batampos - Fenomena fatherless atau anak yang tumbuh tanpa kehadiran figur ayah dalam proses pengasuhan menjadi perhatian Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Kepulauan Riau. Kondisi tersebut dinilai tidak hanya terjadi ketika ayah tidak tinggal bersama keluarga, tetapi juga saat perannya dalam mendampingi tumbuh kembang anak semakin minim.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kepulauan Riau, dr. Victor Palimbong, mengatakan tantangan tersebut kini dihadapi banyak negara, termasuk Indonesia. Menurutnya, peran ayah tidak boleh berhenti sebagai pencari nafkah, tetapi juga harus hadir secara emosional dalam kehidupan anak.
“Anak tidak hanya membutuhkan ibu, sementara ayah sekadar mencari nafkah. Anak juga membutuhkan kehadiran ayah dalam setiap proses tumbuh kembangnya,” kata Victor.
Ia menjelaskan, keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Karena itu, tanggung jawab pengasuhan harus dijalankan bersama oleh ayah dan ibu.
Menurut Victor, kesibukan bekerja tidak boleh menjadi alasan berkurangnya keterlibatan ayah di rumah. Kehadiran ayah, kata dia, tidak diukur dari lamanya waktu bersama anak, melainkan dari kualitas interaksi yang dibangun.
Salah satu cara sederhana yang dinilai efektif adalah menghidupkan kembali kebiasaan makan bersama keluarga.
Di meja makan, orang tua memiliki kesempatan mendengarkan cerita anak, memberikan apresiasi, menyampaikan nasihat, hingga membangun kedekatan emosional yang kerap sulit tercipta di tengah rutinitas sehari-hari.
“Waktu sedikit saja yang penting berkualitas,” ujarnya.
Victor menambahkan, keterlibatan ayah juga berperan penting dalam upaya pencegahan stunting. Menurutnya, stunting tidak hanya dipengaruhi oleh kecukupan gizi, tetapi juga pola asuh dan perhatian orang tua terhadap kesehatan anak.
Dengan keterlibatan ayah dalam pengasuhan, keluarga dinilai lebih mampu memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi sekaligus mencegah infeksi berulang yang dapat memicu stunting.
“Kalau pengasuhannya baik, saya yakin stunting kita akan turun lebih daripada yang kita targetkan,” katanya.
Untuk memperkuat peran ayah, Kemendukbangga/BKKBN terus menjalankan berbagai program, salah satunya Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Program tersebut mendorong ayah lebih aktif mendampingi anak, mulai dari mengantar di hari pertama sekolah, mengambil rapor, hingga terlibat dalam aktivitas pengasuhan sehari-hari.
Selain itu, BKKBN juga terus mengajak pasangan usia subur mengikuti program keluarga berencana, termasuk memanfaatkan layanan KB gratis yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026.
Victor mengajak masyarakat memulai perubahan dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Menurutnya, membangun Generasi Emas Indonesia 2045 tidak selalu memerlukan langkah besar, tetapi bisa dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
“Kembali ke meja makan adalah tindakan kecil yang akan memberikan manfaat sangat besar bagi generasi kita ke depan. Dari keluarga yang kuat, kita bisa melahirkan Generasi Emas 2045,” tutupnya.
Editor : Yofi Yuhendri