batampos – Badan Pengusahaan (BP) Batam, Kepulauan Riau (Kepri), menyiapkan sejumlah langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan air baku di Kota Batam di tengah potensi dampak El Nino dan puncak musim kemarau 2026.
Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam Denny Tondano mengatakan kesiapsiagaan perlu dilakukan sejak dini untuk memastikan ketersediaan air sebagai kebutuhan dasar masyarakat tetap terjaga.
“Air merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus terpenuhi. Untuk itu, BP Batam terus melakukan pemantauan terhadap kondisi air bersih dan mengoptimalkan pengelolaan yang ada agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik, terutama ketika kita menghadapi periode kemarau,” ujar Denny dalam keterangan resmi yang diterima di Batam, Selasa (18/8/2026).
Menurut Denny, terdapat empat langkah utama yang dilakukan BP Batam bersama pengelola sistem penyediaan air minum untuk mengantisipasi potensi penurunan ketersediaan air baku.
Pantau Kondisi Waduk Secara Real-Time
Langkah pertama adalah melakukan pemantauan kondisi air baku secara real-time bersama PT Air Batam Hilir (ABH).
Data mengenai level dan kondisi air tersebut menjadi dasar dalam menentukan langkah operasional, termasuk menyesuaikan ketersediaan air baku, kapasitas produksi, serta kebutuhan masyarakat.
“Kami lakukan pemantauan kondisi air baku dilakukan secara real-time bersama PT Air Batam Hilir (ABH). Data mengenai level dan kondisi air menjadi dasar dalam menentukan langkah operasional, termasuk menyesuaikan ketersediaan air baku, kapasitas produksi dan kebutuhan masyarakat,” jelas Denny.
Langkah kedua berupa optimalisasi sistem interkoneksi jaringan antarwaduk. Sistem tersebut digunakan untuk mendukung distribusi air baku ke wilayah yang mengalami penurunan debit air.
Perkuat Reboisasi dan Daerah Tangkapan Air
Langkah ketiga adalah memperkuat program reboisasi serta perlindungan dan pelestarian Daerah Tangkapan Air (DTA).
Upaya tersebut dilakukan melalui penghijauan, menjaga kawasan resapan air, serta mencegah aktivitas yang dapat mengurangi fungsi daerah tangkapan air.
“Kami juga terus memperkuat program reboisasi serta perlindungan dan pelestarian Daerah Tangkapan Air (DTA). Upaya tersebut dilakukan melalui penghijauan, menjaga kawasan resapan serta mencegah aktivitas yang dapat mengurangi fungsi daerah tangkapan air,” katanya.
Sementara langkah keempat adalah menyiapkan pengembangan infrastruktur penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang.
Selain mengoptimalkan infrastruktur yang telah tersedia, BP Batam juga menyiapkan sejumlah alternatif sumber air, termasuk teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) untuk mengolah air laut menjadi air baku.
Denny mengatakan langkah tersebut penting karena waduk masih menjadi sumber utama air baku untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Batam.
Puncak Kemarau Diperkirakan Agustus
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada Juli hingga September 2026. Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus.
“Kesiapsiagaan dalam menghadapi perubahan kondisi iklim ini harus dilakukan sejak dini,” ujar Denny.
Di tengah kondisi tersebut, BP Batam juga mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak.
Penghematan dapat dilakukan dengan menggunakan air sesuai kebutuhan, memastikan tidak ada kebocoran pada instalasi rumah, serta mengurangi penggunaan air untuk kebutuhan sekunder selama periode kemarau.
“Menjaga sumber air tidak cukup hanya dengan membangun dan memelihara infrastruktur. Kita juga harus menjaga lingkungan di sekitar sumber air. Ini merupakan tanggung jawab bersama karena keberlanjutan air Batam sangat bergantung pada bagaimana kita menjaga alam hari ini,” tegasnya.
Kepala Humas PT Air Batam Hilir Ginda Alamsyah menambahkan, pihaknya juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat agar menggunakan air secara efisien.
“Kami lakukan edukasi ke masyarakat untuk menggunakan air sesuai kebutuhan. Kita melakukan hal tersebut dengan diseminasi informasi melalui media kita untuk memastikan masyarakat mengetahui,” kata Ginda.
BP Batam berharap kolaborasi antara pemerintah, pengelola air, dan masyarakat dapat menjaga ketersediaan air baku sekaligus memastikan pelayanan air bersih tetap berjalan selama periode kemarau. (*)
Editor : Jamil Qasim