batampos – Upaya pengendalian HIV/AIDS di Kota Batam masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan tes HIV hingga kuatnya stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu penghambat utama dalam menekan angka penularan penyakit di kota perbatasan tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, dr. Didi Kusmarjadi, mengatakan stigma terhadap ODHA masih membuat banyak kelompok berisiko enggan memeriksakan diri, meski layanan pemeriksaan HIV dan pengobatan telah tersedia secara gratis di fasilitas kesehatan.
"Stigma membuat banyak orang takut memeriksakan diri. Padahal layanan tes HIV dan pengobatan tersedia secara gratis. Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang pasien menjalani hidup sehat dan mencegah penularan kepada orang lain," ujar Didi.
Baca Juga: Jalan Lingkar Batam Dipercepat, Tiga Koridor Baru Disiapkan Urai Kemacetan
Menurutnya, Batam sebagai kota dengan mobilitas penduduk yang tinggi dan berbatasan langsung dengan Singapura serta Malaysia memiliki risiko lebih besar terhadap penyebaran HIV maupun Infeksi Menular Seksual (IMS). Karena itu, deteksi dini melalui pemeriksaan rutin menjadi langkah penting untuk mencegah penularan.
Dinkes Batam mencatat, kelompok populasi kunci, terutama laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), masih belum rutin memanfaatkan layanan skrining HIV. Selain itu, penyebaran kelompok berisiko di berbagai lokasi membuat upaya penjangkauan oleh tenaga kesehatan menjadi lebih kompleks.
Tantangan lainnya adalah masih adanya sejumlah kawasan yang belum memberikan akses bagi petugas kesehatan untuk melakukan skrining. Kepatuhan penggunaan kondom maupun terapi pencegahan HIV menggunakan Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) juga masih tergolong rendah.
Di sisi lain, Dinkes juga menghadapi keterbatasan ketersediaan obat IMS dan bahan medis habis pakai (BMHP). Kondisi tersebut diperparah dengan masih banyaknya pasien yang datang berobat setelah penyakit memasuki stadium lanjut.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Batam, sepanjang Januari hingga Juni 2026 sebanyak 16.089 orang telah menjalani pemeriksaan IMS. Dari jumlah tersebut ditemukan 123 kasus, dengan 122 pasien telah mendapatkan pengobatan.
Kasus IMS didominasi kelompok usia produktif 25–49 tahun sebanyak 68 kasus. Sementara kelompok usia 20–24 tahun tercatat 35 kasus, disusul usia 15–19 tahun sebanyak 17 kasus. Berdasarkan jenis kelamin, penderita terdiri atas 71 laki-laki dan 52 perempuan.
Didi menegaskan, keberhasilan pengendalian HIV dan IMS tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat untuk menghapus stigma terhadap ODHA.
Karena itu, Dinkes Batam terus memperluas layanan skrining HIV dan IMS di seluruh puskesmas dan rumah sakit, meningkatkan edukasi kepada kelompok berisiko, serta mendorong penggunaan kondom dan PrEP sebagai upaya pencegahan penularan.
"Target kami bukan sekadar menemukan kasus, tetapi memastikan setiap pasien mendapatkan pengobatan dan memutus mata rantai penularan. Dukungan masyarakat sangat dibutuhkan agar target Three Zero, yakni nol infeksi baru, nol kematian akibat AIDS, dan nol stigma terhadap ODHA, dapat tercapai," tegasnya. (*)
Editor : Putut Ariyo