Erupsi Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, Transportasi Laut Batam Tetap Normal

Rengga Yuliandra • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 16:37 WIB
Transportasi laut menjadi moda utama yang menghubungkan konektivitas antarpulau di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), sebagai wilayah dengan geografis 96 persen lautan dan 2 persen daratan. ANTARA/Ogen
Transportasi laut di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). F.ANTARA/Ogen

 

batampos - Gangguan penerbangan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik tidak berdampak terhadap aktivitas transportasi laut di Batam. Hingga Senin (7/9), keberangkatan kapal dari sejumlah pelabuhan masih berlangsung normal.

Kepala Bidang Keselamatan Berlayar, Penjagaan, dan Penegakan Hukum (KBPP) Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Khusus Batam Yuzirwan Nasution mengatakan, sejauh ini belum ada penundaan keberangkatan kapal akibat kondisi tersebut.

“Untuk transportasi laut sejauh ini tidak ada penundaan keberangkatan,” ujar Yuzirwan.

Meski aktivitas pelayaran masih normal, KSOP Khusus Batam tetap mengingatkan nakhoda dan operator kapal memantau perkembangan cuaca serta jarak pandang selama pelayaran. Imbauan keselamatan juga diperbarui secara berkala sebagai langkah antisipasi perubahan kondisi di laut.

“Enggak ada di laut, tapi kita meminta 15 hari sekali kita tetap keluarkan surat imbauan,” katanya.

Baca Juga: Penerbangan Batam-Jakarta Batal, Tiket ke Jogja, Surabaya, Semarang Ludes

Yuzirwan secara khusus mengingatkan pelaku pelayaran terhadap potensi kabut asap yang dapat mengurangi jarak pandang.

“Kita tetap mengimbau terkait kabut asap. Agar berhati-hati selama pelayaran,” ujarnya.

Dalam imbauan tersebut, perusahaan pelayaran, nakhoda, operator kapal, dan pengguna jasa diminta rutin memantau informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Nakhoda juga diminta memastikan sarana navigasi dan komunikasi berfungsi optimal serta mengoperasikan kapal dengan kecepatan aman.

 

Pelayaran tidak boleh dipaksakan apabila cuaca memburuk atau jarak pandang sangat terbatas. Kapal yang menghadapi cuaca buruk di laut diminta mencari tempat berlindung yang aman dan melaporkan posisi serta kondisi kapal kepada syahbandar atau stasiun radio pantai (SROP) terdekat.

Khusus kapal berukuran kurang dari 35 GT, tug boat, LCT, dan Ro-Ro penumpang, keberangkatan diminta ditunda apabila kondisi cuaca belum aman. Sementara kapal berukuran lebih dari 35 GT, termasuk kapal asing dan kapal niaga lainnya, dapat melanjutkan pelayaran dengan memenuhi persyaratan keselamatan yang ditetapkan.

KSOP Khusus Batam menegaskan keselamatan tetap menjadi prioritas. Karena itu, pelaku pelayaran diminta tidak memaksakan keberangkatan apabila kondisi laut dinilai membahayakan.

Baca Juga: Erupsi Anak Krakatau Ganggu Agenda Amsakar, Sejumlah Perjalanan Batal

Sementara itu, sektor transportasi udara mengalami gangguan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Sebanyak 21 penerbangan rute Batam-Jakarta melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta dibatalkan pada Ahad (6/9).

Pembatalan terjadi setelah operasional Bandara Soekarno-Hatta dihentikan sementara menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik.

Dampaknya turut dirasakan di Bandara Internasional Hang Nadim Batam. Hingga pukul 20.04 WIB, dua penerbangan Citilink tujuan Soekarno-Hatta yang dijadwalkan berangkat pukul 19.35 WIB dan 21.20 WIB masih berstatus dibatalkan. (*)

Editor : Yofi Yuhendri
Abu Vulkanik Erupsi Anak Krakatau transportasi laut pelayaran KSOP Batam