batampos - Proyek rekonstruksi Jalan Gajah Mada yang dimulai bersamaan dengan masuknya tahun ajaran baru memicu kemacetan panjang di salah satu jalur utama Kota Batam. Antrean kendaraan mengular hingga sekitar tiga kilometer pada jam sibuk, membuat waktu tempuh warga meningkat hampir dua kali lipat.
Pantauan Batam Pos, Rabu (29/7), kemacetan terjadi di ruas Jalan Gajah Mada, tepatnya di sekitar Universitas Internasional Batam (UIB). Antrean kendaraan membentang dari kawasan Tiban Centre hingga Flyover Sei Ladi. Dari arah sebaliknya, kepadatan terlihat mulai Simpang Rumah Sakit Awal Bros hingga kawasan UIB dan memanjang ke sekitar Perumahan Southlink.
Di sejumlah titik, arus lalu lintas nyaris tidak bergerak. Banyak pengendara sepeda motor memilih mematikan mesin karena harus menunggu antrean dalam waktu lama.
Kemacetan diperparah dengan penutupan sementara akses jalan di depan UIB untuk mendukung pekerjaan rekonstruksi. Padahal, ruas tersebut merupakan salah satu akses utama yang menghubungkan kawasan Tiban, Batam Centre, Nagoya, hingga Batu Ampar.
Akibatnya, perjalanan yang biasanya ditempuh sekitar 30 menit kini memakan waktu hingga satu jam.
Tidak sedikit pengendara mencoba mencari jalan pintas demi menghindari antrean. Sebagian sepeda motor melintasi jalan tanah, sementara lainnya nekat melawan arus, memotong jalur, menggunakan trotoar, hingga melintas di bahu jalan. Kondisi itu dinilai berisiko memicu kecelakaan sekaligus mengganggu pengguna jalan lainnya.
Kemacetan paling parah terjadi pada pagi dan sore hari, bertepatan dengan jam berangkat dan pulang kerja. Aktivitas mahasiswa di UIB serta kendaraan yang mengantar siswa ke Sekolah Kartini turut menambah kepadatan lalu lintas di sekitar lokasi proyek.
Randi, warga yang setiap hari melintasi Jalan Gajah Mada, menilai waktu pelaksanaan proyek kurang tepat. Menurutnya, pekerjaan semestinya dilakukan saat masa libur sekolah agar dampaknya terhadap arus lalu lintas tidak terlalu besar.
"Seharusnya perbaikan jalan dilakukan saat libur sekolah sehingga tidak menimbulkan kemacetan sepanjang ini," ujarnya.
Ia menilai pemerintah perlu mempertimbangkan kondisi lalu lintas sebelum mengerjakan proyek di jalan utama. Terlebih, ruas Jalan Gajah Mada merupakan akses vital bagi ribuan warga yang beraktivitas setiap hari.
"Di lokasi perbaikan ada kampus dan sekolah. Itu tentu menambah kepadatan kendaraan," katanya.
Randi berharap pekerjaan dapat dilakukan pada jam-jam ketika volume kendaraan lebih rendah sehingga tidak terlalu mengganggu aktivitas masyarakat.
"Pelaksanaan perbaikan jalan sebaiknya dilakukan pada jam-jam yang lalu lintasnya tidak terlalu padat agar masyarakat tidak terlalu terdampak," tambahnya.
Keluhan serupa disampaikan Wahyu, pengemudi ojek online. Ia mengatakan kemacetan telah terjadi selama tiga hari terakhir dengan antrean kendaraan yang mencapai lebih dari tiga kilometer pada pagi hari.
"Saya sampai mematikan motor karena kendaraan tidak bergerak. Pemerintah seharusnya memikirkan dampaknya bagi masyarakat saat menentukan waktu pengerjaan," katanya.
Perbaikan Jalan Gajah Mada merupakan bagian dari proyek rekonstruksi yang dilaksanakan Badan Pengusahaan (BP) Batam. Berdasarkan keterangan resmi BP Batam, pekerjaan pada ruas Pura Agung Amerta Bhuana hingga Taman Kota dimulai sejak 25 Juli 2026 dan ditargetkan rampung dalam waktu empat minggu, bergantung pada kondisi cuaca dan tingkat kesulitan pekerjaan.
Rekonstruksi tidak hanya berupa penambalan jalan, tetapi meliputi pembongkaran beton yang rusak, perbaikan dan pemadatan lapisan pondasi, pengecoran ulang menggunakan beton bertulang, hingga pengaspalan.
Selama proyek berlangsung, pengendara harus menghadapi penyempitan badan jalan serta pengaturan arus lalu lintas di sekitar lokasi. Kondisi itu diperkirakan masih akan memicu kepadatan kendaraan hingga pekerjaan selesai.
Editor : Yofi Yuhendri