batampos - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq mengingatkan siswa agar tidak langsung mempercayai informasi yang diperoleh dari kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Perkembangan teknologi tersebut harus diimbangi kemampuan berpikir kritis dan memeriksa informasi berdasarkan data.
Fajar mengatakan, AI dapat membantu siswa memperoleh dan mengolah pengetahuan dengan cepat. Namun, informasi yang dihasilkan tetap perlu diperiksa kebenarannya.
“AI sebenarnya kita bisa menambah pengetahuan secara cepat dan efisien. Tapi tidak kalah penting kita harus punya kemampuan berpikir kritis,” kata Fajar saat ditemui di Batam, Rabu (12/8).
Menurutnya, tidak semua informasi yang terlihat benar memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, siswa harus terbiasa menyaring informasi, mencari bukti, dan menarik kesimpulan berdasarkan data.
“Semua informasi yang kita terima harus difilter, disaring kembali. Ada juga informasi yang seakan-akan benar tapi belum tentu benar,” ujarnya saat ditanya pers cilik SMA Negeri 20 Batam.
Fajar menilai kemampuan berpikir kritis, kepekaan, hati nurani, dan pertimbangan etika merupakan aspek manusia yang tidak dapat begitu saja digantikan AI.
“Yang saya tekankan latih kemampuan berpikir, kepekaan, hati nurani sebagai manusia. Kita punya hati dan rasa yang tak bisa dimiliki oleh AI,” katanya.
Ia juga mengingatkan siswa agar menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dan tetap memperhatikan etika.
Untuk memperkuat kemampuan berpikir berbasis bukti, pemerintah mendorong pendidikan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Menurut Fajar, pendekatan tersebut penting agar siswa terbiasa mengambil kesimpulan berdasarkan data dan tidak mudah percaya terhadap informasi tanpa bukti.
“Berpikir menggunakan bukti dan data, itu yang harus kita perbaiki dan pemerintah sedang melakukannya,” ujarnya. (*)
Editor : Yofi Yuhendri