Hasil IDSD 2025 Jadi Alarm bagi Batam, Amsakar Siapkan Evaluasi

Muhammad Sya'ban • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 23:00 WIB
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad. Foto: BP Batam untuk Batam Pos.
Kepala BP Batam/Wali Kota Batam, Amsakar Achmad. Foto: BP Batam untuk Batam Pos.

batampos - Kota Batam belum mampu menembus jajaran 10 besar kota dengan daya saing tertinggi di Pulau Sumatra berdasarkan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 yang dirilis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Padahal, Batam selama ini dikenal sebagai salah satu pusat industri dan investasi terbesar di kawasan Sumatra. Status sebagai kawasan perdagangan bebas atau Free Trade Zone (FTZ) serta pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi belum cukup mengantarkan Batam masuk dalam daftar kota dengan nilai daya saing tertinggi.

Hasil pemeringkatan tersebut kini menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah Kota (Pemko) Batam. Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengatakan, data IDSD menjadi masukan penting untuk melihat aspek pembangunan yang masih perlu diperbaiki.

Baca Juga: Investasi Besar Belum Cukup, Batam Belum Masuk 10 Kota Maju Sumatra Versi IDSD 2025

"Data-data itu penting bagi kami untuk melakukan evaluasi dan perbaikan. Kami ingin mengetahui indikator apa saja yang perlu dibenahi sehingga dapat meningkatkan daya saing Batam," ujar Amsakar, Selasa (28/7).

Menurut dia, Pemko Batam tidak ingin memperdebatkan hasil pemeringkatan tersebut. Sebaliknya, hasil IDSD akan dijadikan bahan introspeksi untuk mengetahui sektor mana yang masih membutuhkan penguatan.

Amsakar menyebutkan, Batam memiliki sejumlah modal besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Mulai dari investasi yang terus masuk, iklim usaha yang kondusif, hingga kemudahan pelayanan perizinan melalui Mal Pelayanan Publik (MPP) dan sistem Online Single Submission (OSS).

Selain itu, pemerintah juga terus memberikan dukungan terhadap pelaku usaha melalui kemudahan perizinan, program pembiayaan bagi usaha mikro, serta fasilitas pinjaman dengan bunga rendah.

Dari sisi pembangunan infrastruktur, Pemko Batam juga terus mempercepat penanganan sejumlah persoalan perkotaan, termasuk pengendalian banjir melalui normalisasi drainase dan pembangunan infrastruktur pengendali banjir di berbagai wilayah.

Amsakar juga menyoroti capaian sosial, salah satunya penurunan angka kemiskinan di Batam. Ia menyebut angka kemiskinan turun dari 4,85 persen menjadi 3,81 persen.

Menurutnya, persoalan pengangguran di Batam juga perlu dilihat secara menyeluruh. Tingginya angka pengangguran tidak hanya dipengaruhi kemampuan penyerapan tenaga kerja, tetapi juga karena Batam menjadi magnet bagi pencari kerja dari berbagai daerah.

Baca Juga: Viral Promosi Bernuansa Sensual, Kadisparbud Batam Panggil Manajemen Luxor Spa

"Batam menjadi tujuan masyarakat untuk mencari pekerjaan karena investasi terus tumbuh. Itu juga menjadi salah satu faktor yang perlu dipahami dalam membaca data pengangguran," katanya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Batam Tri Wahyu Rubianto mengatakan pihaknya masih melakukan kajian terhadap hasil IDSD 2025.

Menurut dia, pemerintah akan mengevaluasi indikator-indikator yang menyebabkan posisi Batam belum mampu masuk dalam daftar 10 besar kota berdaya saing di Sumatra.

"Kami sedang rapat bersama Pak Wali membahas hal itu. Nanti akan kami evaluasi dan cari penyebabnya," ujarnya.

Tri menilai Batam tetap memiliki sejumlah keunggulan, terutama sebagai kawasan industri nasional dan daerah dengan status FTZ. Namun, keunggulan ekonomi tersebut belum otomatis membuat seluruh indikator daya saing berada pada posisi tinggi.

Sebab, IDSD BRIN tidak hanya mengukur aspek ekonomi, tetapi juga berbagai faktor lain seperti kualitas kelembagaan, infrastruktur, teknologi informasi dan komunikasi, stabilitas ekonomi, kesehatan, keterampilan tenaga kerja, pasar tenaga kerja, sistem keuangan, hingga kemampuan inovasi daerah.

Dalam pemeringkatan IDSD 2025 tingkat kota di Sumatra, Medan berada di posisi pertama dengan nilai indeks 4,32. Kemudian disusul Padang dengan indeks 4,25, serta Pekanbaru dan Palembang masing-masing 4,23.

Bagi Pemko Batam, hasil tersebut menjadi pekerjaan rumah baru. Evaluasi terhadap indikator yang masih rendah akan menjadi dasar untuk menyusun strategi peningkatan daya saing agar pertumbuhan investasi dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pembangunan daerah. (*)

Editor : M Tahang
Hasil IDSD 2025 10 besar kota berdaya saing di Sumatra amsakar achmad wali kota batam