PDPM Batam: Amsakar-Li Claudia Mulai Wujudkan Visi Besar Habibie

Muhammad Sya'ban • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 13:39 WIB
Ketua PDPM Kota Batam, Mahayudin. F.Dok/PDPM untuk Batam Pos
Ketua PDPM Kota Batam, Mahayudin. F.Dok/PDPM untuk Batam Pos
 
batampos - Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Batam menilai duet kepemimpinan Wali Kota Batam sekaligus Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota sekaligus Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra mulai menghidupkan kembali gagasan besar Presiden ke-3 Republik Indonesia, B.J. Habibie. 

Batam dinilai tidak lagi hanya bertumpu pada industri manufaktur konvensional, melainkan perlahan bertransformasi menjadi kawasan industri berteknologi tinggi (high-tech hub) dan ekonomi digital.

Ketua PDPM Kota Batam, Mahayudin, mengatakan arah pembangunan tersebut terlihat dari perubahan struktur investasi yang kini mulai didominasi sektor-sektor bernilai tambah tinggi.

Menurut dia, capaian realisasi investasi Batam pada Semester I 2026 yang mencapai Rp29,89 triliun atau tumbuh 62,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi sinyal kuat meningkatnya kepercayaan investor global terhadap Batam.

Baca Juga: Pengguna QRIS Tembus 63 Juta, Akses Pembiayaan UMKM Dinilai Masih Belum Optimal

“Capaian investasi ini menunjukkan Batam mulai bergerak menuju visi yang sejak awal dirancang B.J. Habibie, yakni sebagai pusat industri berteknologi tinggi yang mampu bersaing di tingkat internasional,” kata dia, Kamis (6/8/2026).

Ia menjelaskan, transformasi tersebut tidak hanya tercermin dari besarnya nilai investasi, tetapi juga dari perubahan sektor yang menjadi tujuan investor.

Data Semester I 2026 menunjukkan investasi terbesar kini berasal dari sektor jasa lainnya yang didominasi pembangunan pusat data (data center) dengan nilai Rp6,09 triliun. Posisi berikutnya ditempati industri mesin dan elektronika sebesar Rp6,07 triliun, disusul industri kimia dan farmasi senilai Rp3,97 triliun.

Menurut Mahayudin, komposisi investasi tersebut menunjukkan Batam mulai meninggalkan ketergantungan pada industri padat karya menuju industri berbasis teknologi, digitalisasi, dan manufaktur berteknologi tinggi.

Lompatan tersebut, kata dia, semakin terlihat dengan masuknya sejumlah investasi strategis, salah satunya kerja sama penyediaan pasokan listrik antara PT PLN Batam dan PT Altiva Identity Data Center untuk mendukung pembangunan pusat data berskala internasional di Batam.

“Ini bukan lagi sekadar membangun kawasan industri biasa. Yang sedang dibangun adalah ekosistem teknologi tinggi yang mampu menarik investasi global,” ujarnya.

Menurut Mahayudin, langkah pemerintah mempercepat pelayanan perizinan, memperkuat infrastruktur digital, serta membangun iklim investasi yang lebih kompetitif merupakan implementasi nyata dari cetak biru pembangunan Batam yang pernah dirancang B.J. Habibie.

Habibie, kata dia, sejak awal tidak membangun Batam hanya sebagai kawasan perdagangan bebas. Selama memimpin Otorita Batam pada 1978–1998, Habibie merancang Batam sebagai pusat industri modern yang mampu bersaing langsung dengan Singapura.

Visi tersebut diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur berskala internasional, mulai dari Jembatan Barelang yang menghubungkan enam pulau, Bandara Hang Nadim dengan landasan pacu sepanjang 4.025 meter, pengembangan pelabuhan laut dalam Batuampar dan Kabil, hingga pembangunan jaringan waduk untuk menjamin pasokan air bagi industri.

Menurut Mahayudin, konsep pembangunan Habibie juga dikenal melalui Balloon Theory, yakni menjadikan Batam sebagai kawasan yang siap menampung limpahan investasi ketika Singapura menghadapi keterbatasan lahan dan tenaga kerja.

“Konsep itu sekarang mulai menemukan momentumnya. Ketika Singapura semakin padat dan biaya industrinya meningkat, Batam harus siap menjadi kawasan alternatif dengan infrastruktur dan ekosistem yang lebih kompetitif,” katanya.

Baca Juga: Kapolsek Lubuk Baja Ungkap Alasan Penghentian Laporan Dugaan Membawa Anak Tanpa Izin

Ia menilai keberhasilan Batam memperoleh kepercayaan investor dari Singapura, Hong Kong, Korea Selatan, dan sejumlah negara lainnya menunjukkan strategi tersebut mulai berjalan.

Namun Mahayudin mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak boleh hanya diukur dari besarnya angka investasi.

Visi Habibie juga menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai fondasi utama agar masyarakat lokal mampu menjadi pelaku, bukan sekadar penonton, dalam pertumbuhan ekonomi Batam.

Karena itu, pengembangan pendidikan vokasi, sekolah berbasis teknologi, pelatihan tenaga kerja, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia harus berjalan beriringan dengan masuknya investasi.

“Habibie tidak hanya membangun jalan, pelabuhan, dan kawasan industri. Beliau juga ingin Batam melahirkan tenaga kerja yang menguasai teknologi dan mampu bersaing secara global. Itu yang harus terus dilanjutkan,” ujarnya.

Ia berharap transformasi ekonomi Batam tetap dijalankan secara berkelanjutan dengan menjaga keseimbangan antara investasi, pembangunan infrastruktur, perlindungan lingkungan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Keberhasilan Batam nantinya bukan hanya diukur dari banyaknya investasi yang masuk, tetapi dari kemampuan kota ini menciptakan lapangan kerja berkualitas, memperkuat ekonomi masyarakat, dan menjaga semangat besar yang pernah diwariskan B.J. Habibie,” kata Mahayudin. (*)

Editor : Yofi Yuhendri
PDPM BJ Habibie investasi ekonomi Amsakar Achmad Li Claudia Chandra