BP Batam Siapkan Rp1,2 Triliun untuk Infrastruktur, 133 Titik Banjir Ditangani Bertahap

Muhammad Syahban • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 19:31 WIB
Banjir menggenangi ruas jalan di Batuaji. F. Eusebius Sara/ Batam Pos
Ilustrasi. Banjir menggenangi ruas jalan di Batuaji. F. Eusebius Sara/ Batam Pos

batampos — Hujan di Batam kerap menyisakan persoalan yang sama, yakni genangan dan banjir. Di sejumlah ruas jalan, air tak hanya menghambat aktivitas dan mobilitas warga, tetapi juga menguji kapasitas sistem drainase di tengah pesatnya perkembangan kawasan.

Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat sebanyak 133 titik banjir dan genangan telah mendapat penanganan awal. Namun, pekerjaan tersebut belum sepenuhnya tuntas. Sejumlah titik masih membutuhkan penanganan fisik yang akan dilakukan secara bertahap hingga 2027.

Deputi Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, mengatakan penanganan jangka pendek dilakukan bersama Pemerintah Kota (Pemko) Batam. Langkah yang dilakukan antara lain normalisasi dan pelebaran saluran drainase.

“Penanganan jangka pendek berupa normalisasi dan pelebaran saluran sebagian besar telah dilakukan oleh Pemko, BP Batam, maupun CSR,” kata Mouris kepada Batam Pos melalui keterangan tertulis, Jumat (4/9) pagi.

Untuk pekerjaan fisik, baru tiga kegiatan yang telah diselesaikan. Sementara kegiatan lainnya masuk dalam rencana pengerjaan 2026–2027 secara bertahap.

Mouris menjelaskan, 133 titik tersebut merupakan hasil identifikasi terhadap kondisi eksisting jaringan drainase di Batam. Data itu menjadi dasar pemerintah untuk menentukan lokasi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Persoalan banjir di lapangan tidak semata-mata disebabkan tingginya curah hujan. Sejumlah saluran menghadapi berbagai persoalan, mulai dari tumpukan sampah, sedimentasi, saluran yang tidak terawat, hingga saluran alam yang belum memiliki konstruksi permanen.

“Masih terdapat saluran alam/nonpermanen yang belum memiliki konstruksi permanen,” ujarnya.

Selain itu, terdapat bangunan yang berdiri di badan atau trase saluran. Kondisi tersebut berpotensi mempersempit ruang aliran air. Pertumbuhan kawasan juga membuat kapasitas sejumlah saluran tidak lagi sebanding dengan kebutuhan.

“Dimensi saluran belum sesuai kebutuhan, terutama seiring meningkatnya pembangunan dan perkembangan kawasan,” katanya.

Persoalan lainnya adalah penyempitan saluran dan trase yang berbelok-belok. Kondisi tersebut dapat memperlambat aliran air, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.

“Perlambatan aliran juga dipengaruhi penyempitan saluran serta trase saluran yang berbelok-belok,” ujar Mouris.

BP Batam bersama Pemko Batam melalui Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) melakukan sejumlah langkah penanganan. Di antaranya membersihkan sampah dan sedimentasi, menertibkan bangunan yang mengganggu trase saluran, serta meningkatkan kapasitas jaringan drainase secara bertahap.

Pemeliharaan juga menjadi bagian penting. Sebab, pembangunan saluran tanpa perawatan berkelanjutan berpotensi membuat kapasitas drainase kembali menurun.

20 Titik Masuk Program Drainase 2026–2027

Untuk memperbaiki jaringan drainase yang membutuhkan peningkatan, BP Batam menyiapkan program pada 20 titik. Pekerjaan meliputi pembangunan dan peningkatan drainase, pembangunan jembatan serta bangunan pelintas saluran, hingga pemeliharaan dan normalisasi.

Lokasinya tersebar di sejumlah kawasan Batam. Di antaranya Cendana–KDA, Tanjung Piayu, Melcem Batu Ampar, Simpang Kabil, Green Nongsa Batu Besar, Kampung Belian, Sei Binti, Sei Lekop, Tiban, Bengkong Palapa, Tembesi, Permata Laguna, hingga kawasan industri Sagulung.

Program tersebut tidak hanya menyasar pembangunan baru. BP Batam juga mengalokasikan pekerjaan untuk pemeliharaan dan normalisasi drainase industri, drainase jalan, serta drainase kawasan di wilayah kerja KPBPB Batam.

Untuk seluruh pekerjaan infrastruktur pada 2026, BP Batam menyiapkan anggaran mencapai Rp1,2 triliun. Anggaran tersebut terbagi dalam 94 paket, terdiri atas 74 paket konstruksi dan 20 paket nonkonstruksi.

Mouris menegaskan, penanganan terhadap 133 titik banjir tidak menggunakan satu pola pekerjaan. Penanganan disesuaikan dengan karakteristik dan persoalan di masing-masing lokasi.

“Penanganan 133 titik dilakukan secara bertahap melalui perawatan, pembersihan, penertiban, peningkatan kapasitas saluran dan bangunan pelintas,” katanya.

Targetnya bukan sekadar mempercepat surutnya air setelah hujan. BP Batam ingin membenahi jaringan drainase secara menyeluruh agar penanganan di satu titik dapat terhubung dengan sistem drainase di kawasan sekitarnya.

“Dengan target mengurangi jumlah titik genangan, banjir dan mengoptimalkan sistem drainase Kota Batam,” ujar Mouris.

Persoalan drainase menjadi semakin penting seiring Batam yang terus berkembang sebagai kawasan industri dan tujuan investasi. Pertumbuhan kawasan membawa konsekuensi terhadap kebutuhan infrastruktur, mulai dari jalan dan jembatan hingga utilitas serta sistem pengendalian air.

Karena itu, pembenahan drainase menjadi salah satu pekerjaan penting untuk memastikan perkembangan Batam tetap diimbangi dengan kesiapan infrastruktur dasar dan kemampuan kota menghadapi curah hujan tinggi. (*)

Editor : Jamil Qasim
133 Titik Banjir bp batam