batampos – Upaya menjaga fasilitas transportasi publik di Kota Batam masih menghadapi tantangan. Sejumlah halte Trans Batam kembali mengalami kerusakan akibat aksi vandalisme, mulai dari coretan pada dinding, rambu yang patah, hingga fasilitas pendukung yang tidak lagi dalam kondisi baik.
Namun, keterbatasan anggaran membuat Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batam belum dapat melakukan perbaikan secara menyeluruh terhadap seluruh halte yang tersebar di berbagai wilayah.
Kepala UPT Pelayanan Jasa Transportasi Dishub Batam, Bambang Sucipto, mengatakan pemeliharaan halte dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan fasilitas yang kondisinya paling membutuhkan penanganan.
Baca Juga: Niat Lapor Penipuan, Nenek di Batuaji Malah Dibantu Kabid Propam Polda Kepri
“Perawatan halte itu dilakukan secara berkala. Tapi memang tidak semua halte bisa langsung masuk program revitalisasi. Kami prioritaskan yang kondisinya sudah harus segera diperbaiki,” ujar Bambang kepada Batam Pos, Kamis (6/8).
Ia menjelaskan, dalam program revitalisasi tahun ini, Dishub Batam hanya dapat menangani lima halte. Beberapa lokasi yang masuk daftar perbaikan berada di kawasan Batam Centre, seperti halte depan Mustafa Plaza dan depan Kantor Pos Batam Centre, serta satu halte di kawasan Bengkong.
Sementara dua titik lainnya juga telah masuk dalam daftar penanganan.
Di luar program revitalisasi tersebut, Dishub tetap melakukan perbaikan secara situasional apabila ditemukan kerusakan yang mengganggu pelayanan kepada pengguna Trans Batam.
Menurut Bambang, sebagian kerusakan yang terjadi disebabkan aksi vandalisme. Untuk mengatasinya, petugas melakukan perbaikan sederhana secara swakelola, seperti pengecatan ulang terhadap halte yang dicoret.
“Kalau ada vandalisme yang cukup parah, misalnya dicoret-coret, kami kerahkan anggota untuk membeli cat secara swakelola. Itu upaya yang kami lakukan,” katanya.
Selain memperbaiki bagian halte yang rusak, petugas juga melakukan pemeliharaan rutin, seperti membersihkan rumput di sekitar halte hingga memperbaiki fasilitas kecil yang mengalami kerusakan.
Baca Juga: Isu Penutupan PT Ghimli Indonesia Muncul, Disnaker Kepri Pastikan Industri Garmen Batam Masih Stabil
“Kalau sepanjang perjalanan ada halte yang rumputnya tinggi kami potong. Kalau catnya sudah kusam dan tidak enak dilihat, kami lakukan pengecatan seperlunya,” jelasnya.
Bambang mengatakan kondisi halte juga terus dipantau melalui petugas Trans Batam yang berada di lapangan. Setiap temuan kerusakan akan segera dilaporkan untuk ditindaklanjuti.
“Misalnya ada rambu halte patah atau miring, anggota di bus akan melapor dan kami kirim tim untuk memperbaikinya,” ujarnya.
Meski demikian, pengawasan terhadap aksi vandalisme masih menjadi kendala. Bambang menyebut sebagian besar perusakan dilakukan pada malam hari ketika aktivitas di sekitar halte mulai sepi.
Karena itu, Dishub Batam lebih mengedepankan edukasi dan imbauan kepada masyarakat agar ikut menjaga fasilitas publik.
“Kami hanya bisa mengimbau masyarakat melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok. Kalau melihat pelakunya tentu kami tegur, tetapi biasanya mereka melakukannya malam hari,” katanya.
Baca Juga: Bapenda Batam Jemput Bola Lewat Si Bijak, Bayar Pajak Kini Bisa di Mal hingga Kampus
Hingga kini, Dishub Batam belum memasang kamera pengawas (CCTV) di halte maupun membawa kasus vandalisme ke ranah hukum. Menurut Bambang, tingkat kerusakan yang terjadi masih dapat ditangani melalui perbaikan rutin.
“Belum sampai memasang CCTV. Biasanya kami cukup memperbaiki seperlunya karena masih ada jeda, tidak setiap hari dirusak lagi,” pungkasnya. (*)
Editor : M Tahang