Batam Cetak Sejarah! Operasi Aneurisma Otak Kini Bisa Dilakukan di RSUD Embung Fatimah

Jamaluddin Lobang • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:56 WIB
(Foto Kiri) Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin (kanan) mengunjungi pasien yang telah menjalani operasi Proctoring Clipping Cerebral Aneurysma di RSUD Embung Fatimah Batam, Jumat (28/8). Foto: ANTARA/Amandine Nadja
(Foto Kanan) Menkes Budi Gunadi Sadikin didampingi Sekdako Batam, Firmansyah dan Diretur RSUD Embung Fatimah (EF), drg. Raden Roro Sri Widjayanti saat kunjungan di RSUD EF, Jumat (28/8). Foto: Cecep Mulyana/Batam
(Foto Kiri) Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin (kanan) mengunjungi pasien yang telah menjalani operasi Proctoring Clipping Cerebral Aneurysma di RSUD Embung Fatimah Batam, Jumat (28/8). Foto: ANTARA/Amandine Nadja (Foto Kanan) Menkes Budi Gunadi Sadikin didampingi Sekdako Batam, Firmansyah dan Diretur RSUD Embung Fatimah (EF), drg. Raden Roro Sri Widjayanti saat kunjungan di RSUD EF, Jumat (28/8). Foto: Cecep Mulyana/Batam

batampos – Sebuah operasi yang berlangsung di ruang bedah RSUD Embung Fatimah Batam menjadi tonggak baru bagi layanan kesehatan di Kepulauan Riau. Untuk pertama kalinya, rumah sakit milik Pemerintah Kota Batam itu berhasil melakukan operasi clipping cerebral aneurysm, atau tindakan bedah untuk menangani aneurisma pembuluh darah otak.

Keberhasilan tersebut tidak hanya menyelamatkan satu pasien, tetapi juga membuka jalan menuju kemandirian layanan bedah saraf di Batam. Selama ini, pasien dengan gangguan pembuluh darah otak harus dirujuk ke Pekanbaru, Medan, atau Jakarta karena layanan tersebut belum tersedia di daerah.

Kini, harapan itu mulai hadir lebih dekat.

Operasi Perdana Jadi Tonggak Layanan Bedah Saraf

Operasi clipping cerebral aneurysm dilakukan pada Senin (24/8) oleh tim Bedah Saraf RSUD Embung Fatimah dengan pendampingan dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta.

Bagi pasien, keberadaan layanan ini bukan hanya soal kemudahan akses, tetapi juga mengurangi beban biaya perjalanan, akomodasi keluarga, hingga risiko keterlambatan penanganan akibat proses rujukan.

Dokter Spesialis Bedah Saraf RSUD Embung Fatimah, dr. Andi Nugraha Sendjaja, Sp.BS, mengatakan kemampuan tersebut lahir setelah dirinya mengikuti pendidikan fellowship dan mendapat program pengampuan dari RSPON.

"Selama ini kita rujuk ke Pekanbaru, Medan, Jakarta. Dengan bantuan pengampuan dari RS PON, kita bisa melaksanakan operasi itu di sini," ujarnya.

Fasilitas Belum Lengkap, Kemandirian Masih Berproses

Meski telah berhasil melakukan operasi perdana, RSUD Embung Fatimah belum sepenuhnya mandiri.

Sekitar 50 persen kebutuhan peralatan sudah tersedia, termasuk CT Scan angiografi dan berbagai perangkat pendukung. Namun, sejumlah alat utama seperti mikroskop bedah saraf dan peralatan endoskopi masih harus dipenuhi.

Pada operasi perdana tersebut, sebagian alat masih dipinjam melalui skema pendampingan dari rumah sakit pengampu.

"Kira-kira 50 persen sudah ada. Lima puluh persen lagi kita menunggu supaya ke depan bisa mandiri," kata Andi.

Dengan kelengkapan alat tersebut, rumah sakit diharapkan mampu melakukan operasi serupa secara rutin tanpa bergantung pada rumah sakit rujukan nasional.

SDM Sudah Siap, Tantangan Ada pada Sarana

Direktur RSUD Embung Fatimah, drg. Raden Roro Sri Widjayanti Suryandari, menilai rumah sakit sebenarnya telah memiliki sumber daya manusia yang memadai untuk mengembangkan layanan penyakit katastropik, seperti stroke, kanker, jantung, dan urologi.

Namun, pengembangan layanan masih terkendala keterbatasan fasilitas.

Menurutnya, tingginya kebutuhan pelayanan juga terlihat dari tingkat keterisian tempat tidur yang sempat mencapai 96 persen pada Juni 2026, dengan rata-rata okupansi sekitar 88 persen.

"Kemampuan kita, SDM dan dokter sudah ada. Tapi ada kendala di sarana prasarana," ujarnya.

Batam Jadi Contoh Pengembangan Layanan Daerah

Dokter Spesialis Bedah Saraf RSPON, dr. Muhammad Kusdiansah, Sp.BS, menilai keberhasilan Batam menjadi contoh bahwa layanan bedah saraf berteknologi tinggi tidak harus selalu terpusat di rumah sakit provinsi.

Menurutnya, keberhasilan tersebut didukung tiga faktor utama, yakni tersedianya dokter yang kompeten, jumlah kasus yang cukup tinggi, dan keberanian rumah sakit mengembangkan layanan melalui program pendampingan.

"Ini menjadi contoh bahwa rumah sakit kabupaten/kota itu mampu," katanya.

Meski demikian, pemerataan layanan masih menghadapi tantangan besar karena Indonesia saat ini memiliki kurang dari 600 dokter spesialis bedah saraf, sementara kebutuhan terus meningkat.

Menkes Targetkan Layanan Stroke Hadir di 514 Kabupaten/Kota

Keberhasilan operasi perdana itu mendapat perhatian langsung dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat mengunjungi RSUD Embung Fatimah, Jumat (28/8).

Menurut Budi, operasi clipping yang sebelumnya hanya bisa dilakukan di luar Batam kini sudah dapat dilakukan di kota tersebut.

"Hari ini kita melihat operasi clipping yang dilakukan oleh Embung Fatimah. Sebelumnya operasi seperti ini dilakukan di luar Batam, tapi sekarang sudah bisa dilakukan di Batam," katanya.

Pemerintah menargetkan layanan dasar untuk penyakit penyebab kematian tertinggi, seperti stroke, penyakit jantung, kanker, dan gagal ginjal, dapat tersedia di 514 kabupaten/kota di Indonesia.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah memprioritaskan penguatan fasilitas kesehatan, termasuk penyediaan CT Scan, mikroskop bedah saraf, dan peralatan medis lainnya sebelum memperluas distribusi dokter spesialis.

"Kalau dibikin, murid-muridnya dikirim, enggak ada alatnya, sebentar juga dia enggak tahan, balik lagi ke Jakarta," ujar Budi.

Pemerintah menargetkan pengadaan berbagai alat kesehatan penting dilakukan secara bertahap hingga 2027–2028, sehingga rumah sakit daerah dapat memberikan layanan yang lebih komprehensif.

Batam Jadi Tuan Rumah Pertemuan 840 Dokter Bedah Saraf

Momentum bersejarah tersebut bertepatan dengan penyelenggaraan Pertemuan Ilmiah Tahunan PERSPEBSI 2026, yang diikuti sekitar 840 dokter dan peserta dari berbagai daerah.

Kegiatan tersebut dirangkai dengan Kongres PERSPEBSI dan 30th Annual Scientific Meeting of the Indonesian Neurosurgical Society mengusung tema Neurosurgery Excellence in Care.

Forum tersebut membahas perkembangan ilmu bedah saraf sekaligus pemerataan layanan kesehatan di Indonesia.

Menteri Kesehatan mengungkapkan sekitar 600 ribu orang mengalami stroke setiap tahun di Indonesia. Karena itu, layanan kesehatan tidak lagi bisa hanya bergantung pada rumah sakit besar di kota-kota besar, melainkan harus semakin dekat dengan masyarakat.

Selain memperkuat layanan kuratif, pemerintah juga terus mendorong upaya pencegahan melalui program pemeriksaan kesehatan gratis untuk mendeteksi faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, dan obesitas.

Langkah Kecil dengan Dampak Besar

Bagi RSUD Embung Fatimah, operasi clipping cerebral aneurysm perdana memang baru satu langkah awal.

Masih ada berbagai tantangan yang harus diselesaikan, mulai dari kelengkapan peralatan, peningkatan kapasitas tenaga medis, hingga penyempurnaan sistem pelayanan.

Namun, bagi masyarakat Batam dan Kepulauan Riau, pencapaian ini membawa perubahan besar. Pasien yang sebelumnya harus menempuh perjalanan jauh ke luar daerah kini memiliki peluang mendapatkan penanganan di kota sendiri.

Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa dengan dukungan sumber daya manusia yang kompeten, fasilitas yang memadai, dan kolaborasi dengan rumah sakit rujukan nasional, layanan bedah saraf di daerah dapat berkembang menuju kemandirian. (*)

Editor : Putut Ariyo
RSUD Embung Fatimah bedah saraf aneurisma otak Kementerian Kesehatan batam