Setahun Mati Air, 500 KK di Kampung Tua Dapur 12 Batam Menjerit

Jamaluddin Lobang • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 11:47 WIB
Warga Kampung Tua Dapur 12, Kelurahan Sei Pelunggut, Kecamatan Sagulung, Batam, terpaksa membeli air bersih dari mobil tangki akibat distribusi air yang tidak mengalir selama lebih dari setahun. Kondisi tersebut membuat biaya kebutuhan air rumah tangga meningkat. F. Jamaluddin / Batam Pos
Warga Kampung Tua Dapur 12, Kelurahan Sei Pelunggut, Kecamatan Sagulung, Batam, terpaksa membeli air bersih dari mobil tangki akibat distribusi air yang tidak mengalir selama lebih dari setahun. Kondisi tersebut membuat biaya kebutuhan air rumah tangga meningkat. F. Jamaluddin / Batam Pos

batampos – Krisis air bersih kembali dikeluhkan warga Kampung Tua Dapur 12, Kelurahan Sei Pelunggut, Kecamatan Sagulung, Kota Batam. Lebih dari setahun terakhir, ratusan kepala keluarga mengaku kesulitan mendapatkan pasokan air bersih, bahkan kondisi tersebut semakin memburuk dalam dua bulan terakhir.

Akibat distribusi air yang tidak lancar, warga terpaksa membeli air dari mobil tangki (lori) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit, mencapai puluhan ribu hingga Rp100 ribu per meter kubik, tergantung volume air yang dibeli.

Lebih dari 500 KK Terdampak

Ketua RT 02/RW 09 Kelurahan Sei Pelunggut, Mursidi, mengatakan aliran air sebenarnya sempat mengalir pada tahun lalu. Namun, belakangan distribusi kembali terhenti sehingga warga harus mengandalkan pompa air atau Sanyo untuk menarik air.

"Harus pakai Sanyo untuk narik air," kata Mursidi kepada Batam Pos.

Namun, penggunaan pompa air bukan solusi. Menurutnya, ketika satu rumah menyalakan pompa, rumah lain justru tidak mendapatkan aliran air.

"Kalau satu warga menggunakan Sanyo, di titik lain airnya tidak mengalir," ujarnya.

Mursidi menyebut terdapat lebih dari 500 kepala keluarga yang tinggal di kawasan tersebut dan tersebar di lima RT. Wilayah yang paling terdampak berada di RT 01, RT 02, dan RT 03 RW 09.

Warga Terpaksa Cari Air ke Perumahan Lain

Karena tidak mendapatkan pasokan air, sebagian warga harus mengambil air dari rumah keluarga maupun perumahan lain yang distribusinya masih normal.

"Kadang ambil di rumah keluarga lain yang airnya hidup, di perumahan-perumahan," tutur Mursidi.

Krisis air juga berdampak pada fasilitas umum. Masjid di kawasan Kampung Tua Dapur 12 kini mengandalkan pasokan air dari mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan ibadah.

Dalam sepekan, warga bisa membeli air tangki hingga dua kali. Namun, jumlah tersebut masih belum mencukupi kebutuhan rumah tangga.

"Karena air tidak ada, warga sampai mencuci baju menggunakan jasa laundry. Air tangki yang dibeli tidak mencukupi," katanya.

Keluhan Sudah Berulang Kali Disampaikan

Menurut Mursidi, warga telah beberapa kali melaporkan persoalan tersebut kepada PT Air Batam Hilir (ABH).

Pada Juli 2026, pengurus RT juga telah mengirimkan surat pengaduan kepada perusahaan. Selain itu, warga menghubungi layanan pengaduan PT ABH untuk meminta bantuan distribusi air tangki.

Namun hingga kini, mereka mengaku belum merasakan penyelesaian yang nyata.

"Warga sudah sempat ajak demo, tapi saya tahan dulu," ujarnya.

Warga: Kami Sudah Tak Tahan Beli Air Terus

Keluhan serupa disampaikan Marlina, warga RT 02/RW 09.

Ia mengaku harus mengeluarkan biaya hingga Rp100 ribu untuk mendapatkan satu meter kubik air bersih.

Menurutnya, persoalan distribusi air di Kampung Tua Dapur 12 bukanlah masalah baru karena telah berlangsung cukup lama.

"Kami sudah tak tahan beli air terus, mahal," katanya.

Marlina juga mempertanyakan mengapa kawasan Kampung Tua mengalami mati air, sementara sejumlah perumahan di sekitarnya masih mendapatkan pasokan secara normal.

"Kadang kami bertanya, di perumahan-perumahan lain air hidup. Kenapa Kampung Tua mati total?" ujarnya.

Ancam Gelar Aksi ke BP Batam dan PT ABH

Apabila tidak ada langkah konkret dalam waktu dekat, warga berencana menggelar aksi demonstrasi ke BP Batam dan PT Air Batam Hilir (ABH).

Menurut Marlina, aksi tersebut menjadi pilihan terakhir setelah berbagai pengaduan yang disampaikan belum membuahkan hasil.

"Kami akan demo jika tidak ada tindak lanjut," tegasnya.

Warga berharap PT Air Batam Hilir segera memulihkan distribusi air bersih ke Kampung Tua Dapur 12. Jika perbaikan jaringan belum dapat dilakukan dalam waktu dekat, mereka meminta perusahaan menyediakan pasokan air tangki secara rutin agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. (*)

Editor : Putut Ariyo
krisis air Batam Kampung Tua Dapur 12 Sei Pelunggut bp batam Air Batam Hilir