dan Supplier, Cegah Kongkalikong Program MBG
Pemantauan harga dilakukan tiga kali dalam sepekan di Pasar Tos 3000 serta sejumlah pasar lainnya, seperti Pasar Puja Bahari, Mega Legenda, MB 2, Tiban Center, dan Pasar SP Sagulung.
Wahyu memastikan, apabila ditemukan selisih harga yang terlalu jauh dibandingkan harga acuan, pihaknya akan melakukan penelusuran.
"Kalau jauh, pasti itu akan kami telusuri dan tindak lanjuti," katanya.
Ia juga memastikan stok sejumlah kebutuhan pokok di Batam masih aman, mulai dari ayam, daging, telur, beras, gula, hingga minyak.
Menurut Wahyu, menyamakan harga seluruh komoditas di semua pasar membutuhkan intervensi besar dari pemerintah.
"Kalau mau sama, pemerintah harus subsidi, tapi kita belum mampu," ujarnya.
Selain itu, Batam masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, seperti Pulau Jawa dan Sumatera. Biaya transportasi dan distribusi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga hingga sampai ke tangan konsumen.
Faktor Distribusi Jadi Penentu
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau Kepulauan, Tibrani, mengatakan perbedaan harga antar pasar merupakan bagian dari mekanisme pasar.
Menurutnya, sejumlah faktor yang memengaruhi harga antara lain biaya distribusi dan logistik, asal pemasok, jumlah penjualan, biaya operasional pedagang, serta keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Baca Juga: PN Batam Siap Gelar Sidang Perdana Empat Eks Anggota Polda Kepri
"Faktor yang paling dominan adalah perbedaan biaya distribusi dan logistik, sumber pemasok, volume penjualan, biaya operasional pedagang, serta keseimbangan pasokan dan permintaan di masing-masing lokasi," jelasnya.
Ia menilai perbedaan harga masih tergolong wajar selama selisihnya tidak terlalu besar dan dipengaruhi faktor ekonomi yang jelas.
Namun, apabila terjadi perbedaan harga yang tinggi dan berlangsung lama, pemerintah perlu mengevaluasi rantai distribusi serta memperkuat pengawasan tata niaga.
Sebagai daerah kepulauan, Batam memiliki tantangan tersendiri karena sebagian besar kebutuhan pangan didatangkan dari luar daerah. Biaya transportasi laut, bongkar muat, serta distribusi antarpulau menjadi komponen penting dalam pembentukan harga.
"Setiap gangguan distribusi atau kenaikan biaya logistik akan cepat berdampak pada harga di tingkat pedagang dan akhirnya dibayar oleh konsumen," katanya.
Tibrani menyarankan Disperindag memperkuat sistem pemantauan harga secara berkala, memperlancar distribusi pasokan, memperluas operasi pasar ketika terjadi lonjakan harga, serta meningkatkan koordinasi dengan distributor dan daerah pemasok.
Dengan langkah tersebut, perbedaan harga tetap berada dalam batas wajar, sementara mekanisme pasar dan daya beli masyarakat tetap terjaga. (*)
Editor : M Tahang