Pengelola Dapur MBG Akui Pipa IPAL Terlepas, Warga Sagulung Sebut Bau Limbah Sudah Berbulan-bulan

Muhammad Sya'ban • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 12:29 WIB
Saluran drainase di belakang Perumahan Buana Poin, Sagulung, Batam, dipenuhi endapan limbah yang diduga berasal dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (31/7). Foto: M. Sya
Saluran drainase di belakang Perumahan Buana Poin, Sagulung, Batam, dipenuhi endapan limbah yang diduga berasal dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (31/7). Foto: M. Sya'ban/Batam Pos

batampos – Pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akhirnya merespons keluhan warga Perumahan Buana Poin, Sagulung, terkait bau menyengat yang diduga berasal dari limbah dua dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pengelola mengakui adanya pipa menuju instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang terlepas sehingga air limbah mengalir ke saluran drainase di belakang permukiman. Namun, mereka menyebut kebocoran tersebut baru terjadi dalam dua hingga tiga hari terakhir.

Keterangan itu berbeda dengan pengakuan warga yang menyatakan bau tidak sedap sudah tercium hampir setiap hari selama beberapa bulan terakhir.

 

Pengelola Pastikan Akan Cek IPAL

Ketua Koordinator Sub Penyelenggara SPPG Kota Batam, Defri Frenaldi, mengatakan dua dapur yang dipersoalkan sebenarnya telah dilengkapi fasilitas IPAL. Meski demikian, pihaknya akan menurunkan tim untuk memastikan sistem pengolahan limbah berfungsi dengan baik.

"Kalau dia berfungsi minimal hasilnya jernih walaupun masih ada baunya. Saya juga arahkan koordinator Kecamatan Sagulung untuk mengecek," kata Defri, Jumat (31/7).

Ia menambahkan pihaknya akan berkoordinasi dengan kepala SPPG di dua dapur tersebut untuk menindaklanjuti laporan masyarakat.

Berdasarkan laman resmi SPPG, dua dapur yang dimaksud berkode SPPG Kota Batam Sagulung Sungai Langkai 2 dan Sungai Langkai 3.

 

Pipa IPAL Disebut Terlepas

Salah seorang Kepala Dapur SPPG, Emanuel, mengatakan hasil pemeriksaan menunjukkan adanya pipa saluran menuju bak IPAL yang terlepas sehingga limbah mengalir ke selokan.

Menurutnya, limbah dapur seharusnya terlebih dahulu melewati grease trap, yaitu alat yang berfungsi menyaring lemak, minyak, dan padatan sebelum masuk ke instalasi pengolahan limbah.

"Dulu sebelum ada grease trap itu, limbah meluap sampai ke depan," ujarnya.

Emanuel mengakui pihaknya tidak menyadari adanya kebocoran pada saluran tersebut.

"Yang kami tidak aware ternyata ada yang terlepas di belakang. Kami yakini limbah itu baru dua sampai tiga hari yang lalu, karena selama ini tidak bau," katanya.

 

Warga: Bau Sudah Berbulan-bulan

Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan kesaksian warga.

Salah seorang warga, Indra, sebelumnya mengaku bau menyengat dari arah dapur MBG sudah tercium hampir setiap hari selama berbulan-bulan dan mengganggu kenyamanan lingkungan.

Menanggapi perbedaan keterangan itu, Emanuel memastikan pihaknya akan melakukan pembersihan serta pemeriksaan rutin terhadap saluran pembuangan.

"Setelah ini kami akan lebih aware lagi, kami akan rutin mengecek," ujarnya.

Ia juga membenarkan adanya saluran yang bermuara ke drainase, namun menegaskan saluran tersebut merupakan drainase air biasa, bukan jalur pembuangan limbah.

 

Dapur Rutin Bersihkan Saluran

Koordinator SPPG lainnya, Eliza, mengatakan dapurnya secara rutin membersihkan saluran pembuangan satu hingga dua kali setiap pekan.

Menurutnya, pembersihan kembali akan dilakukan setelah proses distribusi makanan MBG selesai.

"Mungkin pas bapak datang kami belum melakukan pembersihan, kami masih sedang distribusi MBG," katanya.

Eliza menjelaskan dapurnya menggunakan IPAL yang sama dengan dapur di sebelah, meski memiliki jalur pipa yang berbeda.

Ia juga menyebut air yang mengalir ke drainase merupakan air bekas pencucian wadah makanan (ompreng) yang telah melalui sistem pengolahan limbah.

 

Warga Minta Penanganan Tuntas

Sebelumnya, warga Perumahan Buana Poin mengeluhkan bau menyengat dari dua dapur MBG yang berada tepat di belakang permukiman, di seberang Polsek Sagulung.

Warga mengaku menemukan endapan sisa makanan seperti nasi, sayur, wortel, hingga daging memenuhi saluran drainase sehingga menimbulkan bau tidak sedap.

Ketua RT setempat, Moh Zaeni, juga menduga tiga bak pengolahan limbah yang tersedia di lokasi belum berfungsi optimal. Ia menilai ukuran pipa pembuangan yang terlalu kecil diduga menjadi salah satu penyebab limbah tidak tertampung dengan baik. (*)

Editor : Putut Ariyo
SPPG Batam limbah MBG MBG Batam Sagulung ipal