Bau Limbah Dapur MBG Dikeluhkan Berbulan-bulan, SPPG Akui Pipa IPAL Terlepas"

Jamil Qasim • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 19:31 WIB
Saluran drainase di belakang Perumahan Buana Poin, Sagulung, Batam, dipenuhi endapan limbah yang diduga berasal dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (31/7). Foto: M. Sya
Saluran drainase di belakang Perumahan Buana Poin, Sagulung, Batam, dipenuhi endapan limbah yang diduga berasal dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (31/7). Foto: M. Sya'ban/Batam Pos

batampos – Keluhan warga Perumahan Buana Poin, Kecamatan Sagulung, terkait bau menyengat yang diduga berasal dari limbah dua dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya mendapat tanggapan dari pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Pengelola mengakui terdapat pipa menuju Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang terlepas sehingga air limbah mengalir ke drainase di belakang permukiman. Namun, mereka menyebut kebocoran tersebut baru terjadi dalam dua hingga tiga hari terakhir.

Baca Juga: Tujuh Proyek Jalan Strategis di Batam Dikebut, Ruas Batamindo–Tanjung Piayu Tembus 52 Persen

Penjelasan itu berbeda dengan keterangan warga yang mengaku bau tak sedap telah tercium hampir setiap hari selama berbulan-bulan.

Ketua Koordinator Sub Penyelenggara SPPG Kota Batam, Defri Frenaldi, mengatakan dua dapur yang dipersoalkan warga sebenarnya telah dilengkapi fasilitas IPAL. Meski demikian, pihaknya akan menurunkan tim untuk memastikan sistem pengolahan limbah berfungsi sebagaimana mestinya.

"Kalau IPAL berfungsi, minimal air buangannya jernih walaupun masih ada baunya. Saya juga sudah mengarahkan koordinator Kecamatan Sagulung untuk mengecek langsung," ujar Defri, Jumat (31/7).

Defri menambahkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan kepala SPPG di dua dapur tersebut untuk menindaklanjuti laporan warga. Berdasarkan laman resmi SPPG, dua dapur yang dimaksud berkode SPPG Kota Batam Sagulung Sungai Langkai 2 dan Sungai Langkai 3.

Sementara itu, Kepala Dapur SPPG, Emanuel, mengatakan hasil pemeriksaan menunjukkan adanya pipa saluran menuju bak IPAL yang terlepas sehingga limbah mengalir ke selokan.

Ia menjelaskan limbah dapur seharusnya terlebih dahulu melewati grease trap, yakni alat penyaring yang berfungsi menahan lemak, minyak, dan padatan ringan sebelum air limbah diproses di IPAL.

Baca Juga: Lebih dari 9.000 Warga Masih Mengungsi Pascagempa Magnitudo 7,1 di Kumamoto

"Dulu sebelum ada grease trap, limbah sempat meluap sampai ke depan," katanya.

Emanuel mengakui pihaknya tidak menyadari adanya saluran yang terlepas.

"Yang tidak kami sadari ternyata ada pipa yang terlepas di bagian belakang. Kami meyakini kondisi itu baru terjadi dua sampai tiga hari terakhir karena sebelumnya tidak ada bau," ujarnya.

Menanggapi keluhan warga, Emanuel memastikan pihaknya akan segera membersihkan saluran serta melakukan pemeriksaan rutin agar kejadian serupa tidak terulang.

"Setelah ini kami akan lebih waspada dan rutin melakukan pengecekan," katanya.

Ia juga membenarkan adanya saluran yang bermuara ke drainase di belakang permukiman. Namun menurutnya, saluran tersebut merupakan jalur pembuangan air biasa, bukan saluran limbah yang belum diolah.

Koordinator SPPG lainnya, Eliza, mengatakan dapur yang dikelolanya rutin membersihkan saluran pembuangan satu hingga dua kali setiap pekan.

"Mungkin saat bapak datang kami belum sempat membersihkan karena masih proses distribusi MBG," ujarnya.

Menurut Eliza, dapurnya menggunakan IPAL yang sama dengan dapur di sebelah, meski masing-masing memiliki jalur saluran tersendiri.

"Memang belum kami pasang stiker penanda. Air yang mengalir ke selokan itu merupakan air bekas pencucian wadah makanan (ompreng), sedangkan limbah sudah diproses melalui IPAL," katanya.

Sebelumnya, warga Perumahan Buana Poin mengeluhkan bau menyengat yang diduga berasal dari limbah dua dapur SPPG yang berada tepat di belakang permukiman, di seberang Polsek Sagulung. Warga menyebut endapan sisa makanan, seperti nasi, sayur, wortel, hingga potongan daging, terlihat memenuhi saluran drainase sehingga menimbulkan bau tidak sedap.

Ketua RT setempat, Moh Zaeni, menduga tiga bak pengolahan limbah yang tersedia di lokasi belum berfungsi optimal. Ia menilai ukuran pipa pembuangan yang relatif kecil diduga tidak mampu menampung debit limbah dari aktivitas dua dapur tersebut sehingga limbah meluap ke drainase. (*)

Editor : Jamil Qasim
Limbah SPPG Mbg