batampos - Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam mulai mengalihkan fokus pembinaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari pelatihan menuju pendampingan usaha. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan ilmu yang diperoleh peserta benar-benar berdampak terhadap perkembangan usaha, sekaligus membuka peluang pasar hingga ke luar negeri.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam, Salim, mengatakan pelatihan yang digelar secara bertahap telah diikuti sekitar 300 pelaku UMKM. Sebanyak 150 peserta mengikuti pelatihan inovasi produk, sedangkan 150 lainnya mengikuti pelatihan pemasaran digital.
Menurut Salim, keberhasilan UMKM naik kelas tidak hanya diukur dari besarnya skala usaha, tetapi juga dari peningkatan kemampuan pelaku usaha dalam berinovasi, mengembangkan produk, dan memasarkan hasil usahanya.
“Naik kelas itu tidak langsung dari kecil menjadi besar atau dari mikro menjadi kecil. Tapi secara bertahap,” katanya, Minggu (2/82026)
Ia mencontohkan, pelaku UMKM yang sebelumnya hanya memproduksi satu jenis produk didorong untuk menciptakan variasi baru agar memiliki nilai tambah dan daya saing yang lebih baik.
Baca Juga: Macet Setiap Hari, Warga Desak Jalan Marina City Segera Dibuka Dua Jalur
Untuk memastikan hasil pembinaan berjalan efektif, Dinas Koperasi melibatkan tenaga konsultan yang bertugas memantau perkembangan usaha para peserta.
Pemantauan dilakukan terhadap berbagai indikator, mulai dari kondisi usaha, tingkat keaktifan, hingga perkembangan omzet.
“Omzetnya juga dilihat, dinilai. Dari sekarang dapat berapa omzetnya, dari jualannya, produknya, apakah ada peningkatan,” ujar Salim.
Menurutnya, evaluasi tersebut penting agar pelatihan pemasaran digital maupun branding tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menghasilkan perubahan bagi pelaku usaha.
Namun, upaya memperluas pasar UMKM Batam masih menghadapi tantangan, terutama tingginya biaya pengiriman barang ke luar Batam.
Salim menjelaskan, meskipun pemasaran digital membuka peluang menjangkau konsumen di berbagai daerah, biaya distribusi masih menjadi kendala utama bagi pelaku UMKM.
“Kita di Batam ini kalau keluar susah,” katanya.
Ia menjelaskan, karakteristik Batam sebagai kawasan perdagangan bebas (Free Trade Zone/FTZ) memberikan berbagai kemudahan bagi barang yang masuk. Namun, ketika produk dikirim keluar Batam, pelaku usaha harus memenuhi sejumlah ketentuan dan menanggung biaya tambahan yang membuat ongkos distribusi menjadi lebih tinggi dibandingkan daerah lain.
Menurut Salim, persoalan tersebut telah disampaikan kepada pemerintah provinsi maupun kementerian agar dicarikan solusi.
“Di satu sisi kelebihannya ada Batam ini, tapi di sisi lain itu membatasi UMKM kita,” ujarnya.
Di tengah tantangan tersebut, Dinas Koperasi mulai membuka peluang bagi UMKM Batam untuk menembus pasar ekspor.
Baca Juga: BP Batam Kawal Pembangunan Sekolah Rakyat Merah Putih di Rempang, Target Rampung 2028
Pihaknya berkoordinasi dengan sejumlah lembaga pemerintah yang menangani fasilitasi ekspor agar pelaku usaha yang memiliki potensi dapat memperoleh pendampingan, termasuk memahami prosedur ekspor dan menjalin akses ke pasar luar negeri.
Salah satu negara yang menjadi sasaran pengembangan pasar adalah Singapura. Pemerintah juga telah mempertemukan pelaku UMKM dengan calon investor sebagai upaya membuka peluang kerja sama.
“Kadang-kadang ada beberapa pelaku mikro kita yang diarahkan. Mereka difasilitasi dan dibantu bila ada pelaku UMKM kita yang mau ekspor,” kata Salim.
Ia menegaskan, pendampingan tersebut merupakan bagian dari strategi agar pemanfaatan pemasaran digital tidak hanya meningkatkan penjualan di Batam, tetapi juga mampu memperluas pasar hingga tingkat nasional dan internasional.
Menurutnya, proses menuju UMKM naik kelas membutuhkan tahapan yang berkelanjutan. Karena itu, setelah pelatihan selesai, pemerintah tetap akan mendampingi pelaku usaha sekaligus membantu mengatasi berbagai kendala yang muncul saat produk mulai dipasarkan lebih luas.
Editor : Yofi Yuhendri