8.000 Keluarga Kampar di Batam Jadi Modal Perkuat Persaudaraan Melayu

Rengga Yuliandra • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 13:40 WIB
KBKK dan LAM Batam Kota menggelar silaturahmi dan berbagi sembako. Foto: Istimewa
KBKK dan LAM Batam Kota menggelar silaturahmi dan berbagi sembako. Foto: Istimewa

batampos – Jumlah keluarga besar Kabupaten Kampar di Batam yang mencapai sekitar 8.000 kepala keluarga menjadi modal besar untuk memperkuat persaudaraan masyarakat Melayu di kota industri tersebut.

Kekuatan komunitas itu coba diterjemahkan Keluarga Besar Kabupaten Kampar (KBKK) Kota Batam melalui berbagai kegiatan sosial dan silaturahmi. Salah satunya bersama Lembaga Adat Melayu (LAM) Kecamatan Batam Kota di Ocean Seafood, KBC, Batam Center, Minggu (9/8).

Dalam kegiatan tersebut, KBKK bersama LAM Batam Kota membagikan sembako kepada warga KBKK dari Kecamatan Batam Kota, Batu Ampar, dan Bengkong. Namun, bagi KBKK, kegiatan itu bukan sekadar agenda berbagi bantuan.

Baca Juga: 8.000 Warga Meriahkan Pawai Pembangunan HUT ke-81 RI di Batam

Ketua Umum KBKK Kota Batam, Darwizar, mengatakan, kegiatan sosial harus menjadi pintu untuk memperkuat hubungan antarmasyarakat sekaligus memperluas manfaat organisasi.

“Acara ini tidak akan berhenti sampai di sini. Kita akan tetap lanjutkan ke kecamatan-kecamatan lain,” ujar Darwizar.

KBKK Kota Batam saat ini telah memiliki kepengurusan di 12 kecamatan. Jika jumlah keluarga mencapai sekitar 8.000 kepala keluarga, total anggota keluarga yang terhimpun diperkirakan mencapai 16 ribu orang.

Menurut Darwizar, besarnya jumlah anggota tersebut bukan sekadar angka. Potensi itu harus diarahkan untuk membangun kebersamaan dan memberikan kontribusi bagi masyarakat Batam.

“Insya Allah bulan depan atau paling lambat Oktober, kita akan adakan di Kecamatan Nongsa dan Sungai Beduk. Untuk Galang dan Bulang, mungkin kita bikin acara tersendiri,” katanya.

Di balik agenda sosial tersebut, ada misi yang lebih besar yang ingin dibangun KBKK. Darwizar menyebut organisasi keluarga Kampar itu ingin ikut menjaga marwah Melayu di Batam.

Baca Juga: Dispar Kepri Ingatkan Operator Pompong, Keselamatan Wisatawan Harus Jadi Prioritas

Menurut dia, perbedaan asal daerah tidak semestinya menjadi alasan masyarakat Melayu terpecah. Melayu daratan maupun Melayu Kepulauan Riau memiliki akar persaudaraan yang sama.

“Jangan membeda-bedakan lagi. Melayu Daratan ataupun Melayu Kepulauan Riau itu sama,” tegasnya.

Darwizar mengatakan perbedaan identitas daerah semestinya tidak lagi menjadi bahan untuk saling menjauhkan. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kekuatan jika diarahkan pada persaingan yang sehat.

“Kalau bersaing, bersaing dalam kebaikan itu bagus. Kita akan kuatkan Melayu di Kota Batam ini,” ujarnya.

Komitmen tersebut juga ditunjukkan melalui kesiapan KBKK untuk mendukung keberadaan LAM Kota Batam. Darwizar bahkan menyatakan KBKK siap mengambil peran lebih besar dalam kegiatan kelembagaan adat Melayu.

“KBKK siap menjadi garda terdepan di Lembaga Adat Melayu Kota Batam. Kalau diminta. Tak diminta pun kita akan masuk ke situ,” katanya yang disambut tepuk tangan.

Sementara itu, Ketua LAM Kecamatan Batam Kota Dato’ H. Wan Gamalyardi mengatakan, kegiatan bersama KBKK menjadi bagian dari upaya membangun kepedulian dan kebersamaan di tengah masyarakat.

Menurut dia, keberadaan organisasi adat maupun kemasyarakatan harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Tidak hanya melalui kegiatan seremonial, tetapi juga lewat aksi sosial dan kepedulian terhadap warga.

Semangat tersebut yang kemudian mendorong LAM Batam Kota dan KBKK untuk memperluas kegiatan serupa ke wilayah lain. Harapannya, manfaat kegiatan tidak hanya dirasakan warga di tiga kecamatan yang telah mendapat bantuan.

Tiga Dekade Menjaga Kebersamaan

Konsolidasi KBKK di Batam juga tidak terlepas dari perjalanan panjang organisasi keluarga Kampar tersebut.

Darwizar mengatakan, KBKK Kota Batam baru saja menggelar Musyawarah Besar (Mubes) ke-6. Dalam forum tersebut, dia kembali dipercaya memimpin organisasi untuk periode kepengurusan keenam.

Baca Juga: Kostum Satwa Asia hingga Manusia Egrang Memukau Wisatawan di BRNP 2026

Jika satu periode berlangsung lima tahun, enam periode berarti sekitar 30 tahun. Namun, menurut Darwizar, keberadaan organisasi keluarga Kampar di Batam bahkan sudah ada sebelum menggunakan nama KBKK.

“Kalau satu KBKK itu lima periode, enam periode sudah 30 tahun. Bahkan sebelum 30 tahun itu kita sudah ada nama IKK di Kota Batam ini,” ungkapnya.

Perjalanan panjang tersebut menjadi modal untuk menjaga eksistensi organisasi sekaligus memperkuat peran komunitas Kampar di tengah masyarakat Batam yang semakin heterogen.

Darwizar berharap semangat kebersamaan tidak berhenti pada generasi saat ini. Identitas budaya, menurut dia, tetap dapat dipertahankan tanpa harus membangun sekat dengan kelompok masyarakat lain.

Menjaga identitas Melayu, kata dia, justru harus menjadi jalan untuk memperkuat persaudaraan dan memperbesar kontribusi masyarakat bagi Batam. (*)

Editor : M Tahang
KBKK LAM Batam Kota marwah Melayu