batampos – Harapan warga Bengkong dan Batuampar, Batam, untuk segera terbebas dari ketergantungan air tangki kembali tertunda. Proyek pemasangan jaringan pipa air bersih yang sebelumnya ditargetkan rampung pada Juli kini mundur. BP Batam menargetkan jaringan tersebut mulai dialiri pada September 2026.
Keterlambatan itu membuat ribuan rumah di kawasan terdampak masih mengandalkan mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Persoalannya, distribusi air tangki dalam beberapa hari terakhir juga dikeluhkan warga karena pasokan terlambat hingga tidak datang.
Kondisi tersebut membuat pengurus RT dan RW ikut menghadapi keluhan warga. Mereka harus mencari solusi ketika kebutuhan air rumah tangga tidak terpenuhi, sementara jaringan pipa yang diharapkan menjadi solusi permanen belum juga beroperasi.
Baca Juga: 25 WNA Vietnam Pelaku Scam Trading Dideportasi dari Batam
Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan pekerjaan pemasangan jaringan pipa menuju kawasan Bengkong dan Batuampar masih terus dilakukan. Sejumlah wilayah yang selama ini mengalami gangguan pasokan, termasuk Sengkuang dan Batu Merah, disebut sudah mendekati tahap akhir.
“Daerah yang terdampak besar seperti Sengkuang, yang selama ini pemasangan pipanya sudah hampir selesai. Mudah-mudahan di September itu sudah bisa teraliri (air),” kata Denny, Selasa (11/8/2026).
Pernyataan tersebut sekaligus menggeser target penyelesaian proyek yang sebelumnya diharapkan rampung pada Juli. Artinya, warga masih harus mengandalkan skema distribusi sementara hingga jaringan baru benar-benar tersambung dan beroperasi.
Di lapangan, distribusi melalui mobil tangki juga belum sepenuhnya berjalan mulus. Sejumlah warga mengeluhkan pasokan yang tidak datang sesuai kebutuhan. Alasan yang diterima warga antara lain berkaitan dengan kendala teknis maupun kendaraan pengangkut air.
Bagi warga, kondisi tersebut tetap menjadi persoalan karena air merupakan kebutuhan dasar yang harus tersedia setiap hari untuk mandi, memasak, mencuci, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Pengurus lingkungan di kawasan terdampak pun ikut merasakan tekanan. Keluhan warga terkait keterlambatan pasokan air tangki kembali disampaikan kepada RT dan RW.
Denny mengakui pelayanan air di Batam saat ini memang belum sepenuhnya stabil. Karena itu, masyarakat, pelaku usaha, dan seluruh pengguna air diminta lebih bijak dalam menggunakan air.
Baca Juga: Indonesia-Malaysia-Singapura Perkuat Keamanan Selat Malaka
“Memang kondisi pelayanan air untuk saat ini belum begitu stabil,” tuturnya.
Menurut Denny, persoalan ketersediaan air di Batam berkaitan erat dengan kondisi sumber air baku. Berbeda dengan daerah yang memiliki sumber mata air besar, Batam sangat bergantung pada air hujan yang ditampung melalui waduk.
“Batam tidak punya sumber mata air dan kita sangat bergantung pada tadah hujan. Kita harus menjaga daerah tangkapan air, hutan dan lain-lain,” ujarnya.
Kebutuhan air juga terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, permukiman, serta aktivitas industri. Karena itu, ketersediaan air baku harus dijaga bersamaan dengan pembangunan dan peningkatan jaringan distribusi.
Denny meminta masyarakat turut berperan dengan mengurangi penggunaan air secara berlebihan.
“Yang kedua, kita harus bijak dalam penggunaan air,” katanya.
Pembangunan jaringan pipa Bengkong-Batuampar diharapkan dapat mengurangi ketergantungan warga terhadap mobil tangki. Setelah jaringan tersambung dan beroperasi, pasokan air dapat disalurkan langsung kepada pelanggan di kawasan yang selama ini mengalami gangguan.
Baca Juga: Amsakar Ingatkan Jebakan Popularitas dan Pencitraan di Era Digital
Namun, sampai jaringan tersebut benar-benar mengalir, warga masih membutuhkan kepastian distribusi air tangki. Sebab, kebutuhan masyarakat tidak bisa menunggu hingga proyek selesai.
BP Batam berharap kawasan dengan dampak gangguan pasokan paling besar, termasuk Sengkuang dan Batu Merah, dapat segera dialiri setelah pekerjaan jaringan selesai.
“Insya Allah di September itu sudah mulai beroperasi,” kata Denny.
Dengan target baru tersebut, warga kini kembali menunggu kepastian. Selama jaringan belum beroperasi penuh, distribusi air melalui mobil tangki masih menjadi penyangga utama agar kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi. (*)
Editor : M Tahang