BP Batam Petakan 133 Titik Banjir di Batam, Penanganan hingga 2027

Muhammad Sya'ban • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 11:11 WIB
Wakil Kepala BP Batam/Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, menunjuk lokasi penanganan drainase di Jalan S. Parman, Tanjungpiayu, Sungai Beduk, Batam, didampingi Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto. FOTO: HUMAS BP BATAM UNTUK BATAM POS
Wakil Kepala BP Batam/Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, menunjuk lokasi penanganan drainase di Jalan S. Parman, Tanjungpiayu, Sungai Beduk, Batam, didampingi Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto. FOTO: HUMAS BP BATAM UNTUK BATAM POS

batampos - Hujan deras masih menjadi tantangan bagi sistem drainase di Kota Batam, Kepulauan Riau. Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat sedikitnya 133 titik banjir dan genangan telah diidentifikasi dan mendapat penanganan awal.

Namun, persoalan di sejumlah lokasi belum sepenuhnya tuntas. Pembangunan fisik untuk meningkatkan kapasitas drainase masih dilakukan secara bertahap dan masuk dalam rencana pekerjaan hingga 2027.

Deputi Infrastruktur BP Batam Mouris Limanto mengatakan, penanganan jangka pendek dilakukan bersama Pemerintah Kota (Pemko) Batam. Upaya tersebut antara lain berupa normalisasi dan pelebaran saluran drainase.

“Penanganan jangka pendek berupa normalisasi dan pelebaran saluran sebagian besar telah dilakukan oleh Pemko, BP Batam, maupun CSR,” kata Mouris melalui keterangan tertulis kepada Batam Pos, Jumat (4/9/2026) pagi.

Dari sejumlah pekerjaan fisik yang direncanakan, baru tiga kegiatan yang telah selesai. Sementara pekerjaan lainnya dijadwalkan berlangsung secara bertahap pada 2026 hingga 2027.

Penyebab Banjir Batam Tak Hanya Hujan Deras

Pemetaan 133 titik tersebut dilakukan berdasarkan identifikasi kondisi jaringan drainase yang ada di Batam. Data tersebut menjadi dasar pemerintah untuk menentukan lokasi prioritas sekaligus jenis penanganan yang sesuai dengan persoalan di lapangan.

BP Batam menemukan sejumlah persoalan yang memengaruhi kinerja drainase. Selain curah hujan tinggi, beberapa saluran mengalami penumpukan sampah dan sedimentasi.

Sebagian saluran juga tidak terawat. Di sejumlah lokasi masih terdapat saluran alam atau nonpermanen yang belum memiliki konstruksi permanen.

“Masih terdapat saluran alam/nonpermanen yang belum memiliki konstruksi permanen,” ujar Mouris.

Persoalan lainnya adalah keberadaan bangunan di badan atau trase saluran. Kondisi tersebut dapat mempersempit ruang aliran air.

Pesatnya perkembangan kawasan Batam juga membuat kapasitas sejumlah saluran tidak lagi sebanding dengan kebutuhan.

“Dimensi saluran belum sesuai kebutuhan, terutama seiring meningkatnya pembangunan dan perkembangan kawasan,” katanya.

Selain kapasitas yang terbatas, aliran air di sejumlah saluran juga tidak optimal. Penyempitan dan trase saluran yang berbelok-belok dapat memperlambat laju air.

Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, kondisi tersebut membuat saluran tidak mampu menampung debit air secara maksimal.

“Perlambatan aliran juga dipengaruhi penyempitan saluran serta trase saluran yang berbelok-belok,” ujar Mouris.

20 Titik Drainase Masuk Program Peningkatan

BP Batam bersama Pemko Batam melalui Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) melakukan sejumlah langkah untuk mengatasi persoalan tersebut.

Penanganan meliputi pembersihan sampah dan sedimentasi, penertiban bangunan yang mengganggu trase saluran, serta peningkatan kapasitas jaringan drainase secara bertahap.

Pemeliharaan juga menjadi bagian penting. Saluran yang telah dibangun atau ditingkatkan tetap harus dirawat agar kapasitasnya tidak kembali berkurang akibat sedimentasi dan sampah.

Untuk meningkatkan jaringan drainase, BP Batam menyiapkan program pada 20 titik. Pekerjaan tersebut mencakup pembangunan dan peningkatan drainase, pembangunan jembatan dan bangunan pelintas saluran, serta pemeliharaan dan normalisasi.

Lokasinya tersebar di sejumlah kawasan, antara lain Cendana-KDA, Tanjung Piayu, Melcem Batu Ampar, Simpang Kabil, Green Nongsa Batu Besar, Kampung Belian, Sei Binti, Sei Lekop, Tiban, Bengkong Palapa, Tembesi, Permata Laguna, hingga kawasan industri Sagulung.

Program tersebut juga mencakup pemeliharaan dan normalisasi drainase industri, drainase jalan, serta drainase kawasan di wilayah kerja Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam.

Anggaran Infrastruktur BP Batam Rp1,2 Triliun

Untuk keseluruhan pekerjaan infrastruktur pada 2026, BP Batam menyiapkan anggaran sekitar Rp1,2 triliun.

Anggaran tersebut terbagi dalam 94 paket pekerjaan, terdiri atas 74 paket konstruksi dan 20 paket nonkonstruksi.

Mouris menegaskan, penanganan 133 titik banjir dan genangan tidak menggunakan satu pola yang sama. Setiap lokasi ditangani berdasarkan kondisi serta sumber persoalannya.

“Penanganan 133 titik dilakukan secara bertahap melalui perawatan, pembersihan, penertiban, peningkatan kapasitas saluran dan bangunan pelintas,” katanya.

Menurut dia, pembenahan tersebut tidak sekadar ditujukan agar air lebih cepat surut setelah hujan. BP Batam juga berupaya memperbaiki jaringan drainase sebagai sebuah sistem sehingga persoalan di satu titik tidak hanya berpindah ke lokasi lain.

“Dengan target mengurangi jumlah titik genangan, banjir dan mengoptimalkan sistem drainase Kota Batam,” ujar Mouris.

Pembenahan drainase menjadi semakin penting seiring pertumbuhan Batam sebagai kawasan industri dan tujuan investasi.

Pertambahan kawasan terbangun meningkatkan kebutuhan terhadap infrastruktur pendukung, termasuk jalan, jembatan, utilitas, dan sistem pengendalian air.

Karena itu, peningkatan kapasitas drainase menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga pertumbuhan kawasan Batam tidak diikuti bertambahnya titik banjir dan genangan setiap kali hujan deras. (*)

Editor : Putut Ariyo
drainase Batam bp batam batam banjir batam kepri