batampos – Pesatnya pembangunan kawasan industri, pelabuhan, dan infrastruktur di Batam membawa dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi. Namun, di balik ekspansi tersebut, kawasan hutan mangrove sebagai benteng alami pesisir menghadapi tekanan akibat aktivitas penimbunan dan reklamasi.
Pemerhati lingkungan sekaligus pendiri Akar Bhumi Indonesia (ABI), Hendrik Hermawan, mengingatkan bahwa keberadaan mangrove memiliki peran vital bagi Batam sebagai wilayah kepulauan. Selain melindungi garis pantai dari abrasi dan gelombang, mangrove juga menjadi habitat berbagai biota laut serta sumber penghidupan masyarakat pesisir.
"Serius, gawat. Kekuatan Batam itu sebenarnya ada pada mangrove yang melindungi pesisir kita. Di tengah perubahan iklim seperti sekarang, bakau sangat penting. Bukan hanya menjadi ruang hidup nelayan, tetapi juga benteng bagi masyarakat yang tinggal di daratan," kata Hendrik.
Menurutnya, hilangnya kawasan mangrove akan meningkatkan risiko abrasi, banjir rob, hingga dampak perubahan iklim yang semakin sulit dikendalikan.
Rempang Miliki Kawasan Mangrove Terbesar
Hendrik menjelaskan, luas kawasan mangrove di Batam diperkirakan mencapai sekitar 17 ribu hektare yang berada di dalam kawasan hutan, ditambah sekitar 404 hektare di luar kawasan hutan.
Dari seluruh kawasan tersebut, Pulau Rempang disebut masih memiliki hamparan mangrove terbesar di Batam.
Namun, kawasan dengan nilai ekologis tinggi itu juga menjadi salah satu wilayah yang menghadapi tekanan pembangunan.
"Yang paling besar itu ada di Rempang. Dan itu juga terancam," ujarnya.
Menurut Hendrik, setiap rencana pembangunan di kawasan pesisir harus mempertimbangkan keberlanjutan ekosistem mangrove karena kerusakan yang terjadi tidak mudah dipulihkan dalam waktu singkat.
Rehabilitasi Mangrove Tidak Cukup Sekadar Menanam
Selama hampir 12 tahun, Akar Bhumi Indonesia mendampingi berbagai program rehabilitasi mangrove di Batam.
Organisasi tersebut telah mendampingi pemulihan sekitar 220 hektare kawasan hutan lindung mangrove di Piayu dan Sei Beduk. Selain itu, rehabilitasi juga dilakukan pada sekitar 90 hektare kawasan pesisir dan laut serta 10 hektare kawasan daratan.
Hendrik menegaskan keberhasilan rehabilitasi tidak ditentukan dari banyaknya bibit yang ditanam.
"Membuat bibit saja sudah sulit. Menjadikannya tumbuh menjadi pohon jauh lebih sulit," katanya.
Ancaman terhadap bibit mangrove tidak hanya berasal dari kondisi alam, tetapi juga pencemaran limbah rumah tangga, sampah plastik, dan aktivitas manusia di kawasan pesisir.
Untuk meningkatkan tingkat keberhasilan, ABI melibatkan masyarakat pesisir, khususnya nelayan, dalam proses penanaman dan pemeliharaan mangrove.
Menurut Hendrik, pendekatan tersebut mampu meningkatkan tingkat keberhasilan hidup tanaman hingga sekitar 90 persen.
Dipantau Selama Tiga Tahun
Setiap lokasi rehabilitasi mangrove yang dilakukan ABI tidak hanya ditanami, tetapi juga dipantau secara berkala.
Pemeliharaan dilakukan selama tiga tahun dengan monitoring setiap dua bulan sekali atau sedikitnya 18 kali hingga tanaman dinyatakan tumbuh dengan baik.
Setiap kunjungan mencatat perkembangan tanaman, tingkat kematian bibit, kebutuhan penyulaman, hingga kondisi lingkungan seperti sampah dan endapan lumpur yang dapat memengaruhi pertumbuhan mangrove.
"Penanaman harus dilakukan secara bertanggung jawab. Tidak cukup hanya menanam, tetapi juga harus disertai laporan perkembangan dan monitoring sampai pohonnya benar-benar tumbuh," ujar Hendrik.
Penimbunan Pesisir Jadi Ancaman
Penyuluh Kehutanan KPHL Unit II Batam, Rio Bernath, juga mengakui kawasan mangrove Batam masih menghadapi tekanan akibat aktivitas penimbunan pesisir.
"Ada gangguan yang terjadi, salah satunya penimbunan-penimbunan di setiap pesisir," katanya.
Menurut Rio, pemerintah terus mendorong kolaborasi dengan sektor swasta, komunitas lingkungan, dan masyarakat untuk mempercepat rehabilitasi kawasan mangrove.
KPHL Unit II Batam juga memberikan pendampingan mulai dari penentuan lokasi, teknik penanaman, hingga pemeliharaan bersama berbagai komunitas lingkungan.
"Kami terus berkoordinasi dalam proses pemulihan dan pemeliharaan. Apa yang ditanam belum tentu semuanya hidup. Karena itu perlu pengawasan dan kontrol secara berkala," ujarnya.
Menjaga Mangrove untuk Masa Depan Batam
Di tengah ambisi Batam berkembang sebagai kota industri, perdagangan, dan investasi, Hendrik menilai pelestarian mangrove harus menjadi bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan.
Menurutnya, menjaga mangrove bukan berarti menghambat investasi, melainkan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak meninggalkan kerusakan lingkungan yang berdampak bagi generasi mendatang.
"Kalau kita kehilangan mangrove, kita juga kehilangan kemampuan untuk bertahan hidup. Kita kehilangan spirit kita," katanya.
Ia berharap pembangunan di kawasan pesisir tetap mengedepankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan, sehingga mangrove sebagai benteng alami Batam tetap terjaga di tengah pesatnya pembangunan. (*)
Editor : Putut Ariyo