batampos – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Kepulauan Riau (Kepri), melaporkan penurunan jarak pandang di sejumlah wilayah Batam yang diduga dipengaruhi asap dari beberapa titik api atau hotspot di Kepri.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Fitri Annisa, mengatakan jarak pandang yang biasanya mencapai sekitar 10 kilometer dalam kondisi cerah berawan kini turun hingga sekitar 6 kilometer.
“Biasanya kondisi cuaca normal, yaitu cerah berawan, jarak pandang berkisar 10 kilometer. Namun, hari ini teramati kondisi jarak pandang menurun hingga mencapai 6 kilometer,” kata Fitri di Batam, Senin (24/8/2026).
Menurutnya, penurunan jarak pandang tersebut diduga berkaitan dengan keberadaan sejumlah titik api di wilayah Kepulauan Riau, termasuk Batam.
“Menurut kami bisa jadi disebabkan penurunan visibility atau jarak pandang ini dipengaruhi oleh adanya beberapa titik api atau hotspot di wilayah Kepulauan Riau, termasuk Batam,” ujarnya.
Salah satu kebakaran terjadi di kawasan perbukitan dan semak belukar di Jalan Trans Barelang, Kelurahan Tembesi, Kecamatan Sagulung, Sabtu (22/8). Kebakaran tersebut menghanguskan lahan sekitar 35 hektare.
Asap Terbawa Angin hingga Bandara Hang Nadim
Fitri menjelaskan, meskipun titik kebakaran tidak berada di sekitar Bandara Hang Nadim, asap dapat terbawa angin hingga mencapai wilayah lain di Kota Batam.
“Walaupun titik apinya tidak berada di sekitar wilayah bandara, karena ada pengaruh angin, asap tersebut bisa sampai ke beberapa wilayah lain di Kota Batam, termasuk wilayah bandara,” katanya.
Kendati demikian, Fitri menyebut jarak pandang sekitar 6 kilometer masih memungkinkan untuk mendukung aktivitas penerbangan.
“Kalau 6 kilometer itu masih bisa. Biasanya 10 kilometer sangat jelas untuk take off, tetapi 6 kilometer masih bisa. Hanya memang tidak sejelas seperti biasanya,” ujarnya.
Penurunan jarak pandang mulai teramati pada Senin pagi sekitar pukul 06.00 WIB. Kondisi asap juga tidak merata di seluruh wilayah karena dipengaruhi pergerakan angin dan kondisi atmosfer.
“Biasanya asapnya berkumpul terlebih dahulu, kemudian bercampur dengan udara pagi. Makanya di beberapa tempat terlihat lebih tebal, sementara di lokasi lain tidak terlalu tebal,” jelas Fitri.
BMKG Pantau Kondisi Jarak Pandang
BMKG terus memantau perkembangan jarak pandang dan kondisi atmosfer di Batam. Informasi akan disampaikan kepada pemangku kepentingan terkait apabila terjadi perubahan yang berpotensi memengaruhi aktivitas masyarakat maupun penerbangan.
Fitri juga mengimbau masyarakat ikut mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan dengan tidak membuang puntung rokok sembarangan serta tidak membakar sampah maupun lahan secara sembarangan.
“Kalau melihat adanya kebakaran hutan atau lahan di sekitar, masyarakat diharapkan turut berperan aktif dalam membantu penanganan dan melaporkannya kepada pihak terkait,” pungkasnya. (*)
Editor : Jamil Qasim